Sayyid Qutb Mati, Tapi Idenya Abadi Bagi Kaum Islam-Politik

by

29 Agustus 1966, atau 51 tahun yang lalu, adalah hari terakhir bagi Sayyid Qutb untuk mencurahkan buah pemikirannya pada lembaran-lembaran kertas selama mendekam di penjara.

Pemerintah Mesir mendakwa Qutb terlibat dan bersalah dalam rencana pembunuhan (yang gagal) terhadap Wakil Perdana Menteri Gamal Abdul Nasir, sehingga hari itu ia dieksekusi dengan cara digantung.

Lahir dengan nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husayn Shadilli pada 9 Oktober 1906, Qutb tumbuh besar di Musha, Provinsi Asyut, era Mesir masih menjadi Khedivate atau negara bagian Kekhalifahan Ottoman.

Perjuangannya menegakkan syariat Islam dipengaruhi aktivisme politik sang ayah yang rutin mengadakan pertemuan mingguan untuk membahas peristiwa terkini maupun mengaji Al-Qur’an beserta maknanya.

Di usia 10 tahun Qutb menjadi ‘hafiz’, istilah untuk seorang penghafal Al-Qur’an. Meski demikian minatnya pada literatur lain juga tinggi.

Qutb membaca cerita detektif Sherlock Holmes, buku Seribu Satu Malam, literatur tentang astrologi, dan lain sebaganinya. Qutb rajin menabung demi melengkapi koleksi perpustakaan pribadinya.

Di usia yang masih belia, ia telah mengoleksi 25 buku lintas tema kajian di kamarnya, hasil dari melobi seorang penjual buku di dekat rumah.

Sebelum dikenal sebagai filsuf, Qutb muda menulis karya sastra selama periode 1932-1949. Dari tahun 1947 hingga 1950 ia sempat tinggal di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem pendidikan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado.

Salah satu karya terbaik Qutb ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat ini, yakni “Al-‘adala l-Ijtima’iyya fi-l-Islam” (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada 1949.

Sekembalinya ke Mesir, Qutb menerbitkan buku The America that I Have Seen(Amerika yang Telah Kulihat). Isinya adalah kritik eksplisit atas kehidupan di AS, yang kemudian mewakili pandangannya atas kehidupan di Barat secara umum.

Bagi Qutb, Barat ada dalam materialisme, kebebasan individualistik, sistem ekonomi (kapitalisme), rasisme, antusiasme pada olahraga yang brutal (tinju), komunikasi dan hubungan pertemanan yang dangkal, kurangnya perasaan artistik, hubungan sesama jenis kelamin, dan dukungan kuat untuk Israel.

Pendek kata, Qutb menolak sistem nilai yang dianut Barat dan makin memantapkan diri berjuang untuk tegaknya Islam di tanah kelahirannya, Mesir.

Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negara dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin (IM) di awal 1950-an.

Pemikiran-pemikirannya kian terasah sejak ia menjadi pemimpin redaksi majalah propaganda mingguan IM, Al-Ikhwan al-Muslimin. Apalagi ia kemudian ditunjuk sebagai anggota komite kerja dalam dewan pembimbing, cabang tertinggi dalam organisasi.

Qutb dan kawan-kawan pernah mesra dengan Gamal Abdul Nassir sebagai wakil dari barisan nasionalis Mesir. IM mendukung kudeta Nasir atas pemerintahan Raja Faruk yang pro-Barat pada Juli 1952, sebab rezim itu dianggap tak Islami.

IM pun berharap Nasir akan mendirikan pemerintahan Islamisai usai revolusi, tapi bulan madu keduanya segera berakhir setelah Nasir menegaskan akan membentuk pemerintahan sekuler-nasionalis di Mesir.

Nasir tahu bahwa IM punya potensi untuk menggoyahkan kekuasaannya sebab kala itu sedang menikmati popularitas yang cukup tinggi di kalangan rakyat Mesir.

Sembari membentuk pemerintahan baru, Nasir juga membuat sebuah organisasi rahasia bernama Tahrir (kebebasan) untuk mengatasi hal-hal buruk yang diinisiasi oleh IM.

Qutb tak tahu akan rencana ini. Ia masih sering berdiskusi dengan Nasir sembari melobi agar Mesir baru mendapat sentuhan Islami sebagaimana cita-cita IM. Namun makin lama Qutb makin menyadari bahwa upayanya akan sia-sia.

Sikap nasionalistik Nasir hampir tak tergoyahkan. Qutb pun menolak segala tawaran Nasir dalam pemerintahan baru, termasuk jabatan Menteri Pendidikan maupun Menteri Kesenian.

Qutb yang kecewa tak hanya memilih untuk menjauh dari Nasir, tapi juga terlibat dalam konspirasi IM untuk membunuh Nasir. Sayang, plot ini gagal. Nasir menggerakkan Tahrir dan aparat negara lain untuk memenjarakan Qutb dan menangkap anggota IM lain.

Qutb mendapat kondisi yang buruk selama dipenjara, termasuk penyiksaan. Namun, di tempat itu juga ia melahirkan dua karya penting lain yang menjadi tonggak ideologi Qutbisme, Fi Zilal al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) dan Ma’alim fi’l-Tariq(Milestone/Tonggak).

