Berikan yang Terbaik Untuk Kedua Orang Tuamu Atau Kamu Akan Berdosa

by

Bayangkan adegan berikut ini. Suatu malam, kamu pulang ke rumah dengan kelelahan. Kegiatan seharian ini bagi kamu terasa menguras tenaga. Sesampainya di rumah, ternyata ada orang tuamu yang sedang berkunjung.

Orang tuamu memanggilmu dengan isyarat tangan. Kamu mendekat perlahan. Orang tuamu berkata pelan, “Mandi dulu, Nak. Nanti kita ngobrol-ngobrol ya ….”

Kamu mengangguk dan segera bergegas ke kamar mandi. Ah, rasanya segar sekali. Selesai mandi, karena kamu begitu kelelahan, kamu istirahat sebentar di tempat tidur. Tanpa kamu sadari, kamu tertidur dan terbangun kembali pukul 3 pagi.

Kamu terlonjak kaget! Kamu melihat ke samping kirimu. Istrimu sedang terlelap. Kamu buru-buru melihat ke ruang tamu, semua sudah kosong melompong. Saat kamu melihat garasi, ternyata mobil orang tuamu masih ada. Alhamdulilah, mereka belum pulang. Mereka pasti tidur di kamar tamu.

Akhirnya, menjelang pagi kamu pun mengobrol dengan orang tuamu. Memohon maaf karena tadi malam tertidur.

“Saya sangat kelelahan, Pak,” katamu kepada orang tuamu.

Mereka maklum, tentu saja. Tidak ada tebersit rasa kesal dalam hati mereka. Pagi hari itu pun diisi dengan canda tawa.

Namun, benarkah? Benarkah semua baik-baik saja? Bagaimana pandangan Islam atas fenomena-fenomena seperti itu? Sebenarnya, bagaimana standar Islam dalam berbakti kepada orang tua?

Suatu ketika, saya menonton sebuah video dari Nouman Ali Khan. Menurut Ustaz Nouman, Islam memberi standar tertinggi untuk ajaran berbakti kepada kedua orang tua. Standar seperti apakah yang dimaksud? Mari kita simak ayat berikut ini:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan hal yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Dan, janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-An’aam: 151)

Ustaz Nouman berkata bahwa ayat ini adalah ayat larangan. Artinya, kita dilarang untuk melakukan hal-hal yang ditulis dalam ayat tersebut. Dari ayat itu, kita bisa memperinci larangan-larangan yang ada.

  1. Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah.
  2. Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.
  3. Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.
  4. Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi.
  5. Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.

Apakah ada sesuatu yang aneh dalam urutan larangan di atas? Coba kita baca sekali lagi dan perhatikan dengan baik. Ada susunan kata yang aneh. No 1, 3, 4, dan 5 memang benar-benar larangan secara harfiah.

Namun, untuk poin No.2, bukankah itu adalah perintah? Mari kita simak keseluruhan poin 2, “Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” Mengapa Allah malah menyisipkan perintah di dalam ayat larangan?

Mari kita telaah lebih dalam. Di dalam bahasa Arab, Wabil walidaini ihsanan memiliki makna “berbuatlah yang terbaik terhadap kedua orang tuamu.”

Artinya, jika hal yang kamu lakukan kepada orang tuamu bukanlah hal yang terbaik yang bisa kamu lakukan, sebaiknya kamu tidak usah melakukannya. Ustaz Nouman berkata bahwa tidak ada ibadah lain dalam Islam yang menyuruh kita untuk melakukan yang terbaik dan tidak boleh rendah dari itu.

Saya akan memberikan satu contoh, misalnya kita menjadi makmum salat Subuh. Saat salat Subuh itu, kita mengantuk dan menguap berkali-kali. Secara teknis, salat kita tetap sah.

Memang salatnya tidak sempurna, tetapi kita  tidak berdosa. Artinya, kita mendapat pahala, walaupun pahala itu tidak sempurna 100%.

Namun, jika berkaitan dengan perintah berbakti kepada orang tua, Allah memberikan standar luar biasa tinggi yang mungkin kita lakukan sebagai manusia.

Mudahnya, jika kita sanggup memberikan 9 dalam berbakti kepada orang tua, tetapi kita justru hanya memberikan 8, artinya kita berdosa. Walaupun sebenarnya 8 adalah nilai yang cukup tinggi dalam berbakti, kita tetap berdosa karena sebenarnya kita sanggup memberi bakti dengan nilai 9.

Dalam kasus di atas, orang tersebut sebenarnya bisa memberi bakti maksimal, tetapi ia tertidur sehingga ia tidak melakukan bakti kepada orang tua secara maksimal.

Tentu saja ayat ini memberikan spirit yang sangat jelas kepada kita: berbuatlah yang terbaik untuk kedua orang tuamu. Untuk mereka, berikan hal-hal terbaik yang sanggup kamu berikan.

Sumber: abiummi.com

Loading...
loading...
loading...