Jangan Berani Pada Ibu, Ini 5 Kisah Anak Durhaka Dari Berbagai Negara




Jangan sekali-kali berani pada ibumu. Bagaimanapun ibumu itu surgamu. Dia surga yang sering kamu lupakan. Semua agama menempatkan ibu pada tempat yang sangat terhormat. Mengapa? Karena ibu unsur penting hidupmu.

Ada banyak kisah tentang anak yang durhaka kepada ibu dalam berbagai tradisi. Di masyarakat kita kisah Malin Kundang menjadi legenda yang selalu diceritakan secara turun-temurun.

Terlepas dari benar dan tidaknya kisah itu, yang jelas ada pesan penting bahwa mendurhakai ibu akan mengundang murka Allah.

Beragam bentuk kemurkaan Allah akan didapat oleh pelaku, tergantung sebesar dan sedurhaka apa dia pada ibunya. Berikut ini 5 kisah anak durhaka pada ibunya dari berbagai tradisi, yang disarikan dari buku Ada Surga di Tapak Kaki Ibu karya Mokh Syaiful Bakhri:

1. Bersimpuh di Bawah Tapak Kaki Ibu
Di suatu negeri terdapat seorang syekh (ahli agama—peny.) yang sangat terkenal kesalehannya. Dia termasuk seorang ahli ibadah yang baik hati dan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada suatu hari dia hendak pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Namun, ibunya tidak merestui kepergiannya karena merasa berat berpisah dengan putranya itu.

Dengan berbagai cara, syekh itu membujuk ibunya. Namun, sang ibu tetap berkeras hati tidak merestui kepergian putranya. Entahlah, apakah sebabnya sehingga syekh itu akhirnya tetap berangkat juga meski tidak mendapat restu dari ibunya.

Betapa sedih hati ibunya menyaksikan kepergian putranya. Hatinya terasa panas melihat anaknya tetap pergi ke Mekah meski dia tidak merestuinya.

Dalam kesedihannya itu, sang ibu berdoa, “Ya Allah, anakku telah memanaskan hatiku dengan api perpisahan. Berilah dia pelajaran dan balasan yang setimpal.”

Alkisah, sampailah syekh itu pada sebuah kota. Mengingat hari sudah larut malam, dia masuk ke sebuah masjid untuk melaksanakan salat.

Bertepatan dengan saat itu, tak jauh dari masjid seorang, pencuri mengendap-endap memasuki sebuah rumah. Ternyata, pemilik rumah itu tahu kalau rumahnya sedang dimasuki oleh pencuri.

Lalu, dengan serta merta pemilik rumah itu meneriaki pencuri itu sehingga orang-orang berdatangan untuk menangkap si pencuri. Ketika dikejar, pencuri itu lari menuju ke masjid. Ketika orang-orang yang mengejar pencuri itu sampai di masjid, mereka tak menemukan seorang pun kecuali seorang syekh yang sedang salat.

Tanpa berpikir panjang, orang-orang pun menangkap syekh itu. Mereka menuduhnya sebagai pencuri yang ingin mengelabui orang-orang yang mengejarnya dengan berpura-pura melaksanakan salat.

Kemudian dia diseret ke kota dengan disaksikan oleh penduduk kota. Setibanya di balai kota, syekh itu diadili dengan tuduhan telah mencuri. Penguasa kota itu lalu menjatuhkan hukuman potong tangan dan potong kaki. Matanya pun harus dicungkil.

Selanjutnya, dia diarak ke pasar. Orang-orang yang menyaksikan berteriak, “Inilah ganjaran bagi seorang pencuri.”

Namun, syekh yang sudah buntung kaki dan tangannya itu menyahut, “Janganlah kalian mengatakan begitu. Katakanlah, ‘Inilah hukuman bagi orang yang hendak bertawaf di Baitullah tanpa mendapat restu dari ibunya.’”

