Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 3 – Habis)




Imam Al-Qurthubi berkata :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻲ : ﻭﻓﻴﻪ ﺣﺪﻳﺚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺘﻪ ﻋﻦ ﺩﻏﻔﻞ ﺑﻦ ﺣﻨﻈﻠﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﻓﻤﺮﺽ ﺭﺟﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻟﺌﻦ ﺷﻔﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﺰﻳﺪﻥ ﻋﺸﺮﺓ ﺛﻢ ﻛﺎﻥ ﺁﺧﺮ ﻓﺄﻛﻞ ﻟﺤﻤﺎ ﻓﺄﻭﺟﻊ ﻓﻪ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ ﻟﺌﻦ ﺷﻔﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﺰﻳﺪ ﺳﺒﻌﺔ ﺛﻢ ﻛﺎﻥ ﻣﻠﻚ ﺁﺧﺮ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻟﻨﺘﻤﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﺒﻌﺔ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻭﻧﺠﻌﻞ ﺻﻮﻣﻨﺎ ﻓﻲﺍﻟﺮﺑﻴﻊ ﻗﺎﻝ ﻓﺼﺎﺭ ﺧﻤﺴﻴﻦ.

“Dalam hal ini ada Hadits yang membenarkan pernyataan tersebut, dari Dughfal Bin Handzalah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Dahulu Ummat Nasrani wajib berpuasa selama satu bulan, kemudian ada seorang di antara mereka yang sakit. Kemudian mereka (Ummat Nasrani) berkata : “Andai Allah menyembuhkannya niscaya kami akan menambahkan (puasa) 10 (sepuluh) hari”. Kemudian ada orang lainnya yang makan daging yang menyebabkan rasa sakit pada mulutnya, kemudian mereka berkata : “Andai Allah menyembuhkannya niscaya kami akan menambahkan (puasa) 7 (tujuh) hari”. Kemudian ada pula Raja yang sakit. Kemudian mereka berkata : “Sungguh kami berharap yang 7 hari ini, maka kami akan berpuasa di musim semi”. Kemudian beliau (Imam Al-Qurthubi) berkata : “Maka puasa mereka menjadi 50 (lima puluh) hari”.

ﻭﻗﻴﻞ ﺇﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﺍ ﺑﺎﻟﻮﺛﻴﻘﺔ ﻓﺼﺎﻣﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺜﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺑﻌﺪﻫﺎ ﻳﻮﻣﺎ، ﻗﺮﻧﺎ ﺑﻌﺪ ﻗﺮﻥ، ﺣﺘﻰ ﺑﻠﻎ ﺻﻮﻣﻬﻢ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ، ﻓﺼﻌﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺮ ﻓﻨﻘﻠﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺸﻤﺴﻲ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻘﺎﺵ : ﻭﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﺩﻏﻔﻞ ﺑﻦ ﺣﻨﻈﻠﺔ ﻭ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻭﺍﻟﺴﺪﻱ، ﻗﻠﺖ : ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﻛﺮﻩ ﺍﻵﻥ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻌﺒﻲ : ﻟﻮ ﺻﻤﺖ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻛﻠﻬﺎ ﻷﻓﻄﺮﺕ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺸﻚ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻴﻨﺎ، ﻓﺤﻮﻟﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺸﻤﺴﻲ، ﻷﻧﻪ ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻮﺍﻓﻖ ﺍﻟﻘﻴﻆ ﻓﻌﺪﻭﺍ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ، ﺛﻢ ﺟﺎﺀ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻗﺮﻥ ﻓﺄﺧﺬﻭﺍ ﺑﺎﻟﻮﺛﻴﻘﺔ ﻷﻧﻔﺴﻬﻢ ﻓﺼﺎﻣﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺜﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺑﻌﺪﻫﺎ ﻳﻮﻣﺎ، ﺛﻢ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﺍﻵﺧﺮ ﻳﺴﺘﻦ ﺑﺴﻨﺔ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠﻪ ﺣﺘﻰ ﺻﺎﺭﻭﺍ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻓﻠﺬﻟﻚ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏: ” ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ.” ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 183 ‏) ﺭﺍﺟﻊ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻷﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ – ﺍﻟﻘﺮﻃﺒﻲ 2/213

Akan tetapi ada yang menyebutkan bahwasannya mereka telah membuat perjanjian, maka mereka berpuasa sehari sebelum 30 (tiga puluh) hari (puasa wajib) dan sehari sesudahnya dari masa ke masa hingga pada akhirnya menjadi 50 (lima puluh) hari. Akan tetapi terlalu berat bagi mereka berpuasa di musim panas sehingga dipindah ke musim semi.

