Renungan: Setelah Ramadhan Pergi




Saat-saat yang paling sulit adalah setelah seseorang mencapai puncak performa. Bisakah ia bertahan dengan kebaikan-kebaikannya atau justru meluncur jatuh dan seketika sudah berada di titik terendah kehidupannya.

Maka, seperti kata Anis Matta dalam buku Delapan Mata Air Kecemerlangan, “Persoalan paling berat yang kita hadapi sesungguhnya bukanlah mendaki gunung, tetapi bagaimana bertahan di puncak gunung itu hingga akhir hayat.”

Ini tidak hanya berlaku dalam keseluruhan akumulasi usia kita. Tetapi ia juga berlaku dalam setiap proses kehidupan dan periode hidup kita. Siklus tahunan adalah salah satunya. Dan, kita sering tidak mampu mempertahankannya di sini.

Bulan lalu, sepanjang Ramadhan banyak kita yang tiba-tiba mengalami perbaikan signifikan. Ada peningkatan drastis dalam ibadahnya; secara kuantitas dan secara kualitas.

Maka, kita dapati tiba-tiba kita bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali, qiyamullail setiap malam, dzikir, hingga perasaan taubat yang menggebu-gebu. Semua itu baik dan tidak ada yang salah dengannya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah setelahnya.

Setelah kita mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali, setelah qiyamullail rutin setiap malam, setelah dzikir begitu lama, setelah perasaan taubat menggetarkan jiwa, lalu kita tiba-tiba terjatuh, drop, turun seketika.

Bahkan di awal-awal bulan Syawal penurunan itu sudah terasa. Dan semakin jauh dari Idul Fitri kualitas ibadah juga semakin jauh dari “puncak performa”.

Sesungguhnya, di antara tanda keberhasilan Ramadhan bagi seorang muslim adalah tatkala ia membawa kebaikan-kebaikan dan peningkatan ibadah di bulan mulia itu ke dalam bulan-bulan setelahnya.

Inilah yang sering disebut “meramadhankan semua bulan”. Bulan syawal yang artinya peningkatan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas itu.

Setidaknya dipertahankan. Ini memang sulit. Bahkan sangat sulit. Tetapi jika kita ingin menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa memperbaiki diri dan mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada pilihan lain.

“Amal yang paling dicintai Allah adalah (amal) yang dikerjakan pelakunya secara rutin meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Inilah persoalan kita. Bagaimana agar kita tetap mampu bertahan di “puncak”. Tidak turun drastis, apalagi terjun bebas dan tenggelam dalam keburukan. Maka, berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam kebiasaan tilawahnya.

Berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam dzikir dan tafakurnya. Berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam kebiasaan qiyamullail, shalat sunnah, dan sedekahnya.

Maka salah satu yang disunnahkan Rasulullah di bulan ini adalah puasa Syawal. Enam hari puasa sunnah Syawal setelah genap berpuasa sebulan Ramadhan, dinilai Allah seperti puasa setahun.

Itu salah satu sarana yang disediakan Allah agar kita terjaga dalam kebaikan dan kesucian jiwa. Maka berbahagialah mereka yang menyucikan jiwanya, “Qad aflaha man zakkaahaa”.

Sumber: bersamadakwah.net





Loading...