Cara Mengucapkan Aamiin yang Benar

by

“Disunnahkan untuk semua orang yang membaca Al-Fatihah untuk membaca Aamiin setelahnya baik di dalam shalat maupun di luar shalat.”
(At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran hal. 105)

Seperti halnya di Indonesia yang memiliki banyak dialek. Di tanah Arab pun mereka memiliki dialek yang sangat banyak yang mengakibatkan perbedaan pelafazhan kata.

Sebelum penulis menguraikan mengenai pengucapan Aamiin yang benar maka simaklah terlebih dahulu bagaimana contoh perbedaan dialek yang terjadi di Nusantara, dan sebagai contoh penulis ambil adalah perbedaan dialek bahasa Jawa:

Bahasa Indonesia: Aku – Kamu – Bagaimana – Masuk – Tidak
Bahasa Jawa Dialek Serang: Kita – Sire – Keprimen – Manjing – Ore
Bahasa Jawa Dialek Cerbon: Kita – Sira – Kepriben – Manjing – Ora
Bahasa Jawa Dialek Ngapak: Nyong – Rika – Kepriwe – Mlebu – Ora
Bahasa Jawa Dialek Tegal: Nyong – Koen – Kepriben – Mlebu – Ora
Bahasa Jawa Dialek Mataraman: Aku – Kowe – Piye – Mlebu – Ora

Jika kita perhatikan dari sampel lima dialek bahasa jawa saja terdapat perbedaan dalam pengucapan, misal kata ‘tidak’ yang diucapkan ‘ore’ di Serang namun ditempat lain diucapkan ‘ora’, begitupula kata ‘bagaimana’ yang dalam beberapa dialek diucapkan dengan ‘keprimen’, ‘kepriben’, ‘kepriwe’ yang walaupun pelafazannya berbeda namun maknanya tetap sama.

Maka sudah tentu saja di Tanah Arab pun akan sangat banyak sekali perbedaan dialek yang mengakibatkan perbedaan pelafazan kata.

Kembali ke tema permasalahan, mengenai pengucapan Aamiin atau Ta’min maka setidaknya terdapat empat dialek dalam pelafazahnnya sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya At-Tibyan, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

وفي آمين لغات قال العلماء أفصحها آمين بالمد وتخفيف الميم والثانية بالقصر وهاتان مشهورتان والثالثة آمين بالامالة مع المد حكاها الواحدي عن حمزة والكسائي والرابعة بتشديد الميم مع المد حكاها عن الحسن والحسين ابن الفضيل قال ويحقق ذلك ما روي عن جعفر الصادق رضي الله عنه قال معناه قاصدين نحوك وأنت أكرم من أن تخيب قاصدا هذا كلام الواحدي وهذه الرابعة غريبة جدا فقد عدها أكثر أهل اللغة من لحن العوام وقال جماعة من أصحابنا من قالها في الصلاة بطلت صلاته قال أهل العربية حقها في العربية الوقف لأنها بمنزلة الاصوات فإذا وصلها فتح النون لالتقاء الساكنين كما فتحت في أين وكيف فلم تكسر لثقل الكسرة بعد الياء فهذا مختصر مما يتعلق بلفظ آمين وقد بسطت القول فيها بالشواهد وزيادة الاقوال في كتاب تهذيب الأسماء واللغات

“Dan dalam pengucapan Aamiin, para ulama berkata bahwa yang paling fasih adalah Aamiin dengan memanjangkan hamzah dan meringankan mim. Dan yang kedua dengan memendekannya (yaitu dibaca Amiin) dan kedua pendapat ini masyhur. Dan yang ketiga membaca Aamiin dengan imalah disertai mad (Aameen). Al-Wahidi menceritakan mengenai hal itu dari Hamzah dan Al-Kisa’i. Dan yang keempat dengan mentasydid huruf mim disertai memanjangkannya (yaitu dibaca Ammiin) sebagaimana diceritakan dari Al-Hasan dan Al-Husain bin Al-Fudhail. Kata mereka, hal itu sebagaimana diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Yang maknanya adalah “kami menuju kepada-Mu sedang Engkau Maha Pemurah hingga tidak menyia-nyiakan orang yang menuju kepada-Mu”. Demikian dinyatakan oleh Al-Wahidi. Cara yang keempat ini aneh sekali. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan ucapan orang awam. Dan juga telah berkata sebagian dari sahabat kami: “Barangsiapa mengucapkannya (yaitu membaca Aammin) di dalam shalat maka shalatnya batal. Ahli bahasa Arab berkata: “haknya dalam bahasa Arab adalah waqaf (berhenti) karena kedudukannya seperti suara. Jika disambung, huruf nuun diberi harakat fathah karena adanya pertemuan dua sukun sebagaimana pemberian harakat fathah pada Aina dan Kaifa. Tidak diberi harakat kasrah karena beratnya bacaan kasrah sesudah ya’. Inilah penjelasan yang ringkas berkaitan dengan lafaz Aamiin. Dan sungguh telah saya jelaskan secara panjang lebar permasalahan ini dengan banyak bukti penguat dan beberapa tambahan lainnya dalam kitab Tahdzibul Asma’ wal Lughat.” (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran hal. 105).

Sedangkan Syaikh Ibrahim Al-Baijuri rahimahullah menyatakan bahwa terdapat lima dialek dalam pengucapan Ta’mim, sebagaimana perkataan beliau:

(قوله أي قول آمين) تفسير للتأمين يقال أمن الرجل إذا قال آمين بمد الهمزة و تخفيف الميم مع الإمالة و عدمها و بالقصر لكن المد أفصح و يجوزتشديد الميم مع المد و القصر ففيه خمس لغات

“(Perkataannya atau perkataan Aamiin) Penjelasan untuk perkataan ta’min, dikatakan seseorang jika dia mengatakan Aamiin yaitu dengan memanjangkan hamzah dan memendekan mim dengan imalah (Aameen) dan dengan tidak mengimalahkan (Aamiin), dan dengan memendekan hamzah (Amiin) akan tetapi dengan memanjangkan adalah yang paling fasih dan baik. Juga dengan mentasydidkan mim dengan memanjangkan hamzah (Aammiin) dan memendekan hamzah (Ammiin), maka dalam hal ini terdapat lima dialek pengucapan.” (Hasyiah Al-Baijuri, Jilid 1 hal. 174)

Jika dilihat dari uraian para ulama mengenai pengucapan Ta’min ini maka setidaknya dalam pengucapan Ta’min terdapat empat atau lima dialek antara lain:

Aamiin, Aameen, Amiin, Aammiin, Ammin.

Jadi jika ada yang menulis dengan lima cara seperti uraian diatas maka semua benar.

Berbeda pengucapan apakah merubah makna? Mungkin inilah yang biasa diperdebatkan, maka untuk mengetahui hal tersebut, simaklah perkataan Imam An-Nawawi rahimahullah berikut:

(فصل) يستحب لكل قارئ كان في الصلاة أو في غيرها إذا فرغ من الفاتحة أن يقول أمين والأحاديث في ذلك كثيرة مشهورة وقد قدمنا في الفصل قبله أنه يستحب أن يفصل بين آخر الفاتحة وآمين بسكتة لطيفة ومعناه اللهم استجب وقيل كذلك فليكن وقيل افعل وقيل معناه لا يقدر على هذا أحد سواك وقيل معناه لا تخيب رجاءنا وقيل معناه اللهم أمنا بخير وقيل هو طابع لله على عباده يدفع به عنهم الآفات وقيل هي درجة في الجنه يستحقها قائلها وقيل هو اسم من أسماء الله تعالى وأنكر المحققون والمجاهير هذا وقيل هو اسم عبراني غير معرب وقال أبو بكر الوراق هو قوة للدعاء واستنزال للرحمة وقيل غير ذل

“(Pasal) Disunnahkan untuk semua orang yang membaca Al-Fatihah untuk membaca Aamiin setelahnya baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Hadits-hadits mengenai hal ini banyak dan masyhur. Dan sungguh telah kami kemukakan pada pasal sebelumnya bahwa disunahkan memisahkan antara akhir Al-Fatihah dan ucapan Aamiin dengan diam sebentar. Dan makna Aamiin adalah Ya Allah, kabulkanlah. Ada pula yang berkata maknanya seperti itu maka jadilah. Dan yang lain mengatakan maknanya lakukanlah, dan yang lainnya mengatakan maknanya tidak ada seorangpun yang dapat melakukan ini selain Engkau. Dan juga perkataan lain mengatakan maknanya jangan sia-siakan harapan kami. Perkataan lain Ya Allah, selamatkanlah kami dengan kebaikan. Perkataan lain mengenai Aamiin bermakna perlindungan dari Allah ta’ala untuk hamba-hamba-Nya dengan menolak berbagai bencana dari mereka. Perkataan yang lain mengenai Aamiin adalah bermakna derajat di surga yang dianugerahkan kepada yang mengucapkannya. Perkataan yang lain mengenai Aamiin maknanya adalah salah satu nama Allah ta’ala. Namun para Ulama peneliti menolak perkataan ini. Perkataan yang lainnya tentang Aamiin adalah bermakna nama Ibrani yang tidak dapat di-I’rab. Abu Bakar Al-Warraq berkata, Aamiin adalah kekuatan untuk berdoa dan permintaan turunnya rahmat. Dan masih ada lagi pendapat lain selain itu.” (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran hal. 104-105)

Nah setelah memahami hal ini, maka jika ada seseorang menulis Aamiin dengan tulisan Aameen, Amiin, Aammiin, Ammin maka janganlah disalahkan karena semuanya adalah benar dan tidak merubah arti, juga jika ada informasi yang menyatakan bahwa hal itu salah.

Maka cukuplah kita yang telah memahami mengenai perkara ini menahan diri dari perbuatan yang buruk yang berujung pada debat yang tak jelas dan tanpa dilandasi ilmu, apalagi sampai menggunakan ilmu cocoklogi yang pernah penulis baca mengenai perkara Ta’min ini.

Namun perlu pembaca perhatikan pula, bahwa dalam shalat pengucapan Ta’min yang diperbolehkan hanyalah pengucapan Aamiin, Aameen dan Amiin saja dan selain itu maka dilarang bahkan dapat membatalkan shalat. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Sumber: sharingseputarislam.com

Loading...
loading...
loading...