Wanita Asal Amerika Serikat Ini yang Menembak Mati Razan Al-Najjar?

by

Razan Al Najjar, Seorang relawan medis, tewas ditembak tentara Israel saat bertugas di medan konflik, Jumat (1/6/2018).

Dikutip dari Reuters via Middle East Monitor, Al Najjar ditembak ketika dia berlari menuju pagar perbatasan, di sebelah timur kota Khan Younis, Gaza selatan, dalam upaya untuk mencapai korban yang terluka, kata seorang saksi mata.

Seorang saksi mata mengatakan, Razan sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan jelas, tetapi tentara Israel tetap melepaskan tembakan yang mengenai dadanya,” kata saksi mata, seperti dilansir Middle East Monitor, Minggu (3/6/2018).

Seorang juru bicara militer Israel tidak segera berkomentar tentang pembunuhan Al Najjar, tetapi kemudian dia mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa IDF akan ‘menyelidiki’ kematian Al Najjar.

Di rumahnya di Khan Younis, ibu al-Najjar lunglai saat melihat seragam bernoda darah putrinya.

Sebuah pernyataan dari Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan berkabung atas kematian Al-Najjar sebagai kematian yang syahid.

Seperti diketahui, Al Najjar telah bergabung bersama rekan-rekannya sebagai relawan medis sejak awal Great Return March diluncurkan.

Dia pernah mengatakan, dirinya akan terus bersama warga Palestina di aksi Great Return March sampai akhir.

Perempuan bernama Rebbeca Bunuh Razan?
Setelah peristiwa menyedihkan itu, akun Instagram @the_emancipated mengunggah sosok sniper yang diduga telah menembak mati Najjar.

Menurut keterangan akun tersebut, sniper Israel yang menembak Najjar adalah seorang wanita bernama Rebecca.

Dia bukanlah orang Israel asli. Rebbeca diketahui sebagai warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Boston.

“Inilah orang bernama Rebecca (kiri) dari Boston, dialah yang membunuh Razan Al Najjar (kanan), seorang paramedis dari Palestina berusia 21 tahun,” tulis keterangan di akun itu.

Akun tersebut juga menjelaskan bahwa Rebecca tidak punya hubungan apapun dengan Palestina.

Rebecca memilih untuk bergabung dengan Israel dan membantu pasukkan itu untuk melakukan genosida.

Melansir Tribunstyle.com dari akun Facebook IDF, Rebecca bergabung dengan Israel di usia 18 tahun.

“Meski berkewarganegaraan Amerika Serikat, pada usia 18 tahun ia meninggalkan semua yang ia punya untuk datang ke Israel dan tinggal di sana.

Ia mendaftar masuk ke Pasukan Pengaman Israel (IDF) sebagai tentara yang memiliki spesialisasi di bidang pendidikan.

Tetapi setelah itu, ia memutuskan bahwa ia lebih cocok di lapangan.

Saat ini, ia merupakan tentara terlatih di Intelijen Lapangan IDF, mempertahankan rumah yang ia tahu dan ia cintai,” dikutip dari laman Facebook IDF.

Kematian Najjar membuat Menteri Kesehatan Palestina, Jawad Awwad, menyebut tindakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masuk dalam kategori kejahatan perang.

“Aksi pasukan Israel merupakan bentuk pelanggaran langsung konvensi internasional,” kecam Awwad seperti dilansir Russian Today.

Sementara Menteri Kehakiman Palestina, Ali Abu Diak, mendesak agar Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengambil tindakan.

“Saya meminta ICC untuk mendokumentasikan kebrutalan Israel, dan menyeret mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang,” kata Diak.

Juru bicara IDF tidak memberikan penjelasan atas insiden itu.

Sementara itu, Najjar merupakan orang Palestina ke-119 yang tewas sejak protes Great Return March yang dimulai bulan Maret.

Kematian Najjar merupakan satu-satunya kematian yang terdaftar pada hari Jumat.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...