Perang Dunia III Mulai Dari Timur Tengah, Ini Fakta-faktanya

by

Saddam Hussein telah mengabaikan batas waktu 15 Januari 1991. Insiden antara Irak melawan pasukan multinasional tak terhindari lagi. Bau mesiu pun tercium menyengat hidung.

Keadaan di Timur Tengah memang membelalakkan mata warga dunia. Kecemasan boleh muncul tatkala jumlah masing-masing kekuatan yang berhadapan di perbatasan Arab Saudi – Kuwait terus dilipatgandakan. Juga kian gemuruhnya mesin perang.

Namun bagi pengamat karya Nostradamus, semua itu bukan barang baru. Sekitar 450 tahun lalu, Michel de Nostredame, atau acap dilatinkan, dengan Nostradamus (1503 – 1566), sudah meramal bahwa Perang Dunia III akan pecah di kawasan ini.

Ketika karyanya dibuka kembali, kecemasan yang sama sungguh terasakan.

Pangkalnya jelas, yakni terusiknya kembali sisi kontemplatif dari karya-karya tulis para peramal, serta dominannya rasa waswas melihat krisis Telut. Faktor inilah agaknya, yang menjadikan khazanah pustaka yang bertema “akhir zaman”, meriah lagi.

Lewat Centuries, karyanya setebal 10 jilid yang terbit secara bertahap (1555 – 1558), Nostradamus pernah menjelaskan salah satu “masa-masa gawat” peradaban umat manusia, yakni 1973 – 1999.

Itulah bagian terakhir dari 1000 tahun (millennium) sejarah bumi,  sebelum masuk ke babak yang disebutnya “The Golden Age”.

Memang, kurun waktu 27 tahun cukup lama. Lagipula, pengertiannya bisa membias ke macam-macam hal, macam-macam penafsiran.

Sama samarnya dengan karya Nostradamus sendiri yang lebih bernuansa sastra, terbagi dalam banyak bait (masing-masing 4 baris dengan gaya bersanjak). Kemudian dikumpulkan dalam beberapa century (meski bukan berarti “abad”).

Pengungkapannya sangat simbolik; terkadang ngambang. Ada yang menunjuk nama, benda, hal, saat, dan Iain-lain.

Inilah yang kemudian membuahkan pro-kontra pendapat  di kalangan para peneliti. Baik oleh Erika Cheetam lewat bukunya The Prophecies of Nostradamus, London, 1973 – yang direvisi pada 1981 – dan The Further Prophecies of Nostradamus1985 and Beyond, London, 1985, maupun John Hogue, Nostradamus and the Millennium, London, 1987.

Juga tokoh-tokoh lain. Seperti halnya The Great Illusion karya Norman Angell (1910), Jeane Dixon yang menulis My Life and Prophecies, atau bahkan History of the Third World War, August 1985 karya Sir John Hacket.

Bukan Apa yang Akan Terjadi Tapi Apa yang Dapat Terjadi
Ramalan, nujum, atau apa pun namanya, memang tak gampang ditafsirkan. Paling mungkin adalah merangkai sebuah kejadian, kemudian merekonstruksi berdasarkan yang sudah diramalkan.

Lagipula, segala hal harus dilihat secara  pesimistis. Sebagaimana Cheetam menjelaskan, yakni bukan “Apa  yang akan terjadi”, melainkan “Apa yang dapat terjadi”. Ini pun masih ditambah dengan kesulitan mencampurkan pengertian antara ramalan, rekaan, intuisi, atau prakiraan.

Meski jelas, banyak hal terkadang muncul setelah lebih dahulu disadari ada prediksinya.

Ketika sore, 22 November 1963 di sebuah restoran di California, Jeane Dixon, seorang wanita Amerika, mengungkapkan perasaan bahwa “Ada sesuatu menimpa Tuan Presiden,” kedua temannya tak begitu sadar.

Telepati Jeane sedang berjalan jauh, menangkap kejadian yang akan berlangsung di Dallas pada malam harinya, saat Presiden Kennedy tertembak.

Sejarah paranormal Amerika kemudian mencatat nama Jeane Dixon sebagai salah satu peramal besar,(Ruth Montgomery, A Gift of Prophecy; The Phenomenal Jeane Dixon, 1965).

Societe de Sparte, sekelompok manusia biadab yang pernah disebut dalam novel karya Matthew Philip Shiel (1896), adalah contoh lain. Diceritakan, kelompok tersebut bertanggung jawab atas pembunuhan keluarga, pria, wanita, dan anak-anak tanpa kecuali.

Mayat-mayat dimasukkan ke dalam tungku pembakaran raksasa. Temyata, 40 tahun kemudian terjadi peristiwa yang hampir sam , yakni pembantaian oleh Nazi terhadap orang Yahudi.

Meski jelas, roman itu tak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, sehingga agak mustahil bila prajurit SS Jerman tahu.

Juga fiksi petualangan bahari karya Morgan Robertson (1898), yang menceritakan kemalangan yang dialami oleh kapal transatlantik 3  baling-baling sepanjang 800 kaki (sekitar 27 meter) pada pelayaran perdana.

Seluruh 3.000 penumpangnya tewas. Ternyata, kapal Titanik karam 14 tahun kemudian (tepatnya malam 14 – 15 April 1912), dengan data-data tepat seperti digambarkan Robertson.

Melaut dalam perjalanan perdana, menggunakan 3 baling-baling dalam mesin penggeraknya, berukuran panjang 825,5 kaki (29 meter), mengangkut 3.000 orang yang seluruhnya  jadi korban.

Ramalan bisa berupa cerita yang benar-benar tertuju pada sesuatu, tapi lebih banyak berupa, ungkapan  simbolis. Bahkan tak sedikit yang terdiri dari angka-angka. Cara yang dipilih Nostradamus adalah cerita melalui baris-baris puisi.