An-Naqqosy berkata : “Dalam hal ini ada Hadits yang diriwayatkan oleh Dughfal Bin Handzalah, Hasan Al-Bashri dan As-Siddi”. Kemudian saya berkata : “Karena itu demi Allah, aku baru tahu kalau Puasa di hari Syak (30 Sya’ban) itu dimakruhkan sekarang”. Asy-Sya’bi berkata : “Andai aku berpuasa satu tahun penuh, niscaya aku tidak akan berpuasa pada hari Syak, hal ini karena orang-orang Nasroni telah diwajibkan Puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkan kepada kita, kemudian mereka memindahnya ke musim semi, sebab Puasa Ramadhan itu bertepatan dengan Cuaca yang sanga Panas di Musim Panas maka jadilah 30 (tiga puluh) hari. Kemudian setelah itu tibalah masa ada di antara mereka yang membuat perjanjian untuk mereka sendiri sehingga mereka berpuasa sehari sebelum 30 hari dan sehari sesudahnya, kemudian dalam perkembangan masa berikutnya ada di antara mereka yang juga membuat perjanjian yang pada akhirnya menjadikan puasa mereka 50 (lima puluh) hari. Hal inilah sebagaimana yang dimaksud oleh Allah SWT : “Telah diwajibkan puasa pada kalian sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian”. (QS. Al-Baqarah : 183)”. (Tafsir Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an Juz 2 hal. 213 Karya Imam Al-Qurthubi)

Sedangkan berikut ini adalah yang diriwayatkan Imam Ibn Katsir dari ‘Ibad Bin Manshur dari Al-Hasan, beliau berkata :

“ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻟﻘﺪ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺃﻣﺔ ﺧﻠﺖ ﻛﻤﺎﻛﺘﺒﻪ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺷﻬﺮﺍ ﻛﺎﻣﻼ”.ﻭﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ ﻗﺎﻝ : “ﺻﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﺘﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﻢ ﻗﺒﻠﻜﻢ”. ﻭﻟﻌﻞ ﺃﻭﺿﺢ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺘﻐﻴﻴﺮ ﻭﺍﻟﺘﺒﺪﻳﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻗﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻄﺒﺮﻱ ﺑﺴﻨﺪﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﺪﻱ ﻭ ﻧﻘﻠﻪ ‏(ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺪﺭ ﺍﻟﻤﻨﺜﻮﺭ‏) ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏” ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ”. ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 183) ‏

.

 ﻗﺎﻝ : ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻨﺎ ﻓﺎﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻛﺘﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻻ ﻳﺄﻛﻠﻮﺍ ﻭﻻ ﻳﺸﺮﺑﻮﺍ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭﻻ ﻳﻨﻜﺤﻮﺍ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻓﺎﺷﺘﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺻﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺟﻌﻞ ﻳﺘﻘﻠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﻴﻒ ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻭﺍ ﺫﻟﻚ ﺍﺟﺘﻤﻌﻮﺍ ﻓﺠﻌﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﺘﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﻴﻒ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﻧﺰﻳﺪ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻧﻜﻔﺮ ﺑﻬﺎ ﻣﺎ ﺻﻨﻌﻦ ﻓﺠﻌﻠﻮﺍ ﺻﻴﺎﻣﻬﻢ ﺧﻤﺴﻴﻦ.
ﺭﺍﺟﻊ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ -ﺍﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﺪﻣﺸﻘﻲ 1/213

“Demi Allah, sungguh Allah telah mewajibkan puasa kepada setiap Ummat yang telah berlalu, sebagaimana diwajibkan kepada kita selama sebulan penuh”.

Serta riwayat dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Puasa Ramadhan telah Allah wajibkan pula pada Ummat sebelum kalian”.

Mungkin untuk memperjelas 2 riwayat tersebut tentang perubahan dan pengalihan puasa yang terjadi pada Ummat Nasrani, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thobari dengan sanadnya dari As-Siddi, dan riwayat ini juga disebutkan oleh pengarang Ad-Durr Al-Mantsur penjelasan dalam Firman Allah SWT QS. Al-Baqarah ayat 183 : “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana telah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa”.

Beliau (Imam Ath-Thobari) berkata : “Adapun Ummat sebelum kita yaitu Nasrani, telah diwajibkan Puasa Ramadhan kepada mereka. Dan diwajibkan pula untuk tidak makan dan tidak minum setelah tidur, begitu juga untuk tidak bersenggama dengan Istri mereka pada Bulan Ramadhan. Akan tetapi hal ini terlalu berat bagi mereka hingga akhirnya mereka berkumpul dan memutuskan agar Puasa Wajib tersebut dilaksanakan antara musim dingin dan musim panas. Kemudian mereka berkata : “Kita akan menambahkan 20 (dua puluh) hari sebagai penebus apa yang telah kita lakukan (yaitu memindah puasa)”. Maka jadilah puasa mereka 50 hari”. (Tafsir Ibn Katsir Juz 1 Hal. 213)

