Inilah Nenek Penjaga Wahyu Allah




Ada banyak keutamaan yang akan diperoleh bagi siapa saja yang membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Salah satunya menjadi penghuni surga. Namun menghafal Al-Qur’an bukanlah perkara yang mudah. Sebab hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat dan mampu konsistenlah yang bisa melakukannya.

Namun tahukah kamu bahwa ternyata ada seorang nenek yang merupakan penjaga wahyu Al-Qur’an? Ia merupakan wanita penghafal 10 riwayat bacaan Al-Qur’an. Bahkan ia sangat terkenal di bidang qiraat.

Meski demikian nenek ini memiliki keterbatasan fisik, dimana kedua matanya tidak lagi mampu melihat atau buta. Namun dikarenakan semangat dan tekadnya yang kuat, ia mampu menjadi penghafal Al-Qur’an dengan 10 riwayat bacaan yang berbeda-beda. Penasaran siapa nenek tersebut ? Berikut ulasan selengkapnya.

Nenek ini bernama Ummu as-Saad binti Muhammad Ali Najim. Ia dilahirkan pada 11 Juli 1925 di desa Bandariyah, yaitu sebuah desa yang terletak di sebelah utara Kota Kairo, Mesir.

Nenek ini terlahir sebagai seorang wanita yang normal, namun saat menginjak remaja sebuah peristiwa menimpanya sehingga ia kehilangan penglihatannya. Pada saat itu keluarganya berusaha mengobati matanya dengan pengobatan tradisional yang terkenal di daerah tersebut. Namun upaya mereka justru membuat Ummu Saad menjadi buta total.

Telah menjadi kebiasaan masyarakat disana bila ada seorang anak yang buta, maka mereka akan mengkhidmatkan sang anak secara total untuk Al-Qur’an. Begitu pula dengan Ummu Saad, bahkan di umurnya yang menginjak 15 tahun ia berhasil mengkhatamkan hafalannya.

Setelah berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an Ummu Saad semakin giat menambah pengetahuannya tentang kitabullah. Sehingga ia mendatangi seorang ulama wanita bernama Nafisah binti Abu Ala seorang ulama Al-Qur’an di zamannya untuk belajar Qiraah 10.

Namun pada saat itu Syaikhah Nafisah mensyaratkan suatu hal yang berat bagi siapa saja yang ingin mempelajari Qiraah 10 yaitu mereka tidak boleh menikah selama-lamnya. Sebab menurutnya dengan menikah para wanita akan tersibukkan dengan rumah tangga sehingga mereka akan luput dari 10 riwayat hafalan Al-Qur’an yang mereka tekuni. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan oleh syariat dan tidak boleh dipenuhi.

Namun Nafisah tetap teguh pada pendiriannya, sehingga saat wafatnya pun ia masih menyandang status gadis di usia 80 tahun. Dan syarat berat ini diterima oleh Ummu Saad. Bahkan ia siap mengabadikan hidupnya untuk menjaga 10 riwayat Al-Qur’an tersebut.

Dan pada usia 23 tahun, Ummu Saad berhasil menghafalkan 10 riwayat bacaan Al-Qur’an. Bahkan Syaikhah Nafisah pun memberikan ijazah pengakuan kepadanya sebagai bukti kokohnya hafalan Ummu Saad.

Ummu Saad menuturkan bahwa, “Selama 60 tahun menghafal, membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an membuatku tidak lupa sedikitpun bagian Al-Qur’an. Bahkan aku ingat setiap ayat, tahu surat dan juz dari ayat tersebut. Serta tahu detil ayat-ayat yang mirip atau serupa dengan ayat lainnya. Selain itu aku tahu bagaimana membawa dengan setiap riwayat bacaan (langgam) ayat tersebut dalam setiap qiraat. Dan aku merasakan betapa aku menghafalkan Al-Qur’an sebagaimana aku menghafal namaku sendiri. Aku tidak membayang-bayangkan karena lupa, bahkan satu huruf pun aku tidak lupa dan keliru pengucapannya. Dan aku tidak mengetahui ilmu selain Al-Qur’an dan qiraatnya. Aku tidak pernah menghafal. belajar atau bahkan mendengar pelajaran selain Al-Qur’an, matan ilmu qiraat dan tajwid. Selain itu, aku tidak mengetahui bidang ilmu lainnya.”

Dengan demikian kita bisa mengetahui bahwa betapa murninya bacaan Al-Qur’an Ummu Saad sebab pikirannya tidak terpengaruh dengan ilmu-ilmu lainnya.

