Rahasia Dibalik 5 Pemikiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani




Abdul Qadir al-Jailani merupakan seorang tokoh besar spiritual yang lahir pada pertengahan masa Daulah Abbasiah IV atau Bani Saljuk yang tengah dilanda pergolakan.

Beliau lahir di Jailan, 1 Ramadan 470 H/1077 M. Namun begitu, nama besar beliau terkenal jauh sampai ke Nusantara, bahkan seluruh penjuru Dunia.

Tokoh sufi yang memiliki pengikut dan pengaruh paling besar di dunia Islam ini, terkenal sebagai sulthan al-Auliya (penguasanya para wali) dan Imam al-Ashfiya (pemuka para sufi). Selain itu, jamaah sufi yang dinisbatkan kepadanya, al-Qadiriyah, adalah tarekat yang paling tua usianya dan paling luas penyebarannya.

Karamah dan sejumlah kelebihan beliau memang sangatlah banyak dan mengagumkan banyak orang. Karena itu pada sebagaian masyarakat, tradisi manakiban lebih mewarnai kehidupan mereka daripada barzanji.

Hal ini dilandasi kepercayaan mereka bahwa membaca manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani akan mendapat berkah.

Menganggap Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah wali Allah memang tidak ada salahnya. Tapi sebagaian orang ada yang mengkultuskan beliau tidak pada tempatnya, seperti menyambungkan nama beliau dalam kalimat tauhid.

Karena itu, K.H. Ali Maksum dalam sebuah ceramahnya mengatakan bahwa ini merupakan praktik yang tidak dibenarkan.

Jadi, yang perlu kita lakukan saat membaca manakib siapa pun, yang terpenting adalah bagaimana mengambil suri teladan dari manakib tanpa mengurangi nilai-nilai keimanan bahkan menambah ketakwaan kita.

Jadi jangan mengkultuskan beliau secara berlebihan, lebih baik pelajari pemikiran-pemikirannya juga. Berikut ini 5 fakta tentang pemikiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang disarikan dari buku Karomah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, karya M. Zainuddin:

1. Falsafah Kematian Menurut al-Jailani
Suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani sedang merenungkan kematian. Beliau menginginkan kematian yang di dalamnya tiada kehidupan dan kehidupan yang di dalamnya tidak ada kematian.

Maksud dari kematian tanpa kehidupan adalah kematiaannya dari sesama makhluk hidup. Sehingga beliau tidak akan melihat manfaat dan kerugian dari mereka. Juga kematiannya dari dirinya dan keinginannya.

Serta kematiaannya dari tujuannya, kehidupan duniawinya dan kehidupan setelah matinya. Sedangkan kehidupan yang tidak memiliki kematian adalah, kehidupan dengan kehendak iradah-Nya Swt.

2. Seorang Sufi yang Ahli Hukum Fikih
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, di samping sebagai guru sufi, juga seorang Ahli hukum fikih. Termasuk karya fikihnya adalah Gunyat ath-Thalibin. Karena itu, ajaran-ajaran sufi beliau berorientasi pada masalah-masalah moral dan ketuhanan yang bersumber pada syariat Islam (Alquran dan Hadis).

Karena bagi seorang sufi, sebenarnya sufisme dan syariat bukanlah dua dimensi yang bertentangan tapi saling melengkapi satu sama lainnya dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

3. Pandangan al-Jailani tentang Dunia
Beliau mengajarkan konsep sufistik yang murni. Yaitu konsep yang berlandaskan syariah ilahi. Sehingga beliau melarang seseorang menceburkan diri ke dalam dunia sufistik sebelum orang itu matang dan kuat syariatnya. Beliau berkata dalam Futuh al-Ghaib, bahwa hakikat tanpa dilandasi syariat itu terlarang.

Hal ini dapat dilihat dari bagaimana beliau memandang dunia. Meski seorang sufi beliau tidak membenci dunia, juga tidak melarang seseorang memiliki dan menguasai dunia.

Tapi beliau melarang seseorang yang dikuasai dan diperbudak dunia. Bahkan beliau sangat menekankan pencarian harta yang halal, menghargai etos kerja manusai serta menolak sikap bermalas-malasan.

4. Konsep Wihdah al-Wujud Menurut al-Jailani
Dalam kitabnya Futuh al-Ghaib beliau juga menerangkan tentang konsep Wihdatul Wujud(manunggaling kawulo gusti). Menurutnya makna hakiki bersatu dengan Allah adalah terlepas dari makhluk dan kedirian serta sesuai dengan kehendak iradah Allah Swt.

Yang mana menurut beliau, saat seseorang mencapai derajat demikian, maka orang tersebut sudah dalam keadaan fana, yang dalam terminologi tasawuf berarti ketaklukan total hewani. Tapi bersatu dengan Allah tidaklah sama dengan bersatu dengan ciptaan-Nya. Beliau mengambil dasar  dari al-Qur’an,

“Tidak sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (Q.S. Syura [42]: 11.)

5. Dasar Ajaran Tasawuf al-Jailani
Setelah sedikit banyak membicarakan pemikiran Abdul Qadir al-Jailani, maka dapat kita ketahui yang paling mendasari ajaran beliau adalah larangan untuk tidak tenggelam dalam keduniawian dan penekanan untuk bersedekah dan kemanusiaan.

Tapi, beliau juga melarang sikap rahbaniyah yaitu tidak kawin dan bersikap seperti pendeta. Sebab beliau memandang dunia sebagai proses kontinuitas kehidupan akhirat.

Namun, dalam konsep tujuan akhir, yaitu bila seseorang ingin bertatap muka dengan-Nya, maka dunia dan akhirat harus dilepas sama sekali.

Sumber: datdut.com




Loading...
loading...
loading...