Sejarah dan Asal-usul Yasinan di Indonesia, Dilengkapi Dengan Dalil Shahih




Tradisi yasinan yang sering dicap oleh sebagian golongan sebagai amalan bid’ah sehingga haram melaksanaknnya adalah tema yang gak rampung-rampung dibahas.

Jika hanya sibuk mencari dalil Al-Qur’an atau Hadits Nabi maka sampai ustadz Google pun gak bakal sanggup mencarinya. Maka jelaslah ketika Rasulullah Saw. tidak mencontohkan langsung kita tidak boleh menjalankan. Titik.

Padahal istilah “yasinan” hanyalah penyingkatan kata yang biasa terjadi di masyarakat agar lebih simpel tapi memahamkan. Yasinan adalah istilah kegiatan membaca surat Yasin baik dilakukan sendirian maupun berjama’ah.

Sama halnya dengan membaca kalimat Tahlil (Tahlilan), membaca kisah kelahiran (maulid) Nabi (Maulidan), membaca Al Qur’an (Qur’anan) dan masih banyak lagi.

Jadi Yasinan bukan hal yang baru yang tanpa contoh langsung dari Rasulullah. Karena sudah pasti Rasulullah sendiri beliau juga membaca surat tersebut. Adapun hadits yang berhubungan dengan pembacaan surat yasin secara khusus antara lain.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ

“Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya).” (HR. At Thobroni/145, 418 dan Al-Bayhaqi/2360, 2361 dari Abu Huroiroh, Ad Darimi/3478 dari Hasan, Dishahihkan oleh Ibnu Hibban/2626)

Takhrij Hadits
Hadits ini dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataijul Afkar. Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya: “Sanadnya jayyid”.

Sedangkan menurut Imam As Suyuthi dalam Al-La’ali Al-Mashnu’ah: “Sanadnya sesuai standar shahih”. Begitu juga menurut Imam Asy Syaikani sebagaimana dinyatakan dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah 1/303 Bab Fadhlul Qur’an.

Kandungan Hadits
Hadits di atas berisi keutamaan membaca Surat Yasin di malam hari. Surat Yasin boleh dibaca kapan saja, di malam hari maupun siang hari, malam Jumat ataupun selain itu.

Para ulama mengatakan bahwa termasuk keistimewaan surat Yasin yaitu apabila dibaca di saat kondisi sulit maka Allah akan memudahkan urusan orang yang membacanya.

Dan apabila dibaca ketika seseorang hampir meninggal (sakaratul maut) maka akan turun rahmat dan berkah serta ruhnya akan dimudahkan untuk keluar. (Tafsir Ibn Katsir)

Diriwayatkan dari Maqol bin Yasar, bahwa Nabi Saw. bersabda: “Bacalah untuk orang mati di antara kamu, surat Yasin.” (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Hibban/3064, juga diriwayatkan oleh Abu Daud/2714, Ibnu Majah/1438, Ahmad/19416, 19427, Nasai/10913, Alhakim/2028, Aththobroni/16904, Albayhaqi/2356, 8930)

Mengenai kapankah kita harus membacanya, ulama menjelaskan bahwa boleh ketika si Mayit itu saat sekarat maupun sudah meninggal. Yang lebih baik lagi, dibacakan pada kedua waktu tersebut, sebelum dan sesudah meninggalnya Mayit.

Masyarakat kita yang mayoritas bermadzhab Syafi’iiyah pastilah mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh para ulama madzhab tersebut, salah satunya dengan pembacaan surat yasin yang dihadiahkan buat mayit.

Ibnu Hajar al-Asqalani (1372 – 1449 M) dalam kitabnya menceritakan perihal tersebut:

“Ibnu Abdil Hakam menjawab pertanyaan yang disodorkan kepadanya tentang boleh atau tidaknya membacakan Al Quran untuk mayit:

Saat Imam Syafi’i (767 – 820 M) wafat, murid-murid beliau berkumpul di dekat kepala beliau, lantas seorang dari mereka membaca surah Yasin dan tak seorang pun mengingkarinya. Lalu mereka bersama menyaksikan pemandian jenazah Beliau dan terus berdiri hingga dikafani.” (Tawali Taksis, hal. 178)

Mungkin dari hal itu, pembacaan surat yasin -oleh masyarakat disimpelkan dengan istilah yasinan- sampai saat sekarang masih selalu dilakukan oleh kita terlebih untuk dihadiahkan kepada mayit atau orang-orang terdekat kita yang sudah meninggal.

Oleh: Nasyit Manaf
pernah ngaji di Tegalrejo Magelang dan masih aktif belajar di IAIN Purwokerto

Sumber: fiqhmenjawab.net





Loading...
loading...
loading...