Kisah Iblis Perintahkan Nabi Isa untuk Menguji Allah




Islam tidak akan sempurna sebelum seorang hamba meyakini semua rukun iman yang enam. Islam juga harus disempurnakan dengan ihsan. Agar kemusliman seorang hamba memiliki ruh dan daya pengaruh, bukan sekadar identitas.

Rukun iman yang enam wajib dipercayai dengan benar. Salah memercayai atau ingkar bisa mengakibatkan seorang Muslim dianggap kafir, sesat, dan julukan selain iman lainnya.

Di antara yang paling sering terjadi ialah soal qadha dan qadar, yang baik atau yang buruk. Sejak zaman dahulu, kaum Muslimin terpecah menjadi tiga hal dalam menyikapi taqdir. Satu golongan benar dan selamat sedangkan dua lainnya tergolong sesat, keluar dari Islam.

Suatu hari, Iblis berkata kepada Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam, “Kamu itu Ruhullah, bukan? Apakah engkau mencintai-Nya?”

Anak Maryam binti ‘Imran ini tidak mengiyakan atau menolak, tapi berkata, “Aku adalah hamba dan utusan-Nya.”

“Naiklah ke atas gunung itu,” perintah Iblis kepada Nabi yang kelak dibangkitkan di akhir zaman untuk membunuh Dajjal ini, “lalu jatuhkan diri dari puncaknya.”

Lanjut Iblis, “Dan lihatlah, apakah Tuhan yang kamu cintai akan menolongmu atau tidak!”

“Wahai yang celaka,” tegas Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam sebagaimana dikisahkan oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam al-Wa’dul Haq, “Allah Ta’ala tidak dapat diuji! Dialah yang menguji.”

Dalam dialog singkat ini terdapat hikmah nan agung tentang konsep taqdir yang benar. Inilah pemahaman pertengahan yang selamat. Tidak ada keraguan dan kebengkokan di dalamnya.

Allah Ta’ala Maha Bekehendak dan Dia memberikan kehendak kepada hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala memberikan kehendak agar hamba-hamba-Nya berusaha sebaik mungkin, lalu memasrahkannya kepada Allah Ta’ala dalam ibadah tawakkal.

Tidak dibenarkan bermalas diri dengan dalih taqdir. Adalah salah kalimat yang berbunyi, “Gak usah kerja. Rezeki sudah pasti.”

Yang benar, “Bekerjalah. Sebab Allah Ta’ala memerintahkannya. Selebihnya, serahkan hasil kepada Allah Ta’ala. Sebab rezeki merupakan Kuasa dan Ketentuan-Nya.”

Hal lainnya, Allah Ta’ala juga memberikan ketentuan adanya amalan-amalan tertentu yang bisa mengubah taqdir-Nya menuju taqdir-Nya yang lain. Ialah doa dan amal shalih lainnya.

Tentu, apa yang didapat atau terlewat adalah bagian dari taqdir-Nya. Namun Dia juga memiliki Sunnatullah yang amat pasti.

Wallahu a’lam.

Sumber: kisahikmah.com