Qutb sempat dibebaskan pada akhir tahun 1964 atas permintaan pribadi Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Salam Arif. Namun, delapan bulan berikutnya, Agustus 1965, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang sama.

Dalam persidangan, dakwaan untuk Qutb banyak diambil dari buku Ma’alim fi’l-Tariq. Puncaknya, Qutb dan enam anggota IM lain dijatuhi hukuman mati karena persekongkolan untuk membunuh presiden dan pejabat negara Mesir lainnya.

Idenya Abadi bagi PKS hingga Al-Qaeda
Meski telah meninggal, ideologi Qutb tetap abadi di hati para pengikutnya dari kalangan muslim yang percaya bahwa hukum Islam harus diberlakukan oleh negara. Nama Qutb tak bisa dilepaskan dari pendiri IM Hasan al-Banna.

Premis mayor Qutbisme didasarkan bahwa kondisi dunia telah jatuh lagi ke masa Jahiliyah atau masa sebelum kedatangan Islam, baik untuk dunia Barat maupun negara-negara muslim yang condong ke sekuler-nasionalis.

Qutb berketetapan bahwa hukum negara mesti mengacu pada Al-Qur’an sebagai hukum Tuhan, bukan hukum bikinan manusia (demokrasi, sosialisme, sekulerisme, dan sebagainya).

Sebagaimana ia sampaikan di buku Ma’alim fi’l-Tariq, yang dinilai sebagai tonggak pemikiran Qutbisme itu sendiri, penerapan syariat Islam secara kaffah alias menyeluruh di dalam sendi-sendi kehidupan akan membawa tak hanya keadilan, namun juga ketenangan diri, penemuan ilmiah, kebebasan dan manfaat lainnya.

Serupa dengan pemikiran Hasan al-Banna, Qutb memberikan dasar teologis untuk jihad bagi para fundamentalis Islam sedunia, dan dipraktikkan secara beragam oleh berbagai macam organisasi, mulai dari yang lunak hingga yang ekstrem.

Karena yang diutamakan adalah penerapan hukum syariat, jihad beberapa kelompok juga menyasar pemerintahan Islam di suatu negara yang biasanya dituduh berciri moderat, liberal, atau bahkan sekuler.

Dalam versi lunak, idealisme Qutb bisa ditemukan dalam Perjuangan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ada banyak penelitian yang mengafirmasi kaitan ini.

Salah satunya termuat dalam buku Islamist Parties and Political Normalization in the Muslim World yang diedit oleh Quinn Mecham dan Julie Chernov Hwang, terbitan tahun 2014 oleh University of Pennsylvania Press.

Di dalamnya, disebutkan bahwa akar PKS adalah Gerakan Tarbiyah yang marak di masjid-masjid kampus jelang akhir rezim Orde Baru.

Para pegiatnya menyebarkan ide-ide Sayyid Qutb dan Hassan al Banna sebagai tahap pertama dari resolusi jangka panjang, yakni mengislamisasi kehidupan umat muslim Indonesia dalam bingkai syariat. Pola ini masih ditemukan dalam pergerakan politik Islam di Indonesia era kontemporer.

Demikian pula dalam buku Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen karya M. Idadun Rahmat atau Islamism and Democracy in Indonesia: Piety and Pragmatism karya Masdar Hilmy, PKS disebut banyak mengadopsi pemikiran maupun gerakan IM yang dimotori oleh duo Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna.

Sementara itu, dalam versi ekstrem, pemikiran jihad Qutb memberi api bagi pergerakan kelompok Al-Qaeda. Kaitannya bisa ditelusuri dari sosok Muhammad Qutb, adik Sayyid Qutb.

Usai huru-hara akibat kegagalan upaya pembunuhan Nasir, Muhammad Qutb termasuk salah satu anggota IM yang dipenjara rezim.

Usai dibebaskan, ia pindah ke Arab Saudi dan menjadi profesor di Studi Islam untuk terus menyebarkan pemikiran-pemikiran kakaknya.

Salah satu muridnya adalah Ayman Al-Zawahiri, mantan anggota kelompok Jihad Islam Mesir atau Egyptian Islamic Jihad yang sejak akhir 1970-an digolongkan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Mesir, pemerintah Inggris, hingga PBB.

Sebelumnya Zawahiri pernah dikenaalkan kepada Sayyid Qutb oleh pamannya, Mafouz Azzam. Kekaguman Zawahiri pada Sayyid Qutb ia tuangkan dalam buku Knight under the Prophet’s Banner(Ksatria di Bawah Spanduk Sang Nabi).

Zawahiri pun menurunkan pemikiran Qutb kepada murid-muridnya. Salah satunya adalah Osama bin Laden. Osama dilaporkan rutin menghadiri kuliah mingguan Muhammad Qutb di Universitas King Abdul Aziz dan telah menjadi pengagum Qutb sejak lama.

Osama dan beberapa tokoh Suni militan lain kemudian membentuk organisasi yang punya reputasi teror mulai dari Timur Tengah hingga Amerika Utara: Al-Qaeda. Osama boleh mati pada 2011, tapi Al-Qaeda masih hidup hingga hari ini di bawah kepemimpinan Zawahiri.

Sumber: tirto.id

Loading...
loading...
loading...