Maka dari itu, sejatinya Puasa yang ada pada Ummat Nasrani serupa dengan Puasa yang ada pada Ummat Islam sampai akhirnya mereka merubah ketentuan waktu dan kadar puasanya. Inilah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz Bin Jabal dalam Hadits sebelumnya. Karena itu As-Siddi, Abu Al-‘Aliyah dan Ar-Rabi’ berpendapat bahwasannya keserupaan yang terjadi antara Puasanya Ummat Nasrani dan Ummat Islam tidak terjadi pada ketentuan waktu dan kadarnya saja akan tetapi juga terjadi keserupaan pada cara dan larangannya. Sebagaimana mereka telah dilarang untuk makan, minum dan bersenggama. Nah, ketika tiba waktu berbuka puasa maka tidak ada yang boleh melakukan hal-hal terlarang tersebut ketika mereka telah tidur (malam), dan hal ini juga terjadi pada masa awal Islam sampai akhirnya Allah menghapus aturan tersebut dengan ayat berikut: “Telah dihalalkan bagi kalian untuk bercampur (senggama) pada malam hari puasa”. (QS. Al-Baqarah : 187)

Ayat ini turun setelah adanya kejadian yang menimpa Abu Qais Bin Shoromah dan Umar Bin Khattab hingga akhirnya Allah menghalalkan makan, minum dan bersenggama bagi mereka (Ummat Islam) sampai terbitnya Fajar. Inilah keringanan dari Allah SWT bagi Kaum Muslimin dengan memberi jalan keluar dari Syariat yang berat ke Syariat yang lebih ringan tidak seperti apa yang terjadi pada Ummat Nasrani yang telah merubah Syariat Allah dengan mengganti kadar dan cara pelaksanaan puasanya.

Sedangkan Riwayat yang menunjukkan tentang hal tersebut sangat banyak, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya :

ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺻﺎﺋﻤﺎ ﻓﺤﻀﺮ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻓﻨﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮ ﻟﻢ ﻳﺄﻛﻞ ﻟﻴﻠﺘﻪ ﻭﻻ ﻳﻮﻣﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻤﺴﻲ، ﻭﺃﻥ ﻗﻴﺲ ﺑﻦ ﺻﺮﻣﺔ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﻛﺎﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻛﺎﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺨﻴﻞ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ، ﻓﻠﻤﺎ ﺣﻀﺮ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﺃﺗﻰ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﺃﻋﻨﺪﻙ ﻃﻌﺎﻡ ؟ ﻗﺎﻟﺖ : ﻻ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻧﻄﻠﻖ ﻓﺎﻃﻠﺐ ﻟﻚ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻮﻣﻪ ﻳﻌﻤﻞ ﻓﻐﻠﺒﺘﻪ ﻋﻴﻨﺎﻩ، ﻓﺠﺎﺀﺗﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﺗﻪ ﻗﺎﻟﺖ : ﺧﻴﺒﺔ ﻟﻚ، ﻓﻠﻤﺎ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻏﺸﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻨﺰﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ : ‏” ﺃُﺣِﻞَّ ﻟَﻜُﻢْ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺮَّﻓَﺚُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺴَﺎﺋِﻜُﻢْ.” ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 187 ‏) ﻓﻔﺮﺣﻮﺍ ﻟﻤﺎ ﺃﺣﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﻭﻧﺰﻟﺖ : ” ﻭَﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﺍﺷْﺮَﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺨَﻴْﻂُ ﺍﻷَﺑْﻴَﺾُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺨَﻴْﻂِ ﺍﻷَﺳْﻮَﺩِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻔَﺠْﺮ.” ‏(ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ :187) ‏

Diriwayatkan dari Al-Barra’, beliau berkata: “Dahulu para Sahabat Nabi Muhammad SAW jika ada seorang lelaki yang berpuasa kemudian tiba waktunya berbuka akan tetapi ia terlanjur tidur (terlebih dahulu) sebelum berbuka, maka tidak boleh makan pada malam harinya begitu juga siang harinya sampai sore (maghrib). Dan sesungguhnya Qais Bin Shoromah Al-Anshori ketika itu beliau berpuasa, dalam riwayat lain beliau sedang bekerja di kebun kurma di siang hari dalam keadaan berpuasa. Ketika tiba waktunya berbuka ia mendatangi Istrinya dan berkata: “Apakah engkau punya makanan?”, Istrinya menjawab: “Tidak, akan tetapi aku akan pergi mencarinya untukmu”. Karena pada hari itu ia (Qais) bekerja sehingga terlelap dalam tidurnya. Kemudian datanglah Istrinya sembari berkata: “Alangkah malangnya dirimu”. Ketika tiba di pertengahan siang hari (esoknya) ia (Qais) terpingsan, akhirnya hal ini diceritakan kepada Nabi SAW kemudian turunlah ayat ini:“Telah dihalalkan bagi kalian untuk bercampur (senggama) dengan istri kalian pada malam hari puasa”. (QS. Al-Baqarah : 187)

