Puasa Kita Sia-sia




Hal pertama yang diajarkan puasa adalah tepat waktu. Subuh-subuh kita bangun, untuk sahur. Kita makan. Begitu tiba waktu azan subuh, kita berhenti makan. Tidak ada dari kita yang masih asyik makan saat azan subuh sudah berkumandang, dengan alasan,”Santai aja, kan belum 5 menit.” Bahkan, kita sudah antisipasi agar tidak kebablasan. Sepuluh menit sebelumnya kita sudah berhenti makan, saat imsak.

Pagi harinya kita pergi kerja. Terlambat 5 menit, biasa saja. Lalu kita mengadakan rapat. Terlambat 10 menit pun biasa. Tenggat waktu pekerjaan kita, terlambat 2 hari, kita masih minta tambahan waktu.

Kita hanya disiplin soal waktu dalam satu hal: makan.

Puasa itu menahan nafsu, bukan? Yang paling utama adalah nafsu makan. Tapi benarkah kita tahan nafsu makan kita? Iya, tapi hanya siang hari. Coba lihat saat berbuka, ada berapa jenis makanan terhidang di meja? Sepertinya semua jenis makanan yang kita impikan selama siang hari, hadir di situ.

Coba tanya praktisi perdagangan, apa yang terjadi menjelang bulan puasa? Harga-harga naik. Kenapa? Karena permintaan naik. Lhoooo, bukankah kita seharusnya menahan diri? Kenapa justru permintaan naik?

Puasa bagi kita hanyalah rem sementara. Begitu tiba waktu melepas rem, kita injak gas sedalam-dalamnya. Puncaknya nanti saat lebaran. Pengeluaran kita berlipat-lipat dari biasa. Tak jarang kita memaksakan diri untuk membeli, sampai berhutang segala.

Saya mendengar cerita dari sales mobil. Permintaan mobil meningkat selama puasa, puncaknya menjelang lebaran. Nanti setelah lebaran akan terjadi tumpukan kredit macet. Mobil-mobil yang dibeli ditarik karena pembelinya tidak mampu membayar angsuran. “We buy things we don’t need, using money we don’t have, to impress people who don’t care.”

Puasa itu katanya latihan sabar. Kita sabar menunggu waktu berbuka. Sabar untuk tidak marah, walau sering kebablasan juga. Seharusnya kita juga sabar antri menunggu giliran, bukan? Cobalah lihat jalan raya kita selepas asar hingga menjelang magrib. Orang-orang seperti sedang berlomba pulang ke rumah. Saling salip, saling serobot, dan saling pepet. Lho, sabarnya di mana? Di mulut belaka.

Puasa itu seharusnya membuat kita tunduk, merendahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia. Puasa itu persembahan untuk Tuhan. Sebenarnya tak ada yang tahu kita puasa atau tidak. Kita bisa saja diam-diam minum seteguk air, tanpa ada orang lain yang tahu, bukan? Jadi puasa itu sebenarnya adalah rahasia kita yang paling pribadi.

Tapi apa yang kita lakukan dengan puasa? Kita umumkan. Kita minta agar orang lain menghormati kita. Kita ini sedang melakukan ibadah mulia, maka seluruh kota harus berkhidmat untuk kita. Tutup semua tempat hiburan! Konon itu mengganggu ibadah kita. Tergoda ingin ke sana? Tutup semua kedai makan! Takut kebablasan mampir siang-siang?

Puasa akhirnya hanyalah ritual hura-hura yang berulang tiap tahun, tanpa meninggalkan bekas kebaikan di wajah kita.

Sumber: abdurakhman.com





Loading...