Amalan Ketika Suami Meninggal




Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah.

Ustadz, bolehkah kita berdoa meminta apa saja kepada Allah?

1. Ada seorang teman yang baru saja kehilangan suaminya (meninggal dunia), lalu pernah saya mendengar doanya saat qiyamul lail (karena pernah saya menemaninya tidur di rumahnya), dia berdoa, agar Allah mengembalikan suaminya lagi ke dunia, untuk bersama-sama beribadah kepada Allah, tidak hanya untuk kesenangannya semata, tapi juga untuk kedua mertuanya yang sampai saat ini masih dirundung kesedihan, bahkan sakit-sakitan, kakak-kakaknya juga seperti tidak memiliki semangat untuk hidup. Karena kebetulan yang meninggal itu adalah orang yang paling sholeh dan paling baik diantara keluarganya. Yang senantiasa membantu menyelesaikan masalah kedua orang tuanya. Bolehkah begitu Ustadz?

2. Teman saya ini, sering sekali menceritakan kisahnya Ummu Salamah, tetapi kenapa sepertinya tidak yakin ya Ustadz? Karena dia selalu berkata, adakah lelaki yang lebih baik dari suamiku? Yang lebih sholeh dan kuat imannya? Yang lebih perhatian dan lebih menyayangi kami?

Mohon penjelasannya ya Ustadz. Karena saya kasihan sekali dengan beliau..

Jazakumullahu khairan.

Dari: Bilqis

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah hati dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55).

Dalam ayat ini, Allah mengajari bagaimana adab berdoa yang benar. Yaitu dengan penuh rendah hati dan suara yang lembut. Kemudian Allah akhiri dengan pernyataan, “..Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang melampaui batas.” Ibnu Abbas mengatakan, “Yaitu melampaui batas dalam berdoa.” (Tafsir Ibn Katsir, 3:428)

Bentuk melampaui batas dalam berdoa beraneka ragam, baik dari sisi caranya atau isi doa. Berdoa dengan suara keras atau bahkah dnegna sound sistem, termasuk salah satu bentuk melampaui batas dalam berdoa. Karena Allah tidak tuli dan Dia Maha Mendengar.

Dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu bahwa suatu ketika para sahabat pernah berdzikir dengan teriak-teriak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak ada, sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia Maha mendengar lagi Maha dekat.” (HR. Bukhari)

Bentuk melampaui batas dalam berdoa yang juga perlu diperhatikan adalah melampai batas dalam isi doa.

Syaikhul Islam menjelaskan bentuk-bentuk melampaui batas ketika berdoa,

الاعتداء في الدعاء تارة بأن يسأل ما لا يجوز له سؤاله من المعونة على المحرمات وتارة يسأل ما لا يفعله الله مثل أن يسأل تخليده إلى يوم القيامة أو يسأله أن يرفع عنه لوازم البشرية من الحاجة إلى الطعام والشراب ويسأله بأن يطلعه على غيبه أو أن يجعله من المعصومين أو يهب له ولدا من غير زوجة ونحو ذلك مما سؤاله إعتداء لا يحبه الله ولا يحب سائله وفسر الإعتداء برفع الصوت أيضا فى الدعاء وبعد فالآية أعم من ذلك كله..

Melampaui batas dalam berdoa, bisa bentukanya meminta kemudahan untuk melakukan yang haram, yang sejatinya tidak boleh diminta. Bisa juga dalam bentuk meminta sesuatu yang tidak mungkin Allah wujudkan, seperti meminta agar tidak mati sampai kiamat, atau meminta agar dihilangkan darinya sifat dasar manusia, seperti kebutuhan makan atau minum, atau meminta kepada Allah agar ditunjukkan hal yang Allah rahasiakan, atau agar Allah menjadikannya sebagai ornag ma’shum (bebas dosa), atau memohon agar Allah memberinya anak tanpa istri, dan permintaan semisalnya, yang termasuk bentuk melampaui batas yang tidak Allah cintai, dan Allah juga tidak mencintai orang yang meminta.

Ada juga ulama yang menafsirkan bentuk melampaui batas dengan mengangkat suara keras-keras ketika berdoa. Karena itu, ayat ini lebih umum, mencakup semua itu… (Majmu’ Fatawa, 15:22)

Berdasarkan keterangan di atas, memohon agar orang yang sudah meninggal kembali lagi termasuk bentuk melampaui batas dalam berdoa. Dan tentu saja itu perbuatan tercela, karena Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Sehingga bisa kita bayangkan, orang yang melakukan perbuatan tercela semacam ini, apa yang mungkin dia mendapat, kasih sayang Allah dengan Dia kabulkan doanya? Ataukah justru murka Allah? Kita sudah bisa memastikan jawabannya.

Doa Ummu Salamah
Ada satu contoh kejadian di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mirip dengan kasus ini. Pasangan Abu Salamah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma. Keduanya adalah pasangan keluarga yang ideal. Suami yang baik, memiliki kelebihan dalam banyak hal. Istri yang sholihah nan menyejukkan pandangan. Namun perjumpaan mereka tidak lama. Kematian Abu Salamah, memisahkan perjumpaan keluarga bahagia ini di dunia. Baginya Abu Salamah adalah sosok yang mulia, untuk bisa dibandingkan dengan lelaki lainnya. Kesedihan mendalam dialami sang istri yang cintanya masih membara. Namun dia teringat pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya, agar membaca suatu doa ketika tertimpa musibah, dan Allah janjikan akan diganti yang lebih baik.

Saking cintanya kepada Abu Salamah, ketika hendak membaca doa ini, wanita solihah ini bergumam,

أُعَاضُ خَيْرًا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ؟ ثُمَّ قُلْتُهَا، فَعَاضَنِي اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَآجَرَنِي فِي مُصِيبَتِي

“Saya diberi ganti yang lebih baik dari pada Abu Salamah? Akupun tetap membacanya. kemduian Allah gantikan suami untukku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah berikan pa padahal untuk musibahku.” (Tambahan riwayat Ibn Majah, 1598 dan dishahihkan al-Albani)

Doa yang dipanjatkan Ummu Salamah,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ – اَللَهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN – ALLAHUMMA’-JURNII FII MUSHIIBATII, WA AKHLIFLLII KHOIRAM MINHAA

Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku, dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik dari pada musibah ini.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Setiap muslim yang menerima musibah apapun, kemudian dia membaca doa ini maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik darinya. (HR. Muslim 918, Abu Daud 3119 dan yang lainny).

Tirulah Aisyah radhiyallahu ‘anha
Potret wanita penyabar yang perlu ditiru para mukminah sedunia adalah ummahatul mukminin, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berbeda dengan wanita pada umumnya. Jika suami mereka meninggal, setelah masa iddah, mereka bisa menikah lagi. Lain halnya para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah beliau meninggal, tidak boleh ada satupun yang menikah setelahnya. Mereka menjanda sampai mati.

Bisa Anda bayangkan, betapa lamanya mereka bisa hidup tanpa pendamping suami. Istri beliau termuda Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau berusia 18 tahun. Dari Urwah bin Zubair dari Aisyah, beliau menceritakan tentang suaminya,

مَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, ketika Aisyah berusia 18 tahun (HR. Muslim no. 1422)

Padahal Aisyah meninggal di usia 66 tahun. Itu artinya, selama 48 tahun, beliau menjanda. Namun meskipun demikian, tidak dinukil Aisyah berdoa agar sang suami tercinta dibangkitkan kembali.

Allahu a’lam

Sumber: konsultasisyariah.com