Tradisi Lebaran Ketupat Mulai Hilang Dari Makna Aslinya




Lain ladang lain belakang, lain lubuk lain ikannya, peribahasa itu setidaknya mewarnai keberagaman tradisi pesta ketupat usai menjalankan puasa Ramadan sebulan penuh.

Selain tradisi, tak lengkap kiranya jika jika lebaran tanpa adanya ketupat (kupat). Begitulah tradisi turun temurun yang diwariskan nenek moyang.

Di Betawi tradisi pesta ketupat dilakukan tepat di hari raya pertama, sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pesta ketupat dilakukan di hari ke-5 atau hari ketujuh setelah melaksanakan puasa syawal selama enam hari yang dimulai sehari setelah Idul Fitri.

Ki Tuwu pemerhati budaya di Kediri menyayangkan banyak generasi muda yang tidak paham dengan makna ketupat atau kupat. Mereka hanya mengikuti tanpa mau belajar makna yang terkandung di balik lebaran ketupat ini

Menurutnya ketupat atau biasa disebut kupat mempunyai makna filosofis yang cukup dalam. Kupat itu artinya nyukupne barang papat (menyelesaikan empat pekerjaan) yakni puasa Ramadan, salat Idul Fitri, mengeluarkan zakat dan puasa syawal.

Jadi jika sudah melakukan keempatnya itu baru merayakan atau menikmati makan ketupat. Namun banyak orang yang tidak paham dan hanya ikut-ikutan.

“Ini ajaran sesepuh-sesepuh kita, ini semua tamsil (perumpamaan) dimana wali songo juga yang mengajarkan,” kata Ki Tuwu pada merdeka.com, Jumat malam (1/8).

Sebagai ungkapan syukur karena sudah melaksanakan empat pekerjaan tersebut menurutnya masyarakat Jawa mempunyai kebiasaan membagi-bagikan ketupat ke tetangga sekitar.

“Kalau di desa tradisi saling menghantarkan ketupat masih ada, kalau di kota tradisi ini saya kira sudah hilang,” ujarnya.

Selain tidak memahami makna yang terkandung, generasi muda pun kini tak banyak yang tidak mau belajar membuat ketupat yang sebelumnya diajarkan secara turun-temurun oleh generasi yang lebih tua.

Dampaknya adalah jurus instan membeli ketupat yang sudah jadi. Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki keahlian untuk menjual karya mereka. Tak ayal penjual musiman ini menjamur di berbagai tempat dengan memanfaatkan moment pasca lebaran.

Seperti halnya yang dilakukan Sumarti (61) penjual ketupat asal Ngadiluwih Kabupaten Kediri yang mangkal di depan Pasar Setono Betek Jl Patimura Kota Kediri, mengaku telah puluhan tahun menjual janur (bahan untuk ketupat) dan ketupat yang sudah jadi.

Kepada merdeka.com Sumarti yang sebelumnya menjual bunga khusus untuk persediaan ziarah ke makam-makam di malam lebaran  memutar haluan menjadi penjual ketupat karena prospek menjual bunga sesudah hari keempat lebaran tak lagi menguntungkan.

“Malam hari raya kemarin satu tas kresek penuh bunga mawar bisa menghasilkan uang Rp 75 ribu sampai Rp50 ribu. Namun kini hanya laku Rp 7.500, itupun jarang sekali yang menawar, karena semua sudah ziarah makam. Karena ada yang lebih menguntungkan makannya saya putar haluan jualan ketupat dan bahannya yakni janur,” kata Sumarti yang juga diamini Wiji (37) penjual yang bersebelahan dengannya.

Untuk bahan baku Darmi mengaku memetik dari tanaman kelapannya sendiri dan juga membeli dari orang-orang yang ada di wilayah Kandat, Wates dan Ngadiluwih.

Karena di daerah tersebut masih banyak ditemui tanaman pohon kelapa. Per 100 janur menurut Lasmini dibeli Rp 20.000

“Ya kalau diecer per 10 janur saya jual Rp 4.000. Jadi kalau dihitung laba per 100 janur sudah lumayanlah apalagi sekarang bahan baku juga sudah mulai berkurang. Sedangkan untuk ketupat yang sudah jadi per 10 ketupat saya menjual 10.000,” ujarnya.

Dari dua model ketupat yang ia jual yakni model ketupat shinto atau ketupat berkaki empat dan ketupat kodok, yang paling laris menurut Sumarti adalah ketupat shinto. Karena memang ketupat shinto adalah ketupat peninggalan jaman nenek moyangnya.

“Kalau ketupat kodok kan kreasi anak muda sekarang,” tukasnya.

Dari pengakuan para pedagang, penjualan ketupat tak seramai tahun-tahun sebelumnya, sebab peminatnya sudah semakin berkurang.

“Tradisi ini semakin lama semakin luntur, sebab sekarang banyak orang modern yang tak begitu peduli dengan tradisi. Selain itu banyak masyarakat yang pada Ramadan kemarin tidak puasa, masak ndak ikut puasa ikut kupatan,” sindir para pedagang.

Sumber: merdeka.com