Etika Menjenguk Orang Sakit yang Banyak Dilupakan




Menjenguk orang yang sakit merupakan amalan unggulan dalam Islam. Ianya termasuk bagian dari memenuhi hak sesama Muslim. Tatkala aktivitas ini sudah menjadi budaya dalam sebuah komunitas, niscaya terbentuk suasana persaudaraan yang hangat dan menenteramkan.

Sayangnya ada penurunan tingkat pemahaman di sebagian kalangan kaum Muslimin. Mereka tidak peduli terhadap saudaranya yang sakit hingga tidak bergegas memenuhi hak untuk menjenguknya. Ketika ada yang menjenguk pun, tiada nuansa sakral atau upaya menjalankan sunnah. Hanya sekadar ritual. Tiada pemaknaan yang mendalam.

Agar menjenguk orang yang sakit terasa sakral dan menghidupkan hati, ada kiat-kiat yang bisa ditempuh saat menjenguk. Ialah 4 hal yang dirangkum oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam bukunya al-Wa’dul Haq.

Harapan
Datanglah dengan penampilan terbaik, tapi tiada kesan mewah. Tetap tersenyum. Berikan harapan-harapan terkait kesembuhan. Sampaikan nasihat-nasihat agar si sakit senantiasa mengeja sabar.

Sampaikan bahwa Allah Ta’ala menyediakan pahala yang agung jika si sakit sabar. Bahkan ada begitu banyak dosa yang digugurkan sebagai kompensasi atas sakit yang dirasakan. Sabar inilah kuncinya. Pahalanya tiada batas.

Doa
Jangan bergurau atau menghabiskan waktu dengan berbincang tanpa makna. Mula-mula, setelah ucap salam dan menyapa, segeralah bacakan doa untuk si sakit. Mohonkan kepada Allah Ta’ala agar si sakit segera disembuhkan.

Mintalah kepada Allah Ta’ala agar si sakit senantiasa diberi kesabaran menghadapi ujian yang memang tidak ringan ini.

Tangan Kanan
Ini hanya berlaku untuk si sakit yang sesama jenis atau masih termasuk mahram. Letakkan tangan kanan Anda di bagian tubuh pasien yang sakit, atau bagian lain yang dibolehkan. Tundukkan wajah. Bacakan ayat-ayat al-Qur’an. Minimal surat al-Fatihah.

Inilah yang dilakukan oleh sayyidina ‘Umar bin Khaththab saat membesuk sahabat yang sakit.

Hati Kerabat
Bukan hanya kepada si sakit, besarkan pula hati kerabatnya. Besarkan. Sabarkan. Hibur. Semangati. Ulurkan tangan untuk menolong dan telinga untuk mendengar. Jangan lupakan hati, agar ia bisa senantiasa berempati.

Sebab saat diuji dengan sakit, pihak kerabat merupakan penanggung pertama. Mereka juga harus dikuatkan. Bahkan tak jarang, ada kerabat yang gantian sakit setelah sibuk mengurusi kerabatnya yang sakit.

Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dalam iman dan Islam. Aamiin.

Wallahu a’lam

Sumber: kisahikmah.com





Loading...