TKW Ini Mengaku Janda Sebelum Diceraikan Suaminya




Pertanyaan:

Assalamuallaikum

Saya mau tanya, bagimana kalau seorang istri tidak mengakui suaminya dan selalu mengungkit-ungkit kata talak dan dijadikan alasan sang istri untuk statusnya merasa dia udah janda, tapi kata itu trucap cuma dulu sbelum sang istri berangkat jadi TKW.

Waktu mau brangkat sang istri juga minta ijin pada suami selain itu juga harus ada tanda tangan suami (dukumen) dan hubungan suami istri masih biasa saja. Tapi setibanya di penampungan TKW sang istri banyak berbohong tentang jadwal telpon dll. Dia malah sibuk dengan dunia maya, sehingga sang suami trpancing amarahnya dan merasa dikhinati oleh sang istri.

Intinya sang istri tidak terbuka dia punya akun Facebook, WA, dan BBM kepada suami. Hingga sekarang, sang suami marah-marah dan maki2, tapi tidak mngucapkan kta talak. Tap sang istri sekarang malah mengaku sudah bukan siapa-siapanya lagi (alias sudah janda). Dia sampai skarang tidak pernah menghubungi sang suami via telpon, SMS, dll.

Sedangkan anak-anaknya diasuh sama orang tua suaminya dan suaminya. Sekarang skarang sang istri selalu chating dengan laki-laki lain yang bukan mahromnya.

Dinda Ekawati

Jawaban:

Wa alaikum salam…

Setelah saya baca kronologis masalahnya, maka ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan dan saya simpulkan.

Merupakan hikmah sekaligus karunia Allah Yang Maha Bijaksana, bahwa kaum kaum laki-laki ditakdirkan untuk memimpin istrinya. Kenyataan ini karena wanita diciptakan dalam keadaan lemah, terbawa perasaan, dan terburu-buru dalam suatu perkara. Karena itu, Allah Swt mengutamakan kaum lelaki dengan mewajibkan mereka berusaha, bekerja, dan beramal untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagaimana firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [An-Nisaa’ : 34]

Allah telah menjadikan kaum lelaki sebagai pemimpin kaum wanita. Sebagai seorang pemimpin ia wajib memberikan hak-hak orang yang dipimpinnya (istri) dan haram melalaikannya. Nabi pernah berwasiat kepada para sahabat dan seluruh umatnya dengan wasiat:

اتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمُ، اتَّخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ

“Beratakwalah kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah dan menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah.” (HR. Imam Muslim)

Oleh karena itu,seorang suami harus berlaku bijaksana dalam memimpin istri. Seorang suami tidak diperkenankan berlaku diktator, arogan, dan bertindak semena-mena tanpa menghiraukan perasaan istri.

Sementara disisi lain bukan hanya suami yang mempunyai kewajiban terhadap istrinya tapi juga bagi seorang istri. Ia hendaknya menghargai dan menati suami, tanpa merasa terkekang karenanya. Selama suami sejalan dengan syariat Islam, maka istri wajib mematuhinya. Sebagaimana sabda Nabi:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan hanya dalam perkara yang makruf.” (HR. Imam Bukhari)

Arahan Rasululullah SAW terhadap istri untuk mentaati suaminya telah beliau jelaskan dan ini merupakan kewajiaban yang tertinggi sebagaimana Rasul katakan:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.”

Sujud merupakan bentuk ketundukan sehingga hadits tersebut di atas mengandung makna bahwa suami mendapatkan hak terbesar atas ketaatan isteri kepadanya. Sedangkan kata: “Seandainya aku boleh…,” menunjukkan bahwa sujud kepada manusia tidak boleh (dilarang) dan hukumnya haram.

Sang isteri harus taat kepada suaminya dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam agama). Misalnya ketika diajak untuk jima’ (bersetubuh), diperintahkan untuk shalat, berpuasa, shadaqah, mengenakan busana muslimah (jilbab yang syar’i), menghadiri majelis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan Surga bagi dirinya, seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.”

Kemudian terkait dengan pernyataan bahwa istri meminta cerai atau seakan mencari celah untuk diceraikan itu tidaklah dibenarkan hal itu sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

ايُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

“Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

KESIMPULAN:

  1. Dengan adanya pemaparan tentang kewajiban suami, maka di situlah suami harus introspeksi, apakah dia sudah menunaikankan kewajibannya, apakah dia terlalu lentur atau terlalau kasar dalam menjalannkan kepemimpinannya?
  2. Begitu juga dengan istri, apakah ia sudah menjalankan amanahnya sebagai orang yang dipimpin?
  3. Penceraian bukanlah satu-satunya solusi. Islam telah mengajarkan kepada suami agar tidak mudah menjatuhkan kata talak, sebab meski itu boleh akan tetapi itu tidak disukai oleh Allah: أبغض الحلال إلى الله الطلاق (hal yang halal yang paling tidak disukai oleh Allah adalah Talak)
  4. Jika masalahnya seperti di atas maka istri dikategorikan Nusyuz (membangkang). Suami wajib mengingatkan jika tidak bisa diingatkan, maka ia boleh memukul (asal jangan sampai mencedrai) dan terakhir pisahkan dari tempat tidur. (maksudnya jangan lakukan cumbu rayu dan berhubungan di atas tempat tidur) dengan harapan istri mengerti kalau suami sedang tidak suka.
  5. Jangan ceritakan masalah keluarganya kepada orang lain. Karena semakin banyak orang yang ikut campur, maka semakin sulit untuk mencari jalan keluar.
  6. Terakhir, jika biduk rumah tangga sudah di ujung tanduk, maka utuslah keluarga suami bertemu kelurga istri untuk melakukan musyawarah. Apakah lebih baik diteruskan atau harus terpaksa KATAKAN PUTUS.
    والله اعلم بنفس الأمر وحقيقة الحال

 

Dijawab Oleh:

Syahrul Anam
Alumni Pondok Pesantren Mamabaul Ulum Bata-Bata Pemkasan, Madura dan aktif di Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah (M2KD). Sekarang mengajar di Pondok Pesantren Al-Kholil Kabupaten Berau Kalimantan Timur, dan menjadi Kepala Sekolah MTs Al-Kholil Sambaliung Berau.