Mendukung Istri yang Mengandung




Sepasang suami istri sudah selayaknya hidup beriringan dan saling melengkapi. Ketika suami berduka, istrilah yang menghiburnya. Ketika istri membutuhkan pertolongan, suamilah yang membantunya. Demikian adanya seperti yang telah Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an, “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS Al-Baqarah: 187).

Ayat di atas menunjukkan bahwa suami dan istri memiliki hubungan yang timbal balik yaitu sebagai pakaian. Suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suami. Jika demikian adanya, sepasang suami istri sudah selayaknya saling mendukung satu sama lain. Begitu pula ketika istri sedang mengandung.

Allah SWT berfirman, “Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, tuhan mereka (seraya berkata), “Jika engkau memberi anak kami yang shaleh, tentunya kami akan selalu bersyukur” (Q.S. Al-A’raf: 189).

Ayat tersebut dengan jelas mengatakan bahwa seorang istri yang mengandung pada mulanya hanya terasa ringan namun lama-kelamaan akan menjadi berat. Tentunya beban berat ini tidak hanya dinilai dari makin bertambahnya berat badan sang istri, tetapi juga semakin beratnya beban psikis yang dialaminya. Di sinilah peran suami berfungsi dalam menghibur dan mengurangi tekan psikis istrinya.

Seorang suami hendaklah bisa memberikan rasa tentram dalam hati istrinya, termasuk ketentraman dalam menjalani masa kehamilan dan persiapan proses persalinan. Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah dijadikan bagimu pasangan dari golongan kamu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang,” (QS. Ar-Rum: 21).

Selain mendukung istri dari segi psikis, suami juga harus mendukung secara fisik lahiriah. Seorang wanita yang secara kodrat lemah akan semakin lemah yang bertambah-tambah ketika sedang mengandung. Allah SWT menerangkan dalam firmannya, “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,” (Q.S. Luqman: 14).

Dalam keadaan lemah inilah seorang suami berperan untuk selalu melindungi istrinya dan juga kehamilannya. Allah SWT berfirman, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan),” (Q.S. An-Nisa: 34).

Dalam ayat tersebut Allah SWT dengan jelas menyebutkan bahwa seorang suami adalah pelindung bagi istrinya. Hal ini dikarenakan suami memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan istri, terlebih ketika keadaan istri menjadi semakin lemah ketika mengandung. Oleh karena itu, seorang suami hendaklah selalu melindungi istrinya sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kepada istrinya.

Untuk dapat terus mendukung sang istri dan menjalani masa kehamilan dengan persiapan yang matang, sepasang suami istri harus memiliki ilmu yang memadai. Suami maupun istri seharusnya tahu bagaimana cara merawat kandungannya dengan baik sehingga kandungannya senantiasa sehat. Di samping itu, seorang suami istri juga hendaknya memiliki ilmu bagaimana cara mendidik anaknya yang baik ketika telah lahir kelak. Hal ini ilmu merupakan sesuatu yang penting seperti sabda Rasullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan ilmu. Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya juga dengan ilmu” (H.R. Bukhari Muslim).

Namun terlepas dari semua dukungan psikis, fisik, maupun persiapan ilmu, seorang suami juga diharapkan untuk senantiasa berdoa kepada yang Maha Kuasa. Dalam Q.S. Al-A’raf ayat 189 yang sudah disampaikan di atas dikatakan bahwa sepasang suami istri berdoa jika Allah SWT memberi anak yang sholeh, tentunya mereka akan bersyukur. Artinya, sekeras apapun yang dilakukan oleh suami istri ketika masa hamil, mereka tetap harus bergantung kepada Allah SWT. Akan menjadi seperti apa anak yang dikandung istrinya, hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Maka, sudah sepantasnya jika sepasang suami istri senantiasa berdoa agar mendapatkan keturunan yang sholeh.

Tak ada kebahagiaan yang lebih diharapkan oleh sepasang suami istri sebagai orang tua selain memiliki anak yang sholeh. Maka, sudah sepantasnya pula jika sepasang suami istri tersebut menghaturkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sumber: majalahembun.com