Hukum Mandi dan Wudhu’ Telanjang




Mandi dalam keadaan te*anjang bulat hukumnya boleh (mubah) tetapi yang lebih utama (afdhol) tidak dengan tel*njang.

وجاز تكشف له ) أي للغسل ( في خلوة ) أو بحضرة من يجوز نظره إلى عورته كزوجة وأمة والستر أفضل وحرم إن كان ثم من يحرم نظره إليها…… يسن لمن اغتسل عاريا أن يقول باسم الله الذي لا إله إلا هو لأن ذلك ستر عن أعين الجن

“Diperbolehkan membuka aurat ketika mandi di dalam ruangan atau di samping mahram yang boleh melihat auratnya, seperti istri dan budak. Akan tetapi mandi dengan menutup aurat itu lebih utama. Diharamkan mandi dengan membuka aurat ketika di tempat tersebut ada orang lain yang haram melihat auratnya… Disunnahkan bagi yang mandi dengan te*anjang agar membaca do’a; ‘bismillahilladzi laa ilaha illa huwa’. Karena hal itu bisa menjadi penutup dari penglihatan jin.” (Kitab Fathul Mu’in juz 1 hlm 80)

Suami Istri Mandi Bareng

(فرع) اعلم أن نظر المرأة إلى زوجها جائز في جميع بدنه كعكسه،نعم إن منعها من النظر إلى عورته إمتنع عليها النظر اليها بخلاف العكس فإنه جائز قطعا لأنه يملك التمتع بها ولا تملك التمتع به،لكن نظره الى فرجها قبلا أو دبرا مكروه إذا كان بغير حاجة والى باطنه أشد كراهة.

“(Cabang) Ketahuilah, sesungguhnya melihatnya seorang istri kepada suaminya itu boleh pada semua badannya, hal ini seperti kebalikannya (suami melihat istri), akan tetapi jika suami melarang kepada istri dari melihat auratnya suami, maka terlarang bagi istri melihat aurotnya suami. Berbeda halnya dengan kebalikannya (istri melarang suami melihat auratnya istri) maka melihatnya suami kepada aurat istri hukumnya boleh secara pasti, karena suami memiliki hak tamattu’ (bersenang-senang) dengan istri sedangkan istri tidak memiliki hak tamattu’ dengan suami, akan tetapi melihatnya suami kepada farjinya istri baik qubul maupun dubur hukumnya makruh jika tidak ada hajat, jika melihat batinnya farji maka hukumnya sangat makru.” (Kitab Kasyifatussaja hlm 50)

Wudlu Telanjang
Biasanya ada yang melakukan wudlu setelah selesai mandi dalam keadaan belum berpakaian. Jika tanpa ada orang lain yang melihatnya maka hukumnya makruh, namun jika ada orang lain yang melihatnya maka haram.

وأما مكروهاته فالإكثار من صب الماء وكثرة الكلام في غير ذكر الله والزيادة على الثلاثة في المغسول وعلى واحدة في الممسوح على الراجح وإطالة الغرة ومسح الرقبة والمكان الغير الطاهر وكشف العورة وكشف العورة أي مع عدم من يطلع عليها ، وأما كشفها مع وجود من يطلع عليها غير الزوجة والأمة فهو حرام لا مكروه فقط

“Kemakruhan dalam wudhu (menurut madzhab maliki): memakai air berlebih, banyak berbicara selain dzikir, menambah lebih dari tiga kali dalam basuhan dan lebih sekali dalam mengusap menurut pendapat yang kuat, memanjangkan basuhan anggota wudhu, mengusap leher, berwudhu di tempat yang tidak suci, membuka aurat. Membuka aurat ini dalam keadaan tidak ada orang lain yang melihat, adapun jika ada orang lain yang melihat selain istri dan budak maka hukumnya haram bukanlah makruh.”  (Kitab Hasyiyah Addaasuuqi juz I hlm 104)

Sumber: fiqhmenjawab.net