Maka para sahabat bergembira ketika Allah menghalalkan apa yang telah diharamkan sebelumnya, kemudian turun ayat: “Maka makan dan minumlah sampai jelas bagi kalian (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam dari Fajar (Shubuh)”. (QS. Al-Baqarah : 187) (HR. Bukhari)

Disebutkan pula dalam Shahih Bukhari :

ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀ ﻗﺎﻝ : ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﻘﺮﺑﻮﻥ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﻠﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺟﺎﻝ ﻳﺨﻮﻧﻮﻥ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻓﺄﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏” ﻋَﻠِﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺘَﺎﻧُﻮﻥَ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻓَﺘَﺎﺏَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻔَﺎ ﻋَﻨﻜُﻢْ.” ‏( ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ :187)” 7

Dari Al-Barra’, beliau berkata : “Ketika ada perintah Wajib Puasa Ramadhan, mereka (Para Sahabat) tidak mendekati Istri mereka selama Ramadhan penuh, akan tetapi kaum lelaki tidak mampu menahan diri mereka, maka Allah menurunkan ayat: “Allah mengetahui bahwa kalian tidak dapat menahan diri kalian, tetapi Dia telah menerima taubat kalian dan memaafkan kalian”. (QS. Al-Baqarah : 187), HR. Imam Bukhari

Imam Ath-Thobari menyebutkan :

“ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﺭﺟﻊ ﻣﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻗﺪ ﺳﻤﺮ ﻋﻨﺪﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﻮﺟﺪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻗﺪ ﻧﺎﻣﺖ ﻓﺄﺭﺍﺩﻫﺎ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﻗﺪ ﻧﻤﺖ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﻣﺎ ﻧﻤﺖ، ﻓﻮﻗﻊ ﺑﻬﺎ، ﻭﺻﻨﻊ ﻛﻌﺐ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻣﺜﻠﻪ ﻓﻐﺪﺍ ﻋﻤﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﻋﺘﺬﺭ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻟﻴﻚ ﻓﺈﻥ ﻧﻔﺴﻲ ﺯﻳﻨﺖ ﻟﻲ ﻓﻮﺍﻗﻌﺖ ﺃﻫﻠﻲ، ﻓﻬﻞ ﺗﺠﺪ ﻟﻲ ﻣﻦ ﺭﺧﺼﺔ ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻲ : ” ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺣﻘﻴﻘﺎ ﺑﺬﻟﻚ ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ” ﻓﻠﻤﺎ ﺑﻠﻎ ﺑﻴﺘﻪ ﺃﺭﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺄﻧﺒﺄﻩ ﺑﻌﺬﺭﻩ ﻓﻲ ﺁﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ.”

“Sesungguhnya Umar r.a. ketika pulang dari Rasulullah SAW, saat itu malam masih panjang. Sedangkan ia menemukan Istrinya telah tertidur dan mengharapkannya (bersenggama), kemudian Istrinya berkata: “Aku telah tidur”, beliau berkata: “Tidak, engkau belum tidur”. Akhirnya Umar bersetubuh dengan Istrinya, dan hal ini juga menimpa Ka’ab Bin Malik. Esok harinya Umar menemui Nabi SAW seraya berkata: “Aku minta maaf kepada Allah dan kepadamu, sungguh aku telah bercampur dengan istriku, apakah ada keringan untukku?”, beliau (Rasulullah) berkata padaku : “Tiada keringanan akan hal itu wahai Umar”. Ketika Umar tiba di rumahnya, Rasulullah mengutus seseorang agar menyampaikan tentang Udzurnya dengan satu ayat dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah : 187).

Inilah yang kami temukan pada Syariat Puasa yang ada dalam Islam yang sebelumnya makan, minum dan senggama itu diharamkan kemudian Allah ganti dengan keringanan menghalalkan makan, minum dan senggama sampai menjelang masuknya waktu Shubuh. Dan sebelum adanya keringanan akan hal itu, cara puasa dan larangan serta kadarnya terdapat pada Syariat Puasa Ummat terdahulu, akan tetapi mereka telah merubah ketentuan, kadar dan waktunya. Dari ini bisa kita simpulkan maksud keserupaan yang ada pada ayat berikut :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ] ( البقرة: 183)1

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Keserupaan tersebut ada pada semua konteks dan sisi puasa tersebut, mulai dari larangan, waktu dan kadarnya.

Baca artikel sebelumnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 1)
Baca artikel sebelumnya: Seperti Apa Puasa Ummat Terdahulu? (Bagian 2)

Sumber: fiqhmenjawab.net




Loading...
loading...
loading...