‘Minal ‘Aidin wal Faizin’ Artinya Bukan ‘Mohon Maaf Lahir dan Batin’




Dalam beberapa catatan tentang sejarah Arab PraIslam, tercatat bahwa sebelum mengenal Islam, masyarakat Arab Jahilliyyah sudah memiliki dua hari raya yang dinamakan Hari Raya Nairuz dan Mahrajan. Kaum Arab PraIslam merayakan kedua hari itu dengan menggelar pesta. Dalam pesta itu ada yang menari, bernyanyi, membaca syair, dan menyantap makanan-makanan yang lezat, serta meminum khamr sampai mabuk-mabukan.

Pascaturunnya Islam, kaum Muslimin diminta Rasulullah Saw untuk menahan diri dari kedua hari raya itu, hingga turun ketetapan bahwa “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fithri dan idul adha.” (HR Ahmad nomor 12006).

Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Salam sebuah riwayat bahkan disebutkan bahwa Rasulullah Saw merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih, hingga beliau (Saw) bersandar kepada Bilal ra saat berkhutbah.

The Point
Syahdan, menurut riwayat-riwayat yang masyhur, kalimat yang biasa diucapkan Rasulullah Saw dan para Sahabatnya di Hari Raya Idul Fitri ialah “Taqabalallahu Minnaa wa Minkum” (saja). Beberapa (tidak semua) Sahabat dan Tabi’in juga terbiasa menambahkan “shiyamana wa shiyamakum” di belakang kalimat “Taqabalallahu Minnaa wa Minkum.”

Menurut beberapa ustadz yang saya wawancarai, kalimat ‘Taqabalallaahu minnaa wa minkum’ berarti “semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian.” Dalam hal ini, yang dimaksud “Allah menerima” ialah “menerima amal ibadah kita semua (selama bulan Ramadhan).” Sementara “shiyamana wa shiyamakum” diartikan para ustadz yang saya tanyai itu sebagai “semoga puasaku dan (puasa) kalian diterima.”

Di negeri kita, ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri juga lazim diikuti oleh “Minal ‘Aidin wal Faizin.” Mayoritas kalangan awam memaknai kalimat itu “Mohon Maaf Lahir Batin.” Ini biasanya karena dalam kartu-kartu lebaran (zaman musim berkirim kartu dulu) tertulis begini:

Selamat Hari Raya Idul Fitri:

Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Padahal, menurut Bapak H. Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati, kalimat ini tidak dikenal di Arab pada zaman sekarang, apalagi di zaman Rasulullah Saw.

Kalimat “Minal ‘Aidin wal Faizin” mengandung dua kata pokok: yakni ‘aidin dan faizin –Ini penulisan berdasarkan acuan transliterasi aksara Arab-Latin, bukan aidhin atau aidzin dan faidzin atau faidhin. Dalam tulisan aksara Arabnya seperti ini:

من العائدين والفائزين

Kata ءدين ‘Aidin pada dasarnya memiliki akar kata yang sama dengan ‘Id عيد pada الفطر عيد ‘Idul Fitri. Artinya lebih-kurang’kembali.’ Dalam hal ini, yang dimaksud kembali ialah sesuatu yang terulang atau repetisi. Maka, ‘aid’ ini dapat diartikan pula sebagai sesuatu yang terulang setiap tahun (annually kalau dalam bahasa Inggris).

Faizin seakar dengan kata fawaz yang berarti kemenangan. Maka, faizin bisa dimaknai sebagai “para pemenang.” Menang dalam hal ini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha dan ampunan Allah. Sementara kata من min dalam من minal menunjukkan bagian dari sesuatu. Kata beberapa Ustaz, kalimat ini seperti doa biasa, dan seharusnya di depan kalimat ini ditambahkan ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). Jadi kalimat selengkapnya bermakna “semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)”.

Jadi, sampai di sini, jelas bahwa Minal ‘Aidin wal Faizin artinya bukan “mohon maaf lahir batin.” Kalimat tersebut tidak bermakna seperti itu.

Kalau dikaitkan dengan idul fitri, ucapan tersebut mungkin berkaitan dengan pemahaman terhadap hadits Rasulullah Saw ketika pulang dari Perang Badr, “Raja’na min jihadil ashgar ila jihadil akbar (kita baru pulang dari jihad kecil menuju jihad besar), mujahadatun nafs (perang melawan diri sendiri).

Asumsi tersebut lumayan beralasan karena dalam beberapa keterangan, dijelaskan bahwa Ramadhan adalah Syahrul Qital (bulan peperangan).

Tapi intinya, sesuai judul posting ini, sekedar meluruskan pemahaman soal Minal ‘Aidin wal Faizin. Sudah cukup jelas bahwa artinya bukan “mohon maaf lahir batin.”

Barakallaahu Fiikum

Sumber: kompasiana.com





Loading...
loading...
loading...