Ini Penyebab Utama Istri dan Ibu Mertua Sering Tidak Akur




Benarkah hubungan antara wanita dan ibu mertua kerap tidak akur dan rentan menimbulkan konflik keluarga? Hasil survey yang dilakukan di University of Wisconsin-Stevens Point (UWSP), Amerika Serikat mendukung anggapan tersebut.

Bersaing merebut perhatian dari anak lelaki maupun suami adalah salah satu alasan utama kenapa hubungan wanita dan ibu mertua seringkali diwarnai ketegangan dan kekhawatiran. Menurut Dr Sylvia L Mikucki-Enyart, asisten profesor ilmu komunikasi di UWSP yang memimpin penelitian, seorang ibu jauh lebih cemas dengan pernikahan anak lelaki ketimbang jika anak perempuannya yang akan menikah.

Seperti dikutip dari Daily Mail, lebih dari 133 pengantin baru wanita yang disurvei menyatakan merasa cemas terhadap hubungan mereka dengan ibu mertuanya. Rata-rata takut sang mertua akan berbicara hal-hal buruk tentangnya kepada suami, atau ikut campur terlalu jauh dalam rumah tangga mereka.

Hasil penelitian terbaru ini mendukung studi sebelumnya yang dilakukan psikolog dari Cambridge University, Terri Apter pada 2008. Ia menemukan ada 60 persen wanita yang merasakan ada ketegangan dengan ibu dari suami mereka, sementara pria hanya 15 persen.

Lalu, apa yang dirasakan para ibu yang anak lelakinya menikah? Dr Sylvia pun menyurvei 89 ibu untuk mengetahui kekhawatiran terbesar mereka terhadap pernikahan putranya.

Hasilnya, ia menemukan ibu umumnya mencemaskan kesejahteraan hidup anaknya. Mereka juga takut kalau anak yang sejak kecil dibesarkan dengan penuh kasih sayang tidak sering mengunjunginya setelah menikah dan takut istri barunya akan mengubahnya jadi orang lain.

Para ibu juga takut kalau menantunya tidak bisa masak, anaknya tidak bahagia dengan pernikahan. Mereka juga takut jadi tidak terlalu diandalkan oleh sang anak karena sudah ada wanita lain di kehidupannya.

Ketegangan antara wanita dan ibu mertua semakin bertambah dengan adanya jiwa persaingan. Keduanya berlomba-lomba ingin jadi sosok yang lebih baik dalam mengurus dan mengayomi suami/anak mereka. Dr Sylvia mengatakan, wanita memang dilahirkan punya jiwa kompetitif yang kuat dengan sesamanya.

Terlebih lagi, yang menyebabkan ibu mertua dan menantu perempuan sering tidak akur karena keduanya tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap satu sama lain. Dari penelitian juga terungkap, ternyata bukan hanya dua pihak yang merasakan stres, tapi juga lelaki di antara mereka.

Ketika istri dan ibu mereka bertengkar, insting pria mengatakan kalau dia harus sembunyi atau menghindar dari konflik. Tapi di sisi lain pria harus mengutamakan istri mereka.

“Suami harus bisa jadi penengah. Dia harus bisa memprioritaskan istrinya dan itu yang harus orang lain tahu. Di sisi lain, wanita sebaiknya tidak menjadikan ini sebagai sebuah kompetisi (dengan ibu mertua). Keduanya mencintai pria yang sama tapi dengan cara yang jauh berbeda,” ujar Sylvia.

Sumber: detik.com





Loading...