Hujan Salju di Arab Bukan Tanda Kiamat, Ini Penjelasan Lengkapnya




Atas permintaan salah satu pembaca blog ini, kali ini saya akan membahas mengenai peristiwa turunnya salju di Arab yang konon merupakan pertanda kiamat. Berita ini sebenarnya sudah lama beredar, saya sendiri sudah pernah membacanya sekitar tahun 2013, dan yang membahas mengenai fenomena ini juga banyak, tidak hanya dari para penggemar cocoklogi namun juga ada yang membahasnya secara ilmiah.

Ketika tahun 2013 ada badai salju yang ganas di wilayah Arab, pemberitaan oleh media Indonesia cukup marak, kemudian muncul lah anggapan bahwa peristiwa tersebut adalah kejadian yang luar biasa dan menganggapnya sebagai tanda kiamat dengan mengutip salah satu hadits riwayat Muslim yang mengatakan:

“Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai”

Saya tidak tahu mengapa hadits ini dihubungkan dengan peristiwa turunnya salju, padahal salju tidak berefek pada tumbuh suburnya suatu wilayah. Apa freezer di kulkas ditumbuhi tanaman? Enggak kan, ngaco sekali. Turun hujan pun (yang sering terjadi di Arab sampai kebanjiran) tidak langsung membuat wilayah menjadi subur apalagi salju yang juga jarang terjadi.

Saya disini tidak akan membahas hadits yang tidak nyambung tersebut, saya lebih membahas apakah peristiwa turunnya salju di tanah Arab itu merupakan peristiwa yang istimewa sehingga dianggap ajaib dan dihubungkan dengan hal gaib atau tidak.

Gurun Tidak Selalu Panas
Ketika ditanya berbicara mengenai cuaca di gurun pasir umumnya orang akan membayangkan keadaan yang panas dan gersang. Tidak salah memang, namun banyak yang tidak tahu bahwa di gurun suhu udara bisa menjadi sangat dingin.

Salah satu faktor penentu suhu udara adalah kelembaban alias kandungan uap air dalam udara, dimana kandungan air dalam udara mampu mempertahankan suhu sehingga suhu udara yang lembab cenderung lebih stabil. Karena gurun merupakan wilayah dengan kelembaban yang rendah, maka suhu di gurun bersifat ekstrim, artinya suhunya tidak hanya sangat panas di siang hari namun juga sangat dingin di malam hari.

Suhu gurun yang sangat dingin di malam hari bisa mencapai -9° Celsius, itupun suhu di permukaan, suhu udara di langit gurun tentunya lebih rendah lagi, dan karena air mulai membeku pada suhu 0° celsius maka jika ada uap air berupa awan yang melintas di langit gurun di malam hari secara tiba-tiba, maka uap itu pun akan menjadi es dan turun sebagai salju. Alasan mengapa gurun jarang turun salju ya karena uap airnya yang jarang melintas, tapi bukan berarti hal tersebut tidak bisa terjadi.

Suhu-Udara-di-Saudi
Di Riyadh yang merupakan perkotaan saja suhu udara bisa mencapai -1° Celsius pada bulan Desember hingga Januari

Tidak perlu jauh ke Arab untuk bisa merasakan pengaruh kelembaban udara dan suhu, coba saja rasakan bagaimana suhu di Indonesia ketika musim hujan dan kemarau. Justru biasanya pada musim kemarau udara menjadi dingin pada malam dan pagi sedang pada musim penghujan udara menjadi sangat panas. Hal ini karena panas dari sinar matahari diserap dan dijaga oleh uap air di udara.

Arab Memang Wilayah Subtropis
Jika kelembaban mempengaruhi cuaca, maka letak geografis mempengaruhi iklim suatu wilayah. Jika kita memperhatikan posisi wilayah timur tengah pada peta dunia, maka akan terlihat bahwa negara timur tengah termasuk ke dalam wilayah subtropis. Wilayah subtropismemang termasuk wilayah yang rentang terhadap badai, tornado, dan salju.