2. Juraij, Si Rahib yang Mengabaikan Panggilan Ibu
“Seandainya Juraij, si rahib, itu mengerti agama, niscaya dia akan tahu bahwa menjawab panggilan ibunya itu lebih utama dari beribadah kepada Allah,” kata Nabi dalam salah satu hadis.

Juraij adalah seorang rahib pada zaman Bani Israil. Ia senantiasa beribadah kepada Tuhan dalam biaranya. Pada suatu waktu, ibunya datang. Ibunya lalu memanggilnya. Malangnya, saat itu dia sedang beribadah.

“Juraij… Juraij!” panggil sang ibu.

Akan tetapi, dia tidak menjawab panggilan ibunya karena sedang khusyuk beribadah kepada Allah. Karena seruannya tak digubris oleh anaknya, sang ibu pun kesal. “Mudah-mudahan Allah mengujimu dengan seorang pelacur,” doa sang ibu.

Tak jauh dari biara Juraij, ada seorang gadis remaja. Suatu ketika dia keluar dari rumahnya untuk suatu keperluan. Di tengah jalan, dia digoda oleh seorang penggembala kambing.

Rupanya gadis remaja itu terpikat oleh godaan penggembala kambing. Mereka menuju biara untuk berpacaran. Gelora nafsu muda-mudi tak kuasa mereka tahan sehingga terjadilah perzinaan di biara Juraij.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, si gadis pun hamil. Lalu, tersebarlah berita kehamilan gadis itu. Orang-orang ramai membicarakan kehamilan gadis itu karena belum jelas siapa laki-laki yang telah menghamilinya.

Peraturan di negeri itu tidak menoleransi perzinaan. Siapa yang kedapatan berzina akan diganjar dengan hukuman berat. Setelah melahirkan anaknya, sang raja memanggil gadis itu.

“Siapa yang telah menghamilimu?” tanya sang raja.

Rupanya gadis remaja itu tak mau mengakui perzinaannya dengan penggembala kambing. Di hadapan raja, dia menjawab, “Juraij. Saya telah berzina dengan rahib itu.”

Mendengar pengakuan seperti itu, sang raja pun segera memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap Juraij. Ketika para pengawal raja datang ke biara untuk menangkap Juraij, dia ternyata sedang mengerjakan salat. Mereka memanggilnya berkali-kali, namun Juraij tak menjawab.

Dengan penuh emosi, mereka juga merobohkan biaranya. Mereka menangkap Juraij dan mengikat lehernya dengan tali. Mereka membawanya ke istana. Sesampainya di istana, sang raja berkata, “Kamu adalah seorang ahli ibadah, tetapi kamu telah merusak kehormatan orang lain dan melakukakan apa yang diharamkan.”

“Pelanggaran apa yang saya lakukan?” Juraij bertanya dengan penuh penasaran lantaran dia tidak merasa melakukan pelanggaran apa pun.

“Kau telah berzina dengan perempuan ini,” kata raja sambil menunjuk gadis yang berzina dengan penggembala kambing itu.

Juraij pun segera menjawab, “Saya tidak pernah melakukannya!”

Mereka tidak memercayai apa pun yang dikatakan Juraij, meskipun si rahib ini telah bersumpah. Lalu, Juraij berkata, “Tolong antarkan saya kepada ibu saya.”

Mereka lantas mengantarkannya kepada ibunya. “Bu, Ibu telah mendoakan yang tidak baik terhadapku dan Allah telah mengabulkan doa Ibu itu. Doakanlah agar saya terhindar dari cobaan ini,” pinta Juraij pada ibunya.

Mendengar permintaan anaknya itu, si ibu langsung berdoa, “Ya Allah, jika Juraij Engkau uji karena doaku, maka selamatkan dia dari ujian itu.”

Juraij lalu kembali ke istana. “Mana gadis itu dan bayinya?” tanya Juraij.

Mereka lalu membawa si gadis dan bayinya itu ke istana. Mereka bertanya lagi kepada gadis itu, “Siapa yang telah berbuat zina denganmu?”

