Penjelasan Ilmu Ekonomi, Zakat Bisa Menekan Angka Kemiskinan

by

Pengamat ekonomi Islam Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN IB) Padang, Sumatra Barat, Ahmad Wira, menilai penyaluran zakat dengan cara yang tepat mampu menekan angka kemiskinan.

“Ada dua model yang dapat dilakukan untuk menekan angka kemiskinan melalui zakat, pertama penuhi kebutuhan konsumtif mereka dan kemudian baru memenuhi kebutuhan produktif,” kata dia, di Padang, Jumat (25/6).

Menurut dia, masyarakat miskin bisa memperkuat keadaan ekonominya ketika kebutuhan pokok sehari-hari sudah terpenuhi. Jika itu tidak dipenuhi terlebih dahulu, tambahnya, maka masyarakat akan sulit memperkuat ekonominya.

“Sederhananya begini, ketika seorang miskin diberikan uang sebesar Rp 100 ribu, dia akan membeli lontong atau membuka usaha untuk berjualan lontong? Tentu saja dia akan membeli lontong terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam penyaluran zakat tahap awal dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, nanti apabila kebutuhannya sudah terpenuhi, maka baru disalurkan zakat untuk pengembangan ekonomi dalam bentuk modal usaha.

Ia menilai model yang disebutkan sebelumnya akan mampu membantu mengurangi angka kemiskinan, tapi harus dengan cara yang ia sebutkan sebelumnya.

“Menurut kacamata saya, inilah cara yang paling efektif, tapi dengan ketentuan yang saya sebutkan tadi,” lanjutnya.

Senada dengan model yang diungkapkannya, hari ini di Jakarta, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan Lembaga Pusat Inkubasi Bisnis Baznas (PIBB) yang merupakan program pemberdayaan ekonomi untuk mempercepat pertumbuhan bisnis usaha kecil dan mikro (UKM) agar berkembang dan mandiri.

“Pembentukan lembaga ini untuk mendorong pengelolaan pembinaan dan pengembangan kepada UKM milik mustahik secara komprehensif, terstruktur, terarah, terukur, serta berkelanjutan sehingga dapat berdaya guna nyata,” tambah Ketua Baznas Bambang Sudibyo.

Direktur Amil Zakat Nasional Baznas Arifin Purwakananta mengatakan, PIBB sendiri menerapkan tiga tahapan besar dalam hal kegiatannya, yakni tahapan prainkubasi, inkubasi, dan pascainkubasi, yang akan diimplementasikan dalam pengelolaan program.

“Program ini juga akan memberikan bantuan stimulan pendanaan. Besarnya Rp 5 miliar dengan proyeksi 1.000 orang penerima manfaat. Mereka akan didorong untuk memiliki usaha yang berkembang, menguntungkan, serta berkelanjutan dalam setiap tahunnya,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Loading...
loading...
loading...