Penyebab Kegagalan Nabi Nuh Mendidik Anaknya yang Bernama Kan’an Menjadi Durhaka




Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Nuh, nabi yang satu ini merupakan salah satu nabi yang dikisahkan dalam Al-Qur’an sebanyak 50 kali karena perjuangannya yang sangat luar biasa, bahkan beliau merupakan sebagian nabi yang Allah kasih gelar Ulul Azmi.

Kurang lebih 500 tahun beliau berdakwah mengajak kaumnya untuk menyembah Allah swt. namun tenyata hanyalah sebagian saja yang mau mengikuti dakwahnya, ironisnya istri dan anaknya yang bernama Kan’an pun menolak ajakan dakwah dari Nabi Nuh.

Yang akhirnya oleh Allah ditenggelamkan pada kejadian banjir bandang yang menimpa kaumnya yang durhaka. Kisah tentang kedurhakaan anaknya (Kan’an) tentunya tidak lagi diperselisihkan kebenarannya sebab Allah swt dalam Al-Quran secara jelas menceritakan peristiwa tersebut dalam surah huud ayat 42:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS. Hud : 42)

Jika mengacu pada teori pendidikan, tentunya hal ini menimbulkan satu tanda tanya, yaitu apa kira-kira penyebab “kegagalan” atau lebih tepatnya kedurhakaan Kan’an? Apakah memang ada kaitannya dengan pendidikan yang diberikan Nabi Nuh? Padahal beliau adalah seorang yang bertitel sebagai Nabi?

Sebab dalam teori pendidikan ditemukan sebuah rumusan bahwa kesalehan anak tergantung dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya. Begitu juga sebaliknya kegagalan anak pun disebabkan kegagalan orang tua dalam mendidiknya.

Maka dari itu tentunya ada rahasia besar dibalik kegagalan tersebut, maka jika sadar kita akan menemukan rahasia tersebut yaitu antara lain adalah Allah swt hendak mengajarkan kepada manusia bahwa hidayah adalah hak mutlak milik Allah, manusia hanya mampu ikhtiyar atau berusaha.

Bahkan sebenarnya bukan hanya Nabi Nuh saja, melainkan nabi-nabi yang lain. Hal yang serupa pun pernah menimpa Nabi Muhammad yang ditakdirkan gagal untuk mengajak pamannya memeluk agama Islam dan Allah secara tegas menyatakan:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [QS. Al-Qashash : 56]

Hanya saja, bukan hanya kegagalan yang dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an melainkan kesuksesan dari orang tua dalam mendidik pun banyak diceritakan.

Seperti halnya Lukman Al-Hakim, Nabi Ibrahim dll. Itu menandakan bahwa orang tua  memang mempunyai peranan penting dalam kesuksesan anak-anaknya.  Hanya saja hasil finalnya adalah takdir Allah swt.

Jadi benarlah apa yang dikatakan seorang bijak yang pernah mengatakan:

“Jika para pendahulunya adalah orang baik, maka keturunanya pun akan baik. Sungguh menakjubkan jika sekuntum mawar tumbuh di tengah pohon-pohon yang berduri.

Namun terkadang juga ditemukan keturunan yang buruk berasal dari para orang-orang tua yang baik, sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa untuk membolak balikkan suatu keadaan”

Wallahu A’lam Binafsil Amri Wa Haqiqotil Hal

Sumber: ngajionline.net





Loading...