Anak yang Minum Air Susu Dari Donor ASI Jadi Saudara Sepersusuan Dengan Anaknya si Pendonor? Ini Penjelasannya




Pertanyaan:
Assalamualaikum pak Ustadz. Saya membaca di media cetak, ada seorang wanita yang mendonorkan Air susunya (ASI) kepada lebih kurang 25 anak balita. Air susu ibu tersebut diambil dengan cara diperah (bukan menyusu langsung).

Yang saya tau menjadi mahram sepersusuan, apabila menyusu langsung. Pertanyaanya: apakah ke 25 anak tersebut menjadi mahram? Mohon pencerahannya.

Wassalam (Azahari – Palembang)

*) Mahram (Arab: محرم) adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Muslim di Asia Tenggara sering salah dalam menggunakan istilah mahram ini dengan kata muhrim, sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain.

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya. Memang ulama berbeda pendapat dalam hal ini, apakah ke-mahrom-an itu terjadi hanya dengan meminum asi langsung dari si ibu atau bisa dengan asi yang sudah diperah? Ada yang mengatakan “Ya. Jadi mahrom“. Ada juga yang mengatakan “Tidak! Mahrom hanya terjadi ketika si bayi menyusu langsung”.

Dan 2 kelompok ini dipaparkan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam BidayatulMujtahis pada Bab Nikah (hal. 396) perihal rodho’ (susuan), dan juga dijelaskan oleh Imam Al-Shon’any dalam kitabnya Subulus-Salam pada bab Al-Rodho’ (3/213).

1. Mahrom Hanya Terjadi Dengan Menyusui Langsung
Ulama dalam kelompok ini berpendapat bahwa susu yang sudah diperah itu tidak disebut menyusui, jadi tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal itu, ini adalah pendapatnya madzhab Zohiri, dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Dengan dalil:

Rodho’ [رضاع] (menyusui) secara bahasa Arab berarti:

التقام الثدي وامتصاص اللبن

“Iltiqom al-Tsady wa Imtishosh Al-Laban”

“Menempelnya mulut bayi dengan dada dan menghisap susu dari situ”

Jadi jika seorang bayi menyusu dengan asi yang sudah diperah dan dibotolkan artinya dia tidak menyusu secara langsung dari dada si ibu, maka itu tidak dinamakan Rodho’, karena bukan Rodho’, maka tidak terjadi ke-mahrom-an dalam hal ini. Karena memang ke-mahrom-an terjadi hanya terjadi dengan Rodho’, dan asi yang sudah dibotolkan tidak bisa dikatakan Rodho’.

Selain secara bahasa, bahwa menyusui itu ialah bukan hanya menyalurkan asi kepada si bayi. Tapi dengan menyusui langsung juga terjadi proses transfer rasa sayang dan cinta dari si ibu kepada si bayi, nah proses pertalian emosional ini jugalah yang menyebabkan terjadinya ka-mahrom-an. Dan itu tidak terjadi pada penyusuan dengan asi yang sudah dalam botol.

2. Ke-Mahrom­-An Terjadi Dengan Menyusui Langsung Atau Tidak Langsung
Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari 4 madzhab Fiqih. Menyusui baik yang langsung atau pun dengan system perah dan botol itu sama saja hukumnya, sama-sama menjadi si bayi dan si ibu mnejadi mahrom. Dengna dalil:

Yang mnejadi patokan itu bukan bagaimana cara menyusui, tapi yang menjadi Patoka itu ialah susu ibu itu sendiri yang telah masuk kedalam tubuh si bayi dan menyatu dengan darah dan daging.

Dalam riwayat Abu Daud dari hadits Ibnu Mas’ud disebutkan Nabi saw bersabda:

لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا أَنْشَزَ اَلْعَظْمَ, وَأَنْبَتَ اَللَّحْمَ

“Tidak dikatakan menyusui kecuali yang menjadikan tulang dan menumbuhkan daging” (HR. Abu Daud)

Di sini jelas bahwa yang disebut dengan Rodho’ itu ialah penyusuan yang menjadikan daging dan tulang, dan itu terjadi pula pad bayi yang menyusu dengan botol dari asi yang sudah diperah. Jadi memang tidak mesti langsung.

