Makhluk Pecicilan Itu Bernama Hati, Bagaimana Aku Mengaturnya? Begini Caranya

by

Jika Hati senantiasa bersikap baik, maka Allah SWT juga akan mempertemukannya dengan hal yang baik, orang yang baik, tempat baik, dan juga kesempatan untuk berbuat baik – Unknown.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berlengan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.

Bait di atas adalah sepenggal kutipan dari buku berjudul Garis Waktu karya Fiersa Besari. Inti dari buku tersebut adalah bagaimana seorang ‘Aku’ berusaha untuk menghapus luka pada makhluk pecicilan bernama hati.

Ya sebuah hati yang sangat lembut namun juga keras dengan semua sifat yang terkandung di dalamnya. Benar saja makhluk pecicilan itu bernama hati, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekedar untuk sebuah informasi, ternyata pada kutipan di atas ternyata telah dijelaskan dalam Islam. Bagaimana Allah telah memberikan cara untuk mengobati luka yang bersumber pada hati.

Jika luka itu muncul, maka penanganan terbaiknya adalah dengan mengobati langsung pada si hati. Biasanya sindrom hati ini muncul kerena perasaan kecewa, dan kemungkinan besar disebabkan ketika sesuatu yang kita inginkan tidak sesuai harapan yang telah direncanakan.

Solusi terbaiknya adalah satu kata yang mudah diucapkan namun membuat sebagian orang lainnya kesulitan mempraktekannya, dan kata itu bernama Ikhlas.

Ikhlas adalah tentang melepaskan, bagaimana seorang hamba beribadah kepada Rabb-nya tanpa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Ikhlas juga tentang bagaimana seorang ibu mencintai anaknya tanpa melihat saat nanti. Ikhlas tentang melakukan lalu melupakannya begitu saja.

Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu.” (HR. Muslim).

Makhluk pecicilan itu bernama hati, segumpal daging yang menjadi penentu manusia. Bagaimana ia akan membawa jasad dan ruh kepada arah sesuai keadaan hati. Jika hati buruk, maka jasad dan ruh akan berbanding lurus dengan keadaan hati saat itu dengan menjadi buruk seluruhnya. Pun demikian saat hati baik, maka akan baiklah seluruhnya.

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi).

Sumber: wajibbaca.com

Loading...
loading...
loading...