Dia tetap menjawab bahwa Juraij yang telah berzina dengannya. Lantas Juraij memegang kepala bayi itu. “Demi Zat yang telah menciptakanmu, beritahukanlah siapa sebenarnya ayahmu?” kata Juraij pada bayi itu.

Atas izin Allah, bayi itu dapat berbicara. “Ayahku yang sebenarnya adalah Fulan (nama samaran) si penggembala kambing,” kata bayi itu.

Sewaktu gadis itu mendengar apa yang dikatakan bayinya, dia baru mengakui bahwa apa yang diucapkan bayi tersebut benar.

“Kamu benar, Nak, dan saya yang bohong. Memang saya berbuat zina dengan Fulan si penggembala kambing,” kata si gadis pada bayinya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa gadis itu masih dalam kondisi hamil, lalu Juraij bertanya kepadanya, “Di manakah kamu berbuat zina?”

Perempuan itu menjawab, “Di bawah pohon yang dekat biaramu.”

Juraij berkata, “Izinkanlah aku keluar untuk melihat pohon itu.”

Setelah sampai di pohon itu, Juraij berkata, “Pohon, demi Zat yang telah menciptakanmu. Aku minta agar kamu memberitahukan kepadaku siapa sebenarnya yang berbuat zina dengan gadis ini?”

Setiap dahan dari pohon itu menjawab, “Penggembala kambing.”

Kemudian Juraij mengusap perut gadis itu dengan jari-jarinya. “Nak, siapa ayahmu?” tanya Juraij pada bayi yang masih di kandungan itu.

Lantas ada suara dari dalam perut, “Ayahku adalah penggembala kambing!”

Setelah mendengar jawaban itu, sang raja membebaskan Juraij dari segala tuduhan. “Izinkan aku membangun biara Anda dengan emas,” pinta sang raja sebagai tanda penyesalan.

Juraij menjawab, “Jangan!”

Sang raja berkata lagi, “Bolehkah dengan perak?”

Juraij menjawab, “Jangan, cukup dengan tanah seperti semula.”

Kemudian mereka pun membangun biara Juraij dengan tanah seperti semula.

3. Karena Kikir Pada Ibu
Diceritakan, pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a. ada seorang lelaki yang bekerja sebagai seorang pedagang. Pada suatu hari ibunya datang untuk meminta sesuatu darinya. Belum sempat dia memenuhi permintaan ibunya, istrinya mencegahnya. “Ibumu ingin supaya kita hidup miskin. Setiap hari selalu menuntut uang belanja,” kata istrinya.

Rupanya pedagang itu lebih mendengar kata-kata istrinya daripada memenuhi permintaan ibunya. Dengan kecewa, ibunya pulang bertangan hampa. Anaknya tak memberinya uang sepeser pun.

Pada suatu hari, pedagang itu pergi untuk berdagang ke tempat yang cukup jauh dari rumahnya. Di tengah perjalanan, dia dihadang oleh para perampok. Semua barang dagangannya dirampas, sedangkan dia sendiri ditanggkap dan diikat.

Tanpa belas kasihan, para perampok memotong kedua tangannya lalu dikalungkan di lehernya. Setelah puas menyiksa pedagang itu, para perampok melemparnya di tengah jalan dan dibiarkan terkapar dalam keadaan yang mengenaskan.

Untunglah ada rombongan kabilah yang lewat di tempat dia terkapar. Kabilah tersebut menolongnya dan membawa pulang ke rumahnya. Ketika sanak keluarganya menjenguk, si pedagang ini berkata, “Inilah balasan akibat aku tidak memenuhi permintaan ibuku.”

Ibunya yang mendengar keadaan anaknya segera datang menjenguk. “Nak, ibu sangat prihatin atas musibah yang telah menimpa dirimu,” kata sang ibu.

“Bu, sudilah kiranya Ibu memaafkanku dan rida kepadaku. Aku telah mendapat balasan atas perlakuanku kepada Ibu,” sahut si pedagang pelit ini memelas.