Kemudian juga ada hadits yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya Rodhoah (penyusuan) itu ialah yang menghilangkan kelaparan (si bayi)” (Muttafaq ‘Alayh).

Artinya memang dalam hal ini tidak dilihat apakah susu itu dihisap langsung atau tidak. Selama asi itu memang menjadi makanan pengeyang (makanan pokok) bagi bayi, dan itu kemudian menjadi daging dan tulang, maka ke-mahrm-an berlaku disitu.

Pendapat jumhur ini juga tergolong pada pendapat yang lebih hati-hati dan tidak menggampangkan. Dulu, pada zaman Nabi juga terjadi peristiwa Salim, seorang Budak Abu Khuzaifah, yang disusui oleh istirnya Abu Khuzaifah dengan susu yang sudah diperah dan kemudian Nabi menyatakan bahwa mereka telah menjadi mahram.

Mana Pendapat yang Kuat?
Kedua pendapat ini adalah pendapat kuat yang dihasilkan melauli ijtihad para ulama yang memamng mumpuni dibidangnya. Jadi kedua pendapat ini punya kedudukan sama kuat, dan hasil ijtihad itu tidak ada yang buruk. Tinggal kita mau mengikuti pendapat yang mana?

Maka, kalau mengikuti pendapatnya Imam Abu Sulaiman Daud Al-Zohiri, susu yang sudah dibotolkan itu tidak disebut sebagai susuan, maka tidak terjadi kemahraman. Sedangkan menurut jumhur, apapun bentuk susunya, itu tetap saja menjadi factor yang menjadikannya mahram.

Syarat Terjadinya Ke-mahraman
Yang perlu diperhatikan juga ialah bahwa kemahraman tidak asal terjadi hanya karena menyusui, akan tetapi ulama menetapkan beberapa syarat yang harus terpenuhi agar nantinya kemahraman itu benar-benar terjadi. Yaitu (selain yang di atas):

  • Haruslah si penyusu berumur kurang dari 2 tahun
  • Menyusui lebih dari 5 kali susuan

Pendapat Jumhur bahwa penyusuan yang menyebabkan mahrom itu jika susuannya mencapai 5 kali susuan, berdasarkan hadits ‘Aisyah ra. Bahwa diawal masa-masa kenabian, penyusuan yang menyebabkan ka-mahrom-an ialah 10 kali dan kemudian diNaskh (dihapus) mnejadi 5 kali susuan. Dan ini yang berlaku sampai Rasulullah saw wafat. (HR Muslim)

“Lalu Bagaimana menentukan itu satu kali susuan? Apakah dengan satu botol atau berapa takarannya?”

Imam Shon’any dalam kitab Subulus-Salam, menjelaskan ini. Beliau mengatakan bahwa yang disebut satu kali susuan itu ialah:

“Ketika si bayi menyusu (langsung atau tidak langsung) kemudian ia meninggalkan susuannya tersebut tanpa paksaan (bukan dilepaskan oleh si ibu) tapi dia melepaskan isapannya tersebut dengan sendirinya. Tapi jika ia melapaskan isapan karean ingin bernapas atau sekedar istirahat atau hal lain (seperti nguap dan ngulet), kemudian kembali lagi menghisap dalam jarak waktu yang dekat. Maka berhentinya itu tadi tidak terhitung sebagai satu kali susuan, tapi susuan yang belum beres.” (Subulus-Salam. 3/213)

Maka terkait pertanyaan di atas, dilihat apakah 25 anak itu memenuhi syarat untuk menjadi mahram si ibu yang menyusui itu atau tidak? yaitu Menyusui langsung/tidak (menurut jumhur), umurnya kurang dari 2 tahun, dan lebih dari 5 kali susuan.

Wallahu a’lam bishowab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Oleh: Ahmad Zarkasih, Lc

Sumber: rumahfiqih.com