Pembagian-Iklim-Berdasarkan-Lintang

Sebagai wilayah subtropis, rentang suhu di Arab pada bulan Desember dan Januari pun bisa menjadi sangat rendah. Arab wilayah selatan seperti Yaman dan Oman mungkin masih agak panas karena posisinya lebih dekat dengan khatulistiwa pun dekat dengan laut sehingga masih lembab, namun di bagian utara seperti Suriah, Israel, dan Lebanon suhunya sangat dingin dan badai salju adalah hal yang biasa terjadi, di wilayah pegunungan Iran bahkan salju bisa bertahan hingga Februari, teman saya yaitu Neda sering mengirim foto-foto bagaimana dia menikmati salju disana dan dia mengatakan bahwa salju turun rutin setiap tahun.

Nah, kalau kasusnya seperti itu, lantas Arab mana yang dimaksud turun salju dan membuat heboh? Jika yang dimaksud adalah Arab Saudi maka Saudi bagian utara seperti Tabuk juga merupakan wilayah yang sering hujan salju dimana peristiwa salju tersebut umumnya terjadi setiap 3-4 tahun.

Salju-di-Saudi-Utara

Pemanasan Global  Juga Memberi Pengaruh
Walau salju bukan hal yang istimewa di Arab namun kasus badai salju belakangan memang lebih sering terjadi dan cangkupannya lebih luas. Hal ini tidak lain karena pengaruh global warming alias pemanasan global yang membuat temperatur udara menjadi naik, penguapan air laut bertambah, sehingga kelembaban pun naik. Seperti yang dijelaskan di atas, Arab memang dingin di malam hari, dan ketika kelembaban naik maka uap air yang dikandung dalam udara akan cepat diubah menjadi es dan turun sebagai salju.

Tidak hanya di Arab perubahan cuaca juga terjadi hampir di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir. Wilayah tropis akan mendapati hujan yang lebih lebat, wilayah subtropis akan lebih sering mendapati hujan salju  dan badai yang biasanya jarang terjadi, dan wilayah temperate akan mendapati hujan salju yang lebih lebat.

Salju Dikenal Orang Arab Sejak Dulu
Salah satu bukti bahwa orang Arab sudah lama mengenal salju bisa dilihat pada tulisan ibn Hisyam mengenai riwayat Nabi Muhammad, dimana dia menceritakan bahwa darah Nabi Muhammad pernah dicuci dengan salju.

Ketika Muhammad berusia empat tahun, ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah. Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran detail bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.” Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad diIsra’kan ke Yerusalem lalu ke Sidratul Muntaha dari Mekkah.

Terlepas dari cerita tersebut benar terjadi atau tidak, yang jelas ibn Hisyam sudah tahu apa itu salju. Jika ibn Hisyam yang hidup di abad ke 9 mengambil sebagian riwayat Nabi Muhammad dari tulisan ibn Ishaq yang hidup di abad ke 8, itu artinya bahwa orang Arab di abad ke 8 atau 9 sudah mengenal yang namanya salju, artinya salju bukan hal yang spesial bagi orang Arab di masa tersebut.

Kesimpulan
Jadi peristiwa turunnya salju di wilayah Arab bukanlah peristiwa yang istimewa dan sudah cukup sering terjadi di masa lalu. Hal yang membuat orang heboh terhadap peristiwa tersebut tidak lebih karena media yang terlalu berlebihan dalam menyampaikan berita serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kondisi cuaca dan iklim di wilayah Arab. Masyarakat berasumsi bahwa Arab dan padang pasir pada umumnya itu selalu gersang dan panas sehingga mustahil ada salju yang sifatnya dingin, padahal kenyataannya tidak demikian.

Nah, jika kasus turunnya salju di Arab bukanlah peristiwa yang istimewa dan tidak ajaib, maka saya pikir tidak pantas peristiwa tersebut dikaitkan dengan kiamat atau klaim kebenaran suatu ajaran.

Sumber: candrawiguna.com





Loading...
loading...
loading...