Ibunya menjawab, “Nak, ibu telah memaafkan dan meridaimu.”

Setelah mendapat maaf dan rida dari ibunya, esok harinya kedua tangannya yang telah terpotong menjadi pulih seperti semula.

4. Rida Sang Ibu Menjelang Ajal
Ali bin Abi Thalib r.a. meriwayatkan, ketika aku dan beberapa sahabat berada bersama Rasulullah saw., datanglah seorang pesuruh Abdullah bin Sallam.

Pesuruh tersebut mengabarkan bahwa Abdullah bin Sallam sedang sakit keras dan meminta agar Rasulullah saw. datang untuk menjenguknya.

Rasulullah saw. bergegas berangkat dan mengajak para sahabatnya untuk mendatangi rumah Abdullah bin Sallam. Setibanya di sana, Rasulullah saw. berdiri di sebelah kepala Abdullah bin Sallam yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.

Rasulullah saw. lalu membisikkan ke telinganya. “Abdullah, ucapkanlah, ‘Asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu (aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja yang tidak ada sekutu baginya dan Muhammad adalah hamba sekaligus rasul-Nya),’” tuntun Nabi pada Abdullah bin Sallam.   

Rasulullah saw. mengulangi membisikkan kalimat itu sampai tiga kali, namun lidah Abdullah bin Sallam tetap tertutup rapat. Rasulullah pun mengucapkan, “La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim (tiada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah yang Mahaluhur dan Mahaagung).

Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk menemui istri Abdullah bin Sallam dan menanyakan apa yang telah diperbuat oleh suaminya dalam hidupnya sehingga sulit untuk mengucapkan kalimat syahadat menjelang kematiannya.

Bilal pun berangkat menemui istri Abdullah bin Sallam. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, istri Abdullah bin Sallam bertutur, “Saya tidak pernah melihatnya meninggalkan salat berjamaah bersama Rasulullah. Dia juga gemar bersedekah setiap hari. Namun, ada satu hal yang saya ketahui, ibunya tidak rida kepadanya.”

Bilal segera menyampaikan hal itu kepada Rasulllah saw. Kemudian setelah mengetahui akan ketidakridaan ibu kandung Abdullah bin Sallam, Rasulullah menyuruh Bilal untuk memanggil ibu Abdullah bin Sallam.

Sesampainya di sana, Bilal menyampaikan panggilan Rasulullah saw. itu. “Untuk apa saya harus memenuhi panggilan Rasulullah?” kata ibu Abdullah bin Sallam.

Bilal menjawab, “Untuk memperbaiki hubungan antara Anda dan anak Anda yang saat ini sedang menghadapi sakaratul maut.”

Namun, sang ibu tidak mau pergi untuk melihat saat-saat terakhir kehidupan anaknya. Hal itu ternyata karena sang ibu sangat kecewa dengan perlakuan anaknya selama ini. Karena kecewa, maka sang ibu tidak rida dunia dan akhirat kepada anaknya.

Karena ibu Abdullah bin Sallam tidak mau diajak untuk menemui Rasulullah saw. dan anaknya yang sedang di ambang kematian, akhirnya Bilal pulang. Sesampainya di hadapan Rasulullah saw., Bilal menyampaikan penyesalannya yang tidak dapat mendatangkan ibu Abdullah bin Sallam.

Rasulullah saw. kemudian mengutus Ali bin Abi Thalib r.a. dan Umar bin Khaththab r.a. untuk membujuk ibu Abdullah bin Sallam agar datang memenuhi panggilan Rasulullah saw. Dengan bujukan kedua sahabat itu, datanglah si ibu dan diperlihatkan kepadanya keadaan si anak.

“Aku tidak menghalalkan hakku dan tidak meridaimu di dunia dan di akhirat,” kata si ibu pada anaknya yang sedang berbaring menjemput maut.

