Sepak Bola, Politik, dan Khusnul Khatimah

by

Dalam Islam, kita selalu diajarkan untuk berdoa agar kehidupan kita khusnul khatimah; berakhir dengan baik. Masuk akal, karena yang penting dari seluruh perjalanan hidup seseorang adalah akhirnya, bukan saja awalnya.

Tak peduli bagaimana pun ia hidup, tapi yang namanya akhir, haruslah baik. Manis sekali ketika kita diajarkan untuk selalu berdoa agar khusnul khatimah dan memohon agar selalu mendapat petunjuk melalui ihdinas shoratal mustaqim. Kenapa? Karena nasib dan takdir, hanya Allah yang tahu.

Tak perlu jumawa dengan “penilaian” orang saat ini, dan tak usah khawatir dengan “penghakiman” sekarang, karena selalu ada waktu untuk berubah. Sebagaimana takdir, masa depan kita selalu suci.

Contoh yang paling dramatis dari khusnul khatimah adalah ketika MU, pada tahun 1999 lalu berhasil mengalahkan Bayern Munchen pada pertandingan Final, dan merengkuh tropi Liga Champion keduanya.

Sepanjang 90 menit pertandingan, saat itu siapa pun yang menyaksikan akan tahu, bahwa Bayern Munchen akan segera mengangkat tropi dengan kemenangan 1-0. Bahkan tropi si Kuping Besar, sudah disiapkan dipinggir lapangan, dengan pita abu-abu dan nama Bayern Munchen sudah terukir disana.

Tapi ternyata, takdir berkata lain. Secara mengejutkan, dalam injury time, Sheringham dan Solskjaer (si Supersub) melesakkan 2 gol yang sangat berharga dalam sejarah perjalanan MU. MU juara, untuk kedua kalinya. Sorak-sorai (yang menurut wasit Collina disebut sebagai “auman singa”) memecahkan stadion.

Tak jauh berbeda ketika Liverpool memaksa AC Milan menangis pada final Liga Champion 2005. Gol Maldini (1′) dan Hernan Crespo (39′, 44′) pada babak pertama, menjadi tidak berarti ketika Gerrard, Smicer, dan Alonso melesakkan gol balasan hanya dalam waktu 6 menit saja! (54′, 56′, 60), dan melalui adu penalti, Liverpool membawa pulang si Kuping Besar dengan kemenangan 3-2. Siapa pun tahu, termasuk saya waktu itu, AC Milan sepertinya akan memenangkan pertandingan, tapi apa daya, bola selalu bundar. Menggelinding liar, mencari nasibnya di akhir pertandingan. Sangat dramatis.

Pertandingan Real Madrid versus klub bebuyutan satu kotanya, Atletico Madrid, pada final Liga Champion 2014 juga tak kalah menegangkan. Dalam 90 menit pertandingan, saya pribadi hampir mematikan televisi karena mengira juaranya pasti Atletico Madrid. Tapi apa lacur, Sergio Ramos membuyarkan mimpi pendukung lawannya dengan tandukan kepala yang gagal diamankan oleh Curtois pada menit injury time, 90+3′.

Akhirnya, melalui perpanjangan waktu, pasukan Real Madrid yang secara fisik lebih energik, mampu menyudahi perlawanan Atletico Madrid yang kelelahan karena pemainnya cenderung “lebih tua”. Real Madrid merengkuh La Decima-nya dengan skor meyakinkan, 4-1.

Mari kita tinggalkan dunia sepak bola, menuju panggung yang sedang hingar; Pilkada. Masih ingat hajatan Pilkada DKI tahun 2012? Siapa yang menyangkan, bahwa Jokowi-Ahok akan memenangkan kontestasi melalui Jakarta Baru-nya?

Siapa nyana, pasangan yang dalam banyak survey selalu keteteran, justru membuat kejutan, dan menyalip sang petahana di tukangan terakhir sebelum pertandingan usai dan akhirnya menang? Sosok yang secara fisik sering dibully, tapi bisa bekerja dan memenangkan hati pemilih dan media, akhirnya menjadi pilihan, bahkan ketika Wagub-nya ketika itu adalah bagian dari minoritas, secara agama dan etnis.

Banyak contoh dalam Pilkada, bagaimana calon yang tidak diperhitungkan sebelumnya, justru mampu menyodok di saat akhir, dan bahkan mengalahkan petahana. Mereka adalah orang-orang baru, yang mempunyai nasib baik, sehingga ditakdirkan untuk menjadi pemenang.

Artinya, bahwa detik-detik sebelum berakhir, seberapa pun singkatnya, selalu memiliki kejutan, karena ia tidak bisa terlepas dari takdir. Beberapa contoh yang saya tuliskan di atas, adalah bagian dari bagaimana khusnul khatimah menjadi akhir manis dari sebuah perjuangan. Banyak pemenang yang tak diperhitungkan, justru lahir di detik-detik akhir sebelum peluit dibunyikan sebagai tanda pertandingan usai. Sekali lagi, tak peduli seberapa buruk di depan, tapi yang namanya khatimah, tetaplah (diusahakan) harus khusnul.

Itulah kenapa Islam memerintahkan umatnya untuk selalu berdoa agar khusnul khatimah dan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus, tentu saja dengan usaha juga. Klub yang terlalu percaya diri, sering menjadi tumbal, bahkan oleh klub yang tak diperhitungkan.

Pasangan calon dalam Pilkada, yang unggul dalam banyak survey, unggul dalam pemberitaan di banyak media, unggul dalam memasarkan capaian dan kerja, tetap kukuh meski diterpa topan dan badai, tak menutup kemungkinan akan ditumbangkan oleh calon baru yang lebih potensial. Khatimah yang khusnul, memiliki takdirnya sendiri-sendiri dalam pilkada.

Akhirnya, kita yang punya klub sepak bola kesayangan, mari berdoa, agar menjadi klub yang khusnul khatimah dalam setiap pertandingan.

Ditulis oleh:

Mustafa Afif
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, Madura. Aktif di Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Loading...
loading...
loading...