Ini pun bisa ditafsirkan sebagai pertanda, bisa pula dicerna sebagaimana adanya gabungan makna dalam setiap kuatren itulah yang kemudian direka-reka para komentator, sebelum ataupun sesudah sebuah peristiwa berlangsung.

Terbunuhnya kakak-beradik Kennedy (“Pelaku sebenarnya tak akan pernah diketahui,” kata Nostradamus),  seseorang dengan nama keluarga De Gaulle akan memerintah Prancis dalam tiga masa jabatan (Century IX Quatrain 33), atau beberapa puisi-ramalan lain.

Soal invgsi Sovyet ke Afganistan, misalnya, diterangkannya secara jelas pada Century X Quatrain 31:

“Orang-orang Rusia akan memasuki wilayah Afganistan. Dan negara-negara Arab akan menjadi sangat terbuka.”

Boleh jadi, tak ada pengertian apa pun yang dikandungnya. Tapi boleh jadi pula, bait ini menyiratkan sesuatu. Nyatanya sejarah membuktikan, bahwa paruh kedua dasawarsa 1980-an, dunia diramalikan oleh upaya membujuk agar tentara merah segera keluar dari Afghanistan.

Dokter yang Gemar Astrologi
Kemampuan Nostradamus  dalam meramal sudah terlihat sejak kecil. Tatkala dua kakeknya, Jean St. de Remy dan Pierre de Nostredame, menangkap  kecerdasan Michel dalam matematika dan usil dengan astrologi. Teman-temannya menjulukinya Astrolog Kecil.

la suka menebak nasib  orang berdasarkan perhitungan rasi bintang, bahkan berusaha menggabungkan teori matematika dengan astrologi. Yang muncul kemudian adalah kode dan anagram, sebagaimana mengilhami karyanya di masa dewasa.

Lahir dari pasangan Renee dan Jacques de Nostredame di Saint-Remy pada 14 Desember 1503, sejak kecil diharapkan ayahnya yang notaris untuk belajar kedokteran.

Michel memang masuk ke fakultas kedokteran, meski ia merasa, dunia medis tak akan mampu menampung seluruh keinginannya. Dengan seenaknya toh gelar sarjana muda diselesaikannya dalam waktu tiga tahun.

Malah niatan yang semula tidak ada, belakangan jadi makin serius. Atas bimbingan kakeknya ia menekuni ilmu kedokteran, farmasi, dan botani. Tak sedikit penemuan dan ramuan sari tumbuhan dijadikannya resep obat.

Nampaknya tak ada soal bagi kemajuannya, kecuali kenyataan bahwa saat itu dunia kedokteran masih buta  akan berbagai macam bakteri, mengharamkan sterilisasi, dan menganggap memandikan pasien sebagai dosa.

Beberapa tahun kemudian, dengan caranya yang tak konvensional, ia berjalan ke pelosok-pelosok untuk mengamalkan ilmunya seraya mendalami farmasi. Pada saat yang sama, minat ke bidang astrologi makin diwujudkan.

Maka tahun 1529, ketika ia meraih gelar doktor medis dari Universitas Montpelier (dengan disertasi hasil penelitiannya tentang kuman ganas Le Charbon beserta ramuan pemunahnya), orang dengan gampang menghubungkan kecakapannya sebagai dokter dengan prediksi-prediksi meyakinkan sebagai astrolog.

Pasien yang datang bukan hanya untuk keluhan sakit dan konsultasi kosmetik, tapi juga minta dicarikan hari baik untuk pendirian sebuah toko. Tentu, ada juga yang berniat serius belajar banyak hal darinya.

Sekitar 1534 ia  menikah, kemudian mempunyai sepasang putra-putri. Hidupnya sangat bahagia, hingga tahun 1537, wabah penyakit ganas menyerang daerah tempat tinggalnya. Istri beserta 2 anaknya meninggal.

Nostradamus terguncang, terutama karena gugatan diri  lantaran gagal mengatasi penyakit yang menerjang keluarganya. Bukankah dulu ia meraih gelar doktor karena menemukan pemunah wabah Le Charbon, yang kurang-lebih sama ganasnya?

Ia tak menikah lagi sampai tahun 1547, saat ia bertemu seorang janda kaya, yang kemudian memberinya enam keturunan. Kemudian mengawalnya untuk serius menekuni astrologi dan botani.

Karya pertamanya bertajuk Almanacs, terbit pada 1550. Sebuah tuturan praktis tentang cuaca, daerah sekitar,tumbuh-tumbuhan, perhitungan dalam meletakkan sebuah bangunan beserta peruntungannya, dan sejenisnya.

Ternyata karya itu laris bukan main. Makin seriuslah ia menuliskan ramalan-ramalannya, yang kemudian diberi judul Centuries. Terbit perdana pada 1555, dan baru rampung hingga 10 jilid pada 1558.

Anagram-anagram, kode-kode, ungkapan-ungkapan yang berisi ramalan, karena beberapa pembuktian, kemudian mengharumkan namanya.

Terhitung sejak diterbitkan,  dinikmatinya sampai ia meninggal (2 Juli 1566), bahkan dipercaya orang pada masa-masa sesudahnya. Kebanyakan menyangkut peristiwa dan tokoh besar.

Baik Raja Charles I yang diramal akan dihukum mati, Revolusi Prands yang akan meletus tahun 1792, pria bernama Pasteur akan dianugerahi kemampuan medis setengah dewa (Century I Quatrain 25) hingga bentangan waktu sangat lebar, tahun 1999.

Sumber: intisari.grid.id

Loading...
loading...
loading...