Kultum Malam Kedua Bulan Ramadhan (Hakikat Taqwa Bukan Hanya Sekedar Beribadah)




Sebuah nikmat yang sangat besar adalah kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bernafas di bulan Ramadhan ini. Sehingga kita bisa melaksanakan aktifitas-aktifitas yang bernilai ibadah, khususnya puasa.

Umat Islam di seluruh dunia kembali menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kalau kita perhatikan, di bulan ini ada tiga terminologi agama yang sering muncul dibicarakan baik oleh kalangan ulama, ustadz, kyai dalam pengajian-pengajian, ataupun masyarakat kebanyakan.

Ketiga terminologi itu adalah Al Quran, puasa (shaum) dan taqwa. Mengapa ketiga terminologi itu sering muncul dalam berbagai kajian Ramadhan? Tidak bisa dipungkiri bahwa ketiga term ini mempunyai hubungan yang saling mendukung satu sama lain.

Bukankah Al Quran sebagai firman Tuhan jelas diturunkan pada bulan puasa? Sementara berpuasa diwajibkan karena ada firman Tuhan dalam Al Quran?

Adapun terminologi ketiga “taqwa atau bertaqwa” adalah esensi dan tujuan utama diwajibkannya kaum beriman untuk berpuasa, yang oleh Allah disebut pada akhir ayat tentang perintah berpuasa: “Agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.

Oleh karena itu, dapat kita ketahui bahwa salah satu hikmah dari puasa Ramadhan adalah dapat mengantarkan umat menuju taqwa. Sebagaimana firman Allah:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”

Jelas ayat di atas menyatakan bahwa taqwa merupakan tujuan utama ibadah puasa. Masalahnya kemudian apakah arti taqwa itu? Apakah taqwa itu cukup dengan mengisi hari-hari ramadhan dengan ibadah? Atau hanya dengan beramal dan memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan?

Tidak, itu bukan cermin ketaqwaan. Karena taqwa merupakan sisi ibadah yang identik dengan pengekangan yang dilandasi oleh rasa takut menyalahi perintah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa, Allah swt.

Sebagaimana diterangkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Minhajul Abidin  bahwa:

إنَّ العبادة شَطْرَانِ: شطرُالْاِكْتِسَابِ وَشَطْرُ الْاِجْتِنَابِ. فالاكتسابُ فِعْلُ الطاعة والاجتنابُ الامتناع عن المعاصى والسيئات وهو التقوى. وان شطر الاجتناب على كل حال أَسْلَمُ وَأَصْلَحُ وأفضلُ وأشرفُ للعبد من شطر الاكتساب.

Ada dua sisi dalam ibadah.  Pertama sisi pelaksanaan (syatrul iktisab), dan kedua sisi larangan (syatrul ijtinab).  Sisi pelaksanaan adalah melaksanakan berbagai perintah Allah inilah makna tho’at. Sedangkan sisi larangan  adalah mencegah berbuat maksiat dan keburukan inilah artitaqwa. Sisi larangan ini jauh lebih mulia, lebih utama, lebih baik dibandingkan dengan sisi pelaksanaan.

Maka penerapan konsep taqwa pada bulan Ramadhan lebih berupa penghindaran. Tepatnya mengekang diri dari ajakan nafsu berbuat makshiat, baik makshiat lahir maupun batin.

Karena itulah makna asal puasa yaitu al-imsak (menahan) yaitu menahan diri dari segala tuntutan nafsu. Mulai dari makan, minum, berbelanja berlebih, menggunjing, berbohong, hingga iri hati, dengki dan riya.

Semua bujukan nafsu itu harus dihindari oleh seorang yang sedang berpuasa, karena semua hal itu dapat mengurangi bahkan menghapus pahala dari ibadah puasa? Bukankah hasud di hati lebih cepat menghabiskan amal sebagaimana api melahap kayu bakar? Tidakkah ingat pula kita sabda Rasulullah saw yang mengatakan

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.

Para Jama’ah yang Dirahmati Allah
Di sinilah sesungguhnya rasa takut itu harus terus dipelihara. Takut dan kahwatir akan kegagalan kita dalam menjalankan ibadah puasa. Padahal kita tahu ibadah di dalam bulan puasa memiliki pahala yang berlipat ganda, bukankah kita akan menyesal jika pahala itu lenyap hanya karena keteledoran kita menuruti hawa nafsu?

Jika sudah ada kesadaran seperti ini pastilah kita tidak akan lagi berani menyombongkan diri dan membanggakan akan hasil amal-ibadah kita. Sehingga kepala ini akan tetap tertunduk dan hati ini tidak akan berani berburuk sangka kepada sesama, mengingat diri inipun tidak terjamin dari kesalahan.

Sumber: ngajionline.net





Loading...
loading...
loading...