Anjuran dan Hikmah Pernikahan Dalam Pandangan Islam




Dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya manusia merupakanmakhluk paling sempurna. Manusia dibekali akal sebagai instrumenmengenali diri dan alam, dibekalibudi pekerti  untuk menuntun prilaku, dan dibekali naluri dan kekuatan fisik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Anugerah tersebut hanya diperuntukkan bagi manusia karena manusia mengembang amanah yang berat: sebagai ‘abid(seorang hamba) sekaligus khalifah fil ardh (wakil Allah di muka bumi), atau makhluk spiritual sekaligus makhluk sosial.

Sebagai ‘abid manusia adalah makhluk yang memiliki hubungan kepada Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan kepada-Nya.

Sementara sebagai khalifah manusiaperlu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia mustahil mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, baik kebutuhan materi maupun kebutuhan biologis. Dua peran tersebut tidak mungkin dipisahkan.

Oleh karena itu, tidak benar apabila manusia terlalu sibuk ibadah, sementara dunianya tidak terurus. Atau sebaliknya, terlalu gila mengejar dunia sampai-sampai melupakan Tuhan, melupakan ibadah.

Sudah kodratnya manusia membutuhkan orang lain. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan.

Sejak zaman Nabi Adamdan IbuHawa sudah berpasangan. Mereka adalah dua sejoli pertama di dunia yang saling membutuhkan.

Melalui mereka berdua, lahirlah umat manusia. Maka, tujuan utama sebuah pernikahan tak lain agar manusia dapat memenuhi kebutuhan mereka. Sekaligus untuk memuliakan manusia sesuai perannya sebagai ‘abid dan khalifah fil ardh.

Mengapa menikah demikian dianjurkan tak lain karena semua itu demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Diantara kemaslahatan itu ialah:

1. Agar manusia memperoleh keturunan. Bahkan inilah tujuan utama perintah pernikahan.Melalui pernikahan dimungkinkan lahirnya generasi baru, generasi penerus perjuangandalam menegakkan syariat.

Bagaimana nasib agama nantinya apabila umat Islam semakin menyusut akibat tidak adanya generasi penerus yang lahir.

Maka kelahiran merupakan sebuah keniscyaan untuk menjawab tantangan perjuangan yang semakin kompleks.Berkaitan dengan hal ini Nabi bersabda:

تَناكَحُوا تَكْثُرُوا فإنِّي أُباهِي بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ القِيامَةِ

Menikahlah kamu, maka kamu akan menjadi banyak. Sungguh, aku berbangga pada kamu di Hari Kiamat kelak.”  (HR. Abdu Ar-Rozzaq)

2. Agar tersalurkan hasrat biologis secara benar dan sah. Hasrat biologis yang tidak disalurkan secara benar berakibat timbulnya perilaku seksual yang menyimpang.

Lunturlah nilai-nilai moral. Orang tidak lagi mengenal arti malu, tidak mengenal benar dan salah. Dalam perspektif medis pun perilaku menyimpang rentan terjangkitnya virus atau bakteriyang mematikan, seperti AIDS dan sejenisnya.

Jadi jelas, pensyariatan nikah sesungguhnya bertujuan menjaga dan memelihara nilai-nilai kemanusia sekaligus menjaga dari bahaya penyakit berbahaya. Mengenai hal ini Nabi bersabda:

مَاتَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ مِنْ فِتْنَةِ النِّسَاءِ للِرِّجَالِ

“Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang  berbahaya atas lelaki daripada wanita.”  (HR. Imam Bukhari)

3. Mengoptimalkan diri dalam beragama, Nabi bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ ، فَلْيَتَّقِ الله فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

“Jika seorang hamba telah menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka, takutkah kepada Allah dengan (menjaga) separuhnya.” (HR. Imam Baihaqi)

4. Menemukan ketenangan jiwa. Jiwa cenderung tenang jika bersama orang-orang tercinta.Dalam kehidupan keluarga, istri dan anak merupakan orang-orang terkasih, tempat sandaran jiwa.Dalam hal ini menjadi jelaslah firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar Dia merasa senang kepadanya.” (QS.  al-A’raf: 187)

5. Pernikahan merupakan bagian dari perwujudan mujahadah an-nafs dan riyadlah an-afs(perjuangan dan pelatihan jiwa).

Dengan pernikahan jiwa manusia terlatih mengasuh, mengurus, menyangi, melindungi serta memenuhi tanggungjawab.

Melalui pernikahan, sifat kesabaran terus terasah seiring dinamika perjalanan rumahtangga tersebut, seperti:

  1. Sabar menanggung aib keluarga manakala ada anggota keluarga yang melakukan perbuatan tercela
  2. Sabar dalam memperbaiki dan membimbing anggota keluarga kejalan ilahi saat keluarga mulai menjauh dari ajaran agama
  3. Sabar dalam mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Demikianlah beberapa faidah pernikahan. Meskipun makhluk lain melakukan ‘perkawinan’, toh mareka tidak memperoleh kemaslahatan sebagaimana yang didapatkan manusia.

Pernikahan manusia berbeda dengan hubungan yang dilakukan makhluk lain. Melalui pernikahan martabat manusia semakin kokoh, sementara makhluk lain sekedar untuk pemuas nafsu belaka.

Sumber: ngajionline.net





Loading...