Lalu, Rasulullah saw. meminta perempuan tua itu untuk meridai putranya. “Bu, ridailah anakmu dan bebaskanlah dia dari tuntutanmu,” kata Nabi.

Si ibu menjawab, “Bagaimana aku bisa meridainya? Dia telah memukulku dan mengusirku dari rumahnya, menyakitiku, dan melanggar perintahku.”

Rasulullah saw. berkata lagi, “Kalau begitu, aku ambil alih hakmu atas dia. Atau, ridailah dan bebaskan anakmu dari tuntutanmu.”

Mendengar itu, luluhlah hati sang ibu. Dengan disaksikan oleh Rasullah saw. dan para sahabatnya, si ibu berkata, “Saksikanlah, Rasulullah, bahwa aku telah meridai anakku ini dan membebaskan dia dari segala tuntutanku.”

Kemudian Rasulullah saw. membisikkan kalimat syahadat di telinga Abdullah bin Sallam. Setelah si ibu rida dan mencabut tuntutannya, mulut Abdullah bin Sallam dapat mengucapkan kalimat syahadat dengan lancar. Setelah itu, Abdullah bin Sallam menghembuskan nafas yang terakhir.

Seusai melaksanakan salat jenazah dan menguburkan mayat Abdullah bin Sallam, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai kaum muslimin, barangsiapa yang tidak berbakti kepada ibunya, maka dia akan keluar dari dunia tanpa bersyahadat.”

5. Meringkik Seperti Keledai
Dikisahkan oleh ‘Atha bin Yassar bahwa pada suatu hari ada sekelompok musafir berjalan melintasi gurun. Ketika hari sudah senja, mereka memutuskan untuk singgah dan bermalam di sana.

Sebelum sempat istirahat dengan pulas, tiba-tiba mereka mendengar suara ringkikan keledai yang terus menerus. Suara itu tentu saja mengganggu istirahat mereka yang telah seharian berjalan di bawah terik matahari yang menyengat.

Terusik oleh suara ringkikan, mereka bangun dan pergi menuju tempat yang dianggap sebagai sumber datangnya suara ringkikan keledai itu. Akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah reot yang dihuni oleh seorang perempuan tua.

Mereka memberikan salam kepada perempuan itu dan berkata kepadanya, “Kami mendengar suara ringkikan keledai, tetapi kami tidak melihat keledai di sini.”

Perempuan tua itu menjawab, “Oh, itu adalah suara anakku.”

Betapa terperanjatnya para musafir dengan jawaban yang diberikan oleh perempuan tua itu. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa suara ringkikan itu ternyata berasal dari suara anak si perempaun tua. Sebelumnya, mereka menduga kalau suara itu adalah suara ringkikan keledai.

“Mengapa anak Ibu meringkik seperti keledai?” tanya mereka.

Perempuan itu lalu mengisahkan tentang anaknya yang dikutuk menjadi seperti keledai. “Dulu dia suka memanggilku, ‘Keledai, ke sini!’ ‘Pergi sana, Keledai,’ dan sebagainya,” paparnya, “lalu, aku berdoa kepada Allah Swt. agar anak itu menjadi keledai. Sejak saat itulah, dia selalu meringkik setiap malam sampai pagi,” lanjutnya.

Tentu saja, kisah si anak durhaka yang meringkik seperti keledai itu membuat penasaran para musafir. Mereka ingin melihat secara langsung bagaimana keadaan si anak durhaka itu. “Maukah Anda mengantar kami untuk melihatnya?” pinta para musafir kepada perempuan tua itu.

Perempuan tua itu tak keberatan dan memenuhi keinginan para musafir untuk melihat secara langsung keadaan anaknya. Dia mengajak para musafir itu menuju tempat tinggal anaknya selama ini.

Sesampainya di sana, ternyata anaknya berada di dalam sebuah lubang. Punggungnya juga terlihat seperti punggung keledai.

Sumber: datdut.com




Loading...
loading...
loading...