Akibat Da’i Tidak Memperbarui Ilmunya




Pendahuluan
Masih lekat dalam ingatan sewaktu bulan romadhon tahun 2016. Saya berangkat sholat tarawih di masjid Muhajirin. Alasan ke masjid ini karena karpetnya empuk, tempat parkir aman, muballigh atau da’i yang ceramah tarawih adalah doktor Fulan al-Magister.

Akan tetapi ditengah berlangsungnya beliau ceramah, entah kenapa isi ceramah tarawih dari tahun ke tahun begitu-begitu saja. Singkat kata, doktor Fulan kurang peka terhadap beberapa persoalan umat kala itu. Harga daging mahal, wafatnya Muhammad Ali, tutupnya toko buku Gunung Agung, Peredaran narkoba dan makin mendekat ke pondok pesantren.

Andai saya menjadi pengelola di masjid tersebut, da’i yang tidak memperbarui atau mengupdate ilmunya tidak akan saya undang lagi. Ceramah yang isinya hanya ubudiyah, tujuan puasa, dan bid’ah-bid’ah jelang romadhon bakal membuat para jamaah yang hadir di tarawih mengantuk.

Ini baru persoalan isi ceramah tarawih, belum ceramah sholat jumat dan perayaan hari besar Islam. Dimana sebagian besar isi ceramahnya sudah pakem. Contohnya Idul adha berkisar kisah penyembelihan Nabi Ismail AS, Isra’ mi’raj berisi perjalanan kilat Rasulullah saw.

Jika terus monoton, membuat jamaah mengobrol sendiri bahkan mengutak atik gawainya. Intinya jamaah sudah bosan dan butuh wawasan baru. Mereka tidak peduli dengan gelar S.HI, M.Ag maupun profesor sekalipun. Karena mereka hanya melihat subtansi ceramah.

Apakah normatif ataukah menyentuh permasalahan yang sedang mereka alami. Masalah penyampaian ceramahnya lucu seperti Kyai Anwar zahid atau berkobar-kobar seperti Bung Karno, menurut saya tergantung gaya masing-masing para da’i.

Teruslah Memperbarui Ilmu
Fenomena muballigh atau da’i yang tidak memperbarui ilmunya menimbulkan pertanyaan dalam fikiran saya. Mengapa mereka tidak memperbarui ilmu? Ada 3 hal penyebab seorang Da’i tidak memperbarui ilmunya : pertama, miskin bacaan (baca : literatur).

Apa jadinya bila dalam mensyi’arkan Islam seorang da’i itu miskin bacaan?. Akankah jamaah masjid mendapat pencerahan darinya?. Kedua, selain miskin bacaan, malas mengaji kepada berbagai guru.

Banyak memiliki guru, akan menentukan cara pandang terhadap sebuah persoalan. Ketiga, diperparah lagi ia jarang melakukan muhasabah atas keyakinan yang selama ini mengakar kuat di alam pikirannya.

Bila 3 hal itu terjadi kepada seorang da’i, maka kemungkinan ia menjelma menjadi pribadi yang fanatik dan kurang wawasan. Akibatnya ia akan gegabah saat ambil kesimpulan dan memberi stigma kepada golongan yang berbeda keyakinan dengannya. Sedikit-sedikit ia akan memaksakan penafsiran tunggal bahkan menganggapnya golongan lain menyimpang.

Lain halnya bila ia memiliki banyak bacaan dan berusaha menelaah ilmu dari berbagai guru, dosen, kiai dan Syeikh. Semakin luas bacaannya, akan semakin bijak dalam beragama. Bila miskin bacaan, seorang da’i hanya punya satu teori penafsiran terhadap doktrin keagamaan.

Misalnya, bila tak update info maupun hasil penelitian yang paling mutakhir, ia pasti meyakini nabi Isa masih hidup dan pada hari kiamat akan turun lagi ke bumi.

Ia pasti kaget dan menganggap sesat golongan lain yang memberi tahu teori atau penafsiran lain tentang status Nabi Isa AS yang sejatinya berkeluarga, poligami dan sudah wafat secara alamiah (bukan mati saat disalib).

Kemudian ia akan menganggap aneh pihak yang mengatakan Kan’an bukan anak kandung Nabi Nuh AS. Yang saya ambil contoh barusan tidak berdampak kepada prinsip-prinsip keimanan yang tercantum dalam Rukun iman dan takkan ditanyakan di alam Barzah.

Tidak mungkin orang mati ditanyai apakah Adam AS manusia pertama atau bukan. Begitu juga tidak akan ditanyai sampai tidaknya doa atau hadiah pahala kepada si mayit.

Semakin seorang da’i memperbanyak bacaan dan guru, maka takkan fanatik kepada bacaan maupun guru dari kelompok tertentu. Seseorang yang menggemari kitab-kitab ulama Saudi, terkadang ia akan merendahkan ulama Indonesia.

Dikatakan ulama lokal tak begitu dalam pengetahuan hadisnya. Begitu juga bila seseorang anti kepada ulama Saudi dan mengidolakan ulama asal Hadramaut. Maka ia takkan membaca pemikiran keagamaan/ijtihad dari ulama Saudi.

Dan boleh jadi menganggap ulama dari sana bertentangan dengan ajaran gurunya. Pernah saya dapati sebuah golongan, saking bencinya kepada PKI, mereka tak bisa berbuat adil kepada sosok Tan malaka.

Sekali lagi perbanyak Iqra’ dan teruslah memperbarui ilmu!. Janganlah kebencian terhadap suatu golongan membuat kita tidak adil dan terburu-buru ambil kesimpulan.

Wallahu’allam

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Penulis adalah alumni Pascasarjana UIN Malang
Whatsapp: 085330040043





Loading...
loading...
loading...