Untuk Kita yang Bacaan Qur’annya Belum Sempurna, Mari Lakukan Amal Kebaikan Ini




Mungkin ini salah satu penyesalan dari orangtua muda yang jadi generasi 80-an dan 90-an. Saat kita masih usia sekolah dasar dulu rasa-rasanya jarang sekali program tahfizh quran, shalat wajib berjamaah di masjid, shalat dhuha dan tahajjud serta ibadah-ibadah lainnya.

Dilalah anak-anak zaman sekarang, masih usia SD atau SMP sudah punya hafalan quran. Pendidikan yang memadukan unsur Islam dan umum seperti SDIT, SMPIT, SMAIT pun tumbuh subur bak kecambah di musim hujan, semarak bermunculan di berbagai daerah.

Malah olahraga memanah dan berkuda belakangan juga digandrungi oleh umat muslim di Indonesia. Padahal sebenarnya dari segi prestasi, 3 srikandi pemanah putri Indonesia pernah meraih medali perak Olimpiade pada tahun 1988.

Tapi kok yaa olahraga memanah baru populer sekarang? Mungkin tidak secara langsung berkaitan dengan perak Olimpiade, tapi populernya olahraga berkuda, memanah (dan juga seharusnya berenang) karena semangat umat hari ini untuk menjalankan sunnah yang berkaitan dengan olahraga.

Lahir di zaman ketika semangat mengamalkan Islam belum sehebat sekarang bisa saja dijadikan alasan untuk malas memahami agama ini, seolah segalanya serba terlambat untuk mulai belajar.

Kalau berandai-andai lahir di generasi 2000an, wahh mungkin kita sejak kanak-kanak sudah rajin solat sunnah, punya hafalan quran berapa juz dan lain sebagainya.

Padahal bisa saja yang terjadi malah sebaliknya, apabila jadi anak di zaman ini kita boleh jadi terlalu sibuk dengan sosial media, game online sampai-sampai tidak ada waktu belajar Islam.

Malah mungkin kita jadi golongan anak muda yang menjadikan para pelaku dosa yang memamerkan maksiatnya di instagram sebagai idola. Naudzubillahiminzalik.

Tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar Islam kan. Ketika husnuzhon pada Allah itu tumbuh di hati ini, kita akan selalu berprasangka baik bahwa situasi atau keadaan apapun yang dihadapi sekarang ya inilah yang terbaik dari Allah.

Boleh jadi kalau situasinya ideal seperti yang kita inginkan, malah jadi terlalu nyaman hingga akhirnya malas memahami Islam.

Ada seorang teman yang saat ini sedang belajar quran di Pondok Pesantren Isy Karima, Karangnyar. Menariknya program belajarnya ini seperti kuliah kelas karyawan, belajar dari sore sampai malam.

Seperti generasi 90an dan 80an pada umumnya, temanku ini sudah berkeluarga namun baru belajar memperbaiki bacaan quran.

Malah dia sudah kali kedua mengikuti program ini, karena  selama 6 bulan pertama dia belum mencapai target yakni bisa membaca quran dengan tartil, benar makhrojul huruf dan tajwidnya serta hafal juz 30.

Ketika kami berbagai cerita, ada satu hal yang mengejutkanku. Memang dia ikut progam tahsin di Karanganyar ini belum sampai setahun terakhir, tapi perjuangannya untuk mengamalkan quran ternyata sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir.

Bersama grup pengajiannya, dia dan temannya-temannya sudah membangun pesantren tahfizh di Karanganyar juga, yang tiap tahunnya memberikan beasiwa kepada belasan anak untuk menghafal quran.

Wowww! Aku dibuat kagum oleh temanku ini.

Aku belajar untuk menilai seseorang bukan dari kaya atau miskin, cerdas atau bodoh, atau bahkan seseorang itu apakah sudah hafizh atau baru belajar iqro.

Justru nilai seseorang bukan dari hasil akhir yang dia miliki saat ini, tapi lebih ke prosesnya, kerja kerasnya, semangatnya dan kepribadiannya.

Bukankah manusia terbaik menurut Allah itu yang belajar dan mengajarkan quran? Sedangkan belajar dan mengajar adalah proses yang tak mengenal kata akhir? Bukankah orang yang membaca quran dengan terbata-bata mendapatkan dua pahala?

Melihat seorang ayah muda dengan 2 anak yang masih kecil-kecil, meninggalkan Jakarta lalu pindah ke Karangnyar untuk belajar quran saja sudah membuatku kagum.

Terlepas sebagian orang menganggapnya sebelah mata karena juz 30 saja belum hafal. Aku semakin kagum karena ternyata dia bersama teman-teman grup pengajiannya sudah merintis pesantren tahfizh dengan belasan santri tiap tahunnya.

Bahasa kasarnya: ngaji aja belum beres tapi dia sudah menjadi jalan untuk anak-anak lain untuk belajar quran. Keren kan?

Yang penting husnuzhon aja sama Allah, berprasangka baik aja sama Allah, kesempatan untuk beramal terbuka lebar.

Boleh jadi hari ini kita kesulitan untuk mengejar semangat ibadah dan menghafal quran adik-adik kita, anak-anak kita, tapi justru ini peluang bagi kita untuk melakukan amal ini: menjadi pembuka jalan bagi mereka untuk menjadi generasi penghafal quran dan pengamal quran, seperti halnya yang dilakukan temanku dan grup pengajiannya membangun pesantren tahfizh.

Boleh jadi hari ini bacaan quran kita belum sepenuhnya baik, mungkin anak-anak atau adik-adik kita pun belum punya hafalan quran, atau malah kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang kurang Islami.

Tapi semua itu tidak akan menghentikan kita untuk ambil bagian membantu generasi muslim berikutnya untuk menjadi penghafal quran. Lakukan apapun yang kita bisa dan tentu jangan lupa untuk memperbaiki bacaan quran yaa.

Sumber: ummi-online.com





Loading...