Agama: Di Tengah Komoditas Politik dan Bisnis

by

“Agama itu suci, tapi pengikutnya tidak”.

Saya jadi teringat film PK, dibintangi oleh Amir Khan. Sebuah film yang sangat inspiratif; tentang bagaimana dalam beragama, kita kadang lebih patuh pada kyainya, pendetanya, biksunya, atau yang lainnya daripada agama itu sendiri.

Film tersebut bahkan menjelaskan dengan satir, bahwa jangan-jangan proses keberagamaan kita dipenuhi “salah sambung” atau “wrong number”, karena apa yang kita lakukan, tidak langsung terhubung dengan Tuhan, masih melalui pengikut-pengikutNya yang lain.

Tentu ini hanya perspektif yang berbeda, tapi bahwa ia menjadi fenomena dan dijumpai dalam banyak Agama, tentu saja iya.

Ini memasuki bulan-bulan Pilkada. Kita akan menyaksikan dalam proses mencari dukungan, Agama diajak lesehan ke warung dan gang-gang sempit untuk ikut berkampanye. Mereka berteriak kencang atas nama Agama, atas nama Tuhan. Dan karena Agama, siapa yang berani berbeda? Berbeda adalah nista.

Maka, betapa dekatnya Agama dengan panggung politik, yang dengan sedikit intrik bisa meraup pengikut yang tidak sedikit. Fenomena ini kita temukan dimana-mana, di semua agama dan semua bangsa.

Begitu pula dengan Agama dan bisnis. Dimas Kanjeng Taat Pribadi, meraup bahkan mungkin triliunan rupiah dari para pengikutnya untuk dijadikan mahar. Setelah terungkap, dan beritanya setiap hari bisa dinikmati dari berbagai media, kita baru tahu, bahwa jualan ajaran agama adalah yang menguntungkan.

Tidak hanya itu; mari kita renungkan sebuah satir yang sangat manis, yang saya peroleh dari laman FB Kongkow Bareng Gusdur:

Mari kita coba hitung berapa omzet ketika kita berbisnis agama. Contohnya ESQ, dengan 1,5 juta alumni, dan masing-masing alumni minimal membayar 1 juta bahkan yang tingkat eksekutif bisa membayar 10 juta maka omzet ESQ itu minimal 1,5 trilyun. Maka tidak heran ESQ bisa membangun gedung pencakar langit sendiri menara ESQ, padahal isi ESQ itu cuma menangis berjamaah dan isinyapun meniru model Hell House nya Kristen Fundamentalis Amerika dibumbui tipuan pseudosains.

Lalu ada gereja Bethany, Mawar Sharon, dan banyak beberapa gereja kharismatik lain, anggotanya kebanyakan orang kaya dan menengah yang menyerahkan sepersepuluh dari gaji atau keuntungannya untuk pendetanya. Kalau punya 10 saja anggota pengusaha cina yang kaya, itu sudah sama dengan punya usaha sendiri, padahal anggotanya bisa puluhan ribu orang dan seperti kita tahu, gereja Bethany Surabaya saja omzetnya 4 trilyun lebih dan bisa membangun gereja besar layaknya stadion.

Belum termasuk gereja-gereja Bethany di kota-kota lain. Padahal isi gereja-gereja ini penuh kelucuan absurd misalnya bahasa roh orang meracau ga karuan yang dianggap datang dari roh kudus.

Lalu ada Yusuf Mansur yang menganjurkan orang untuk bersedekah kepadanya tanpa ada pertanggungjawaban keuangan sama sekali. Omzetnya pasti tidak kalah sama Dimas Kanjeng yang melampaui 1 trilyun. Kalau setingkat habib-habib yang suka istighosah itu omzet bisnisnya lebih kecil, jika sekali istighosah dihadiri setidaknya 2000 orang dan masing-masing nyumbang 20 ribu, maka dalam semalam bisa mengeruk 40 juta, jika bisa istighosah atau sholawatan sebulan 10 kali maka omzet habib ini mencapai 400 juta sebulan. Di agama Hindu pun banyak guru-guru beromzet trilyunan misalnya Sai Baba.

Satirnya: kalau mau kaya bisnislah agama. Ini bisnis aman karena customer tidak meminta uang kembali dan bahkan harus ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Produknya abstrak, intangible, dan mayoritas customer pasti puas. Dalam panggung politik pun begitu. Meski kita berkoar untuk tidak SARA, tapi negara demokrasi meniscayakan bolehnya berbagai pandangan.

Walhasil, Agama adalah motivasi paling sakral dalam hidup seseorang. Sekali dimainkan, hasilnