Asal Usul “Air Mata Buaya” dan Renungan Dari Al-Qur’an




Dua hari ini, istilah “air mata buaya” populer di media sosial. Sebenarnya, bagaimana asal usul hingga muncul istilah “air mata buaya”? Rupanya, istilah ini menemukan pembenaran melalui studi ilmiah terhadap buaya.

Sejak lama, buaya didapati menangis ketika memakan mangsanya. Karena buaya menangis saat menyakiti pihak lain, ketika orang berpura-pura menangis agar mendapatkan simpati atau iba, tangisannya disebut “air mata buaya”

Para ilmuwan penasaran, apa hubungannya memakan mangsa dengan menangis pada buaya.

Sejumlah penelitian pun dilakukan, di antaranya oleh Zoologis UF Kent Vliet dari Universitas Florida pada Oktober 2007.

Dikutip Faktailmiah.com dari website Universitas Florida, Kent Vliet mengamati dan merekam empat caiman dan tiga aligator tangkapan, keduanya kerabat dekat buaya, ketika makan di sebuah lahan kering di Taman Zoologi Peternakan Aligator St Augustine Florida.

Vliet menemukan, lima dari ketujuh hewan ini menangis ketika mereka merobek makanannya, dengan air mata yang menetes dan bahkan membasahi.

Menurut Vliet, air mata pada buaya merupakan hasil perilaku mendesis dan menghembus, perilaku yang sering dilakukan saat ia makan.

Udara terdorong melewati sinus dan dapat bercampur dengan air mata dalam lacrimal buaya, atau kelenjaran air mata yang menjadi kosong dan airnya tumpah ke mata.

Zoologist itu menegaskan, buaya menangis bukan karena menyesal. Sebab saat memakan mangsa, buaya memakannya dengan sungguh-sungguh tanpa rasa iba.

“Air mata buaya” ini serupa dengan fenomena kepura-puraan kaum munafik yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah.

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”.

Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS. Al Baqarah: 11-15)

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: tarbiyah.net





Loading...