Renungan: Kita Tetaplah Seorang Anak




Wahai saudaraku…
Mari kita renungkan, Anak-anak muda, semakin banyak yang lari dari orang tuanya, mereka lebih memilih percaya, dan nurut serta lebih dekat kepada teman-temannya dari pada orangtuanya, nasehat orang tua dianggapnya bertentangan dengan kesenangan mereka.

Urang tua malah dianggap tidak tahu diri, tidak mengerti anak, orang tua dipaksa untuk menuruti semua kebutuhan dan keinginan anak, semua karena banyak dipengaruhi pergaulan, mencontoh teman-temannya, tanpa melihat kondisi orang tuanya.

Tanpa sadar “siapa sesungguhnya orang tuanya itu” dan “bagaimana harus bersikap pada orang tua”, kalau keinginannya tidak dituruti, kemudian menghardik orang tua, orang tua diancamnya.

Bahkan banyak kejadian anak memaksa untuk dibelikan sepeda motor, supaya dalam pergaulan nya setara teman-temannya, bisa bergaya, bersama geng temannya, atau memaksa minta uang buat beli rokok, buat nonton, atau malah buat mabuk, semua itu minta dengan memaksa, kalau tidak dituruti.

Kemudian orang tua dipukul atau malahan dibunuhnya dengan sadis. Padahal belum tentu orang tua nya punya uang, buat kebutuhan sehari-hari saja kesulitan, si anak malah bersikap demikian.

Astagfirullah. Ketahuilah wahai anak-anakku, bagaimanapun keadaanmu, engkau TETAPLAH SEORANG ANAK, yang punya orang tua, yang melekat kewajiban untuk berbakti kepadanya. Bukannya malah tawadhu’ dan mendoakan nya, tetapi justru membuatnya semakin menderita.

Wahai saudaraku…
Kita renungkan juga, banyak anak-anak remaja, mereka lebih perhatian, lebih cinta dan sayang kepada pacarnya (ketahuilah apapun bentuknya pacaran itu haram) daripada kepada orang tuanya, ketika dinasehati orang tua, justru ngambek.

Orang tua dikatai kuno, dibilangnya sudah bukan jamannya lagi orang tua ngatur-ngatur anak pacaran, anak remaja lebih takut kehilangan pacarnya dari pada orang tua.

Anak remaja lebih nurut dan tunduk pada pacarnya daripada nasihat orang tua, ketika dinasehati justru semakin menjadi-menjadi, bahkan sengaja berbuat melampaui batas (sampai hamil), supaya memaksa orang tua merestui mereka.

Astagfirullah, betapa mereka telah merendahkan kedudukan orang tua. Cinta buta mereka telah menutup/mengalahkan kewajiban berbakti kepada orang tuanya.

Dianggapnya pacarnya adalah segalanya baginya, yang akan membuatnya bahagia, yang paling mengerti dan sayang kepada dirinya, daripada orang tuanya sendiri.

Sungguh, bagaimanapun kunonya orang tuamu, engkau TETAPLAH SEORANG ANAK, mereka adalah orang tuamu, yang melekat kewajiban padamu untuk berbakti kepadanya.

Bukannya malah tawadhuk dan mendoakan nya, tetapi justru membuatnya semakin menderita. Sungguh mereka lah tempatmu memohon keridhoan, agar hidupmu berkah, bukan malah menutup ridho orang tuamu padamu.

Wahai saudaraku…
Kita renungkan juga, banyak anak yang setelah mendapatkan pendidikan yang tinggi, bersikap merendahkan orang tua, dianggapnya orang tuanya kolot, tidak berpendidikan, sehingga omongan orang tuanya tidak didengarkannya.

Bahkan selalu dibantah dengan argumen-argumen keilmuannya, sehingga dia merasa lebih mengerti dan pandai dari orang tuanya, sampai akhirnya orang tuanya tidak berani lagi ngomong dengan anaknya.

Karena mereka tidak ingin anaknya semakin berani padanya, padahal sebebarnya banyak yang ingin dikatakan pada anaknya, agar anaknya menjadi lebih baik, tetapi orang tuanya terlanjur menjadi takut kepada anaknya.

Ketahuilah, sepandai apapun dirimu, setinggi apapun sekolahmu, sebanyak apapun gelarmu, engkau TETAPLAH SEORANG ANAK, dari orang tuamu, yang melekat kewajiban padamu, untuk berbakti kepada mereka. Bukan malah menghardik, dan menceramahi mereka.

Wahai saudaraku…
Mari kita Renungkan juga, banyak yang sudah berkeluarga (berumah tangga), sudah punya istri dan anak, sudah mapan hidupnya, lupa kepada orang tuanya. Orang tuanya dijadikan pembantu, yang memasakkan, mencucikan baju, merawat anak-anak (cucunya).

Bahkan tatkala orang tua sudah semakin tua, sudah sakit-sakitan, atau malah sudah pikun, tidak bisa jalan, disinilah banyak anak yang sudah berkeluarga, tidak mau mengurus orang tuanya.

Tidak jarang orang tua nya dibuang di panti asuhan, atau justru dibuang sungguhan di jalanan, ribut antara suami istri karena adanya orang tuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan tersebut, yang dianggap merepotkan mereka, yang mengganggu kehidupan mereka.

Astagfirullah… padahal itu kan orang tua sendiri, yang dulu waktu engkau masih bayi, masih kecil, mereka rawat dengan kasih sayang dan segenap pengorbanan jiwa, raga, harta dan taruhan nyawa, dengan harapan engkau menjadi anak yang shalih, berguna dan manfaat.

Tetapi kini ketika engkau sudah dewasa dan mapan, engkau jijik merawat orang tuamu sendiri, orang tuamu engkau anggap tak berguna lagi, dan merepotkan hidupmu, sungguh betapa Malang orang tuamu itu memiliki anak seperti dirimu.

Ketahuilah, sekaya apapun dirimu, engkau TETAPLAH SEORANG ANAK dari orang tuamu, yang melekat kewajiban padamu untuk berbakti kepadanya. Bukannya malah engkau senang apabila orang tuamu itu cepat mati, agar engkau tidak merawatnya lagi, bebas dari tanggungan, astagfirullah…

Bahkan, Meskipun mungkin orang tua kita telah tiada, masihlah melekat kewajiban untuk Berbakti kepada orang tua kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Tidakkah ingin ambil bagian di dalamnya yakni sebagai anak yang shalih, yang selalu mendo’akan orang tua, Sebagai bakti kita kepada orang tua?

Ataukah setelah kita mapan bersama keluarga kita sendiri, dan orang tua kita sudah tiada, kemudian kita melupakannya? Kita lupa bahwa kita adalah seorang anak dari orang tua kita? Sungguh Janganlah demikian.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنْ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra:23-24)

Rasulullah bersabda, :“Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Wahai Saudaraku, marilah kita senantiasa berbakti kepada orang tua, bahwa berbakti pada orang tua itu, tidak ada batasnya, sampai kita sendiri mati, wajiblah kita berbakti kepada orang tua, meskipun seburuk apapun orang tua kita.

Bahkan ketika orang tua kita kafir sekalipun, dan meskipun orang tua kita menyuruh kita maksiat, “kita masih berkewajiban untuk berbakti kepada orang tua, tetapi terhadap maksiat itu, janganlah kau patuhi, itupun wajib dengan cara yang santun”. Masihkah kita mau durhaka?

Bagaimana jika kita sendiri nanti, yang sudah tua, jompo, sakit-sakitan, kemudian anak-anak kita memperlakukan kita seperti contoh diatas?

Renungkanlah, sesungguhnya, kita TETAPLAH SEORANG ANAK. Yang wajib berbakti kepada orang tua kita. Jika ingin hidup kita penuh keberkahan, jangan kita gores luka dihati orang tua.

Rasulullah bersabda:

رضا الله في رضا الوالدين و سخط الله في سخط الوالدين

“Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orang tua.” (HR.Al-Baihaqy)

“Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?” para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, duraka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhori)

Wahai saudaraku…
Diatas tadi, hanyalah beberapa contoh keadaan perlakuan seorang anak kepada orang tuanya, sesungguhnya masih banyak lagi kejadian sikap durhaka seorang anak pada orang tuanya, semoga contoh diatas dapat kita ambil hikmah pelajaran darinya.

Bagi yang telah melakukan itu semua, segeralah meminta ampun kepada orang tua dengan sungguh-sungguh, dan tidak akan mengulanginya lagi, dan bagi yang lainnya janganlah kita durhaka kepada orang tua kita.

Wallahu a’lam bishawab

Sumber: kabarmakkah.com





Loading...
loading...
loading...