Kisah Nyata: Jilbab Menolongku




Sebuah Pengalaman Sederhana

Aku mengalaminya sendiri, ketika itu aku sedang berlibur ke Medan, untuk menemui keluarga dr bapak, sudah 11 tahun aku tk pernah bertemu dg mereka.

Bapak seorang Mualaf, sebelum menikah dg ibu ku bapak beragama kristen, Bayangkan aku tinggal dg keluarga bapak yg beragama kristen selama liburan ku (± 2 Minggu)

Namun mereka sangat baik pada ku sangat bertoleransi, selama disana makan minum ku di jaga. mereka mengerti apa yg halal dan haram untukku. Dan mereka membebaskan ku untuk beribadah bahkan mereka menunjukkan mesjid terdekat dr Perumahan itu.

Aku berhijab ketika aku masuk SMA sampai sekarang, aku berhijab tanpa tau manfaat sesungguhnya hanya sekedar menggunakannya saja. yaa begitulah hanya sekedar memakai.

Selama disana aku jarang sekali makan dirumah, aku selalu di ajak makan di luar yg jelas tertera tulisan “HALAL” karena mereka tinggal di daerah yg mayoritasnya muslim tidak sulit untuk menemukan warung-warung muslim.

Aku selalu memakai hijab ku kemana mana ketika mereka mengajak aku jalan-jalan. Setelah 3 hari aku drumah mereka, mereka semua langsung cuti kerja dan mengajakku ke Danau Vulkanik terbesar di dunia, “DANAU TOBA”

Kami pergi deng menggunakan 2 mobil ya cukup ramai kan? Dan hanya aku yang memakai hijab. Kami bermalam disana selama beberapa hari. Sepanjang perjalanan aku melihat banyak sekali warung makan yang bertuliskan “BPK”.

Dagingnya digantung-gantung diwarung itu bahkan yang masih hidup pun banyak di halaman rumah-rumah warga disekitar situ, seperti kita memelihara ayam di rumah. Disana anjing berkeliaran seperti kambing di kampungku.

Kami sampai di sebuah hotel di tepi danau keindahannya masih sangat jelas di ingatanku. Hari pertama kami hanya bermain di sekitar hotel di tepi danau. Hari kedua aku diajak ketempat wisata yg cukup jauh dari hotel.

Setelah puas kami berkeliling perutpun terasa lapar kami pergi untuk mencari warung halal, kami berhenti di sebuah warung. Lalu bou ku membuka kaca jendela mobil dan bertanya pada pemilik warung itu.

“Rumah makan Nasional ya ??”

“Iya bu” pemilik warung itu menjawab.

Lalu kami semua turun dari mobil, karna aku duduk disebelah kanan aku yg paling terakhir keluar dan hanya aku yg memakai hijab. Lalu pemilik warung itu agak terkejut melihat ku segera dia bertanya. “Muslim ya bu?”

“Iya” jawabku.

“Ohh maaf ibu warung muslimnya di sebelah sana” lalu aku tersenyum dan berterimakasih padanya.

“Oh iya nya?” kata bou kepada pemilik warung itu. Pemilik warung itu hanya menganggukkan kepalanya sambil memberi senyum.

“Terimakasih ya” kata bouku.

Lalu kami berjalan menuju warung muslim yg di tunjuk pemilik warung itu. Setelah itu kami pulang, sepanjang perjalanan aku memikirkan peristiwa itu sambil terus bersyukur tanpa henti, terlintas di benakku apa yang membuat mereka bertanya padaku “apakah aku seorang muslim?”

Yaaahhh hijabku hijabku yg menyelamatkan aku.

Subhanallah :’)

Dian Lestari Hutapea
Alumni STAIN Bengkalis Jurusan Pendidikan Bahasa inggris





Loading...