Bolehkah Mengeraskan Bacaan Sholat Dhuha?

by

Pertanyaan:
Bolehkah kita keraskan bacaan sholat dhuha seperti pengerjaan sholat subuh, maqrib atau isya?

Jawaban:
Asal pada shalat sunat di siang hari adalah disirkan (suara berbisik), kecuali pada shalat-shalat tertentu.

Imam Nawawi –Rahimahullahu- (wafat 676 H) berkata:

أَمَّا صَلَاةُ الْعِيدِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَالتَّرَاوِيحِ وَخُسُوفِ الْقَمَرِ فَيُسَنُّ فِيهَا الْجَهْرُ بِلَا خِلَاف.ٍ *وَأَمَّا نَوَافِلُ النَّهَارِ فَيُسَنُّ فِيهَا الْإِسْرَارُ بِلَا خِلَاف [ .المجموع 3/391]

“Adapun shalat ‘ied, istisqa`, tarawih dan khusuf, maka dianjurkan untuk dijaharkan (diperdengarkan). *Sedangkan shalat-shalat sunat lain di siang hari, maka dianjurkan untuk disirkan, tanpa ada khilaf.”

Dan sejauh telaah kami tentang kaifiyat shalat Dhuha, tidak didapati dalil yang menunjukkan dijaharkan/dikeraskan.

Bahkan Nabi pernah mengerjakannya *berjamaah*, sebagaimana hadits:

« عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي بَيْتِهِ سُبْحَةَ الضُّحَى، فَقَامُوا وَرَاءَهُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِه [مسند أحمد (23773), صحيح]

Dari ‘Itban bin Malik bahwasanya Rasulullah –Shallahu ‘alaihi wa sallam- shalat Dhuha di rumahnya, maka mereka berdiri di belakang Rasulullah mengikuti shalatnya

Tapi tidak dijelaskan kalau Nabi menjaharkan bacaannya.

Walau demikian, menjaharkan shalat yang mestinya sir atau sebaliknya, ini tidak membatalkan shalat, karena hukumnya sunat, seperti yang sudah dijelaskan. Namun dianggap meninggalkan yang lebih baik.

Kesimpulan

[1] Disunatkan mensirkan/dipelankan bacaan pada shalat Dhuha.

[2] Yang dimaksud mensirkan menggerakkan mulut ketika membaca, dan memperdengarkan diri sendiri.

[3] Menjaharkan shalat sir atau sebaliknya tidak membatalkan shalat, tapi meninggalkan yang sunat.

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Abu Muslim, Lc. M.A

Sumber: aboe-hafz.blogspot.co.id

Loading...
loading...
loading...