Berikut ini silsilah riwayat bacaan Al-Qur’an Ummu Saad, dimana qiraat 10 Ummu Saad dari asy-Syathibiyyah dan ad-Durr, yang diperolehnya dari Syaikhah Nafisah binti Abu al-Ala dari Abdul Aziz Ali Kahil dari  Abdullah ad-Dasuqi dari Syaikh Ali al-Hadadi –Syaikhul Qurra di negeri Mesir- dari Syaikh Ibrahim al-Ubaidi dari Syaikh al-Jami’ al-Azhar, Muhammad bin Hasan as-Samnudi dari Ali ar-Rumaili dari Syaikh Muhammad bin Qasim al-Baqri dari Syaikh Abdurrahman bin Syuhadzah al-Yamani dari Ali bin Ghanim al-Maqdisi dari Muhmmad bin Ibrahim as-Samdisi dari asy-Syihab Ahmad bin Asad al-Amyuthi dari Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Jazari asy-Syafi’i dari Abdurrahman bin Ahmad al-Baghdadi dari Muhammad bin Ahmad ash-Sha-igh dari Ali bin Syuja’ul Kamal adh-Dharari (Imam asy-Syathibi) dari Imam Abi al-Qasim dari Imam Ali bin Muhammad bin Hudzail al-Balansi dari Abi Dawu Sulaiman bin Najah dari Imam Abi Amr ad-Dani dari Thahir bin Ghalbun dari Ali bin Muhammad al-Hasyimi dari Ahmad bin Shal al-Asynani dari Abi Muhammad Ubaid bin ash-Shabah dari Hafsh bin Sulaiman dari Ashim bin Bahdalah bin Abi an-Najud dari Abi Abdurrahman Abdullah bin Hubaib as-Silmi dari Utsman dan Ali dan Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dari Rasulullah SAWﷺ yang menerima wahyu dari perantara Malaikat Jibril dari Allah SWT.

Demikianlah rantai periwayat Ummu Saad bersambung hingga Rasulullah SAW.

Seperti halnya Syaikhah Nafisah, Ummu Saad juga mendermakan waktunya untuk memberikan pengajaran bagi para pelajar Al-Qur’an yang ingin mengambil riwayat darinya. Setiap muridnya ia berikan waktu dan perhatian khusus. Masing-masing mereka memiliki waktu yang tidak lebih dari 1 jam setiap harinya. Setelah mereka membaca, Ummu Saad pun mengoreksi kualitas bacaan surat yang telah mereka hafalkan. Ia juga memperbaiki kesalahan muridnya juz per juz hingga selesai 30 juz. Bhakan koreksi bacaan atau tahsin al-qiraah dilakukan per qiraat. seperti itulah ia membimbing murid-muridnya dengan detil.

Bahkan murid-murid Ummu Saad ada yang tua dan muda, laki-laki maupun perempuan dengan berbagai macam profesi. Ada yang insyinyur, dokter, para guru, dosen-dosen, mahasiswa dan lain sebagainya.

Namun diantara murid-muridnya ada yang hanya mengambil satu qiraat, dan sedikit diantara mereka yang mengambil 10 qiraat. Setiap selesai satu qiraat, maka Ummu Saad pun memberikan ijazah tertulis sebagai pengakuan atas kualitas bacaan sang murid.

Dan salah seorang muridnya ada yang menghadiahi Ummu Saad dengan sebuah tiket perjalanan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Bahkan sang murid juga menjamunya disana, dan dalam kesempatan itu pula ia memberikan sanad bacaan kepada puluhan penghafal Al-Qur’an dari berbagai negara. Pada saat itu pula ia memberikan ijazah termuda kepada seorang penghafal Al-Qur’an dari Arab Saudi yang baru berusia 10 tahun.

Namun Ummu Saad tidak bisa menepati janjinya kepada Syaikhah Nafisah, sebab ia tidak mampu untuk menahan dirinya saat dilamar oleh seorang lelaki yang juga muridnya, Syaikh Muhammad Farid Nu’man, seorang qori terkemuka di Iskandariyah. Lelaki ini juga mengalami kebutaann. Ummu Saad mengatakan bahwa ia telah mengajari muridnya tersebut selama 5 tahun. Dan setelah ia menyelesaikan belajar 10 Qiraat dan mendapat riwayat dariku, dan ia pun melamarku maka aku menerimanya.

Akan tetapi kini Ummu Saad telah berpulang ke rahmatullah. Ia meninggal di waktu fajar pada tanggal 16 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan 9 Oktober 2006. Allah SWT telah menganugerahkannya umur yang cukup panjang yaitu 81 tahun. Dan jenazahnya dishalatkan di wilayah Bahri, Iskandariyah, Mesir.

Sumber: palingyunik.blogspot.co.id





Loading...