Inilah Masjid Tiban di Malang yang Konon Dibangun Dalam 1 Malam

by

Jika berkunjung ke Malang, jangan kaget jika mendengar cerita adanya masjid yang dibangun dalam semalam. Masjid Tiban atau yang juga dikenal sebagai masjid jin ini terletak di Jalan Wakhid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, Desa Sananrejo Kecamatan Turen Kabupaten Malang.

Masjid megah setinggi sepuluh lantai ini berdiri di tengah permukiman penduduk. Julukan Masjid Tiban disematkan pada masjid ini karena pembangunannya yang amat kilat.

Masyarakat tak pernah melihat adanya proyek pembangunan di lokasi itu. Namun dalam semalam, tiba-tiba berdiri bangunan di tengah rumah permukiman warga. Masjid yang sekaligus pondok pesantren tersebut kini ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain karena cerita gaib yang beredar, pengunjung juga penasaran melihat langsung bangunan masjid yang unik.

Iphoenk HD Purwanto, santri yang biasa menjadi pemandu di masjid membantah kisah yang santer beredar itu. Menurutnya pembangunan masjid memang tidak melibatkan masyarakat sekitar dan tidak menggunakan alat-alat berat. “Wajar kalau masyarakat tidak tahu ada pembangunan masjid di balik pagar karena semua dikerjakan oleh santri,” jelas pria yang akrab disapa Gus Ipung ini.

Nama Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah ini adalah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah). Nama itu mengandung makna lautannya lautan yang berasa madu dan memiliki keutamaan kasih sayang. “Rintisan ponpes dimulai sejak 1963,” imbuh Gus Ipung.

Menurutnya, cikal bakal masjid tiban berawal dari mushala yang sering dipakai warga setempat. Pemilik mushala yaitu Romo KH Rahmat Bahru Mafdoluddin Sholeh dan istrinya Hajjah Luluk Rifqoh Al Mahbubah memang berniat menjadikan mushala sebagai pusat ibadah dan pembelajaran. Kini, ponpes Bi Ba’a Fardlah menampung 350 santri beserta keluarganya.

Perencanaan pembangunan masjid pun tak bisa sembarangan. Pencetus ponpes yang oleh masyarakat dipanggil Rama Kyai dan Bu Nyai membangun masjid dan ponpes berdasarkan shalat istikharah. Tak ada campur tangan arsitek apalagi alat berat selama pembangunan masjid.

Seluruh proses pembangunan mulai pembuatan batu bata, pembuatan ornamen masjid, hingga pengadukan semen dilakukan secara manual oleh para santri. Maka saat menginjakkan kaki ke komplek seluas 6,5 hektar ini, pengunjung disuguhi arsitektur bangunan yang tak biasa. “Orang menyebutnya mirip campuran arsitektur Timur Tengah, Thailand, dan Jawa,” jelas Gus Ipung.

Wawan Hermawan adalah salah satu yang datang karena penasaran dengan cerita gaib masjid ini. Tidak ada rasa takut pada dirinya saat mendengar cerita tersebut. “Semakin penasaran dan setelah datang sendiri baru percaya masjid dibangun manusia karena melihat orang-orang bekerja,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Loading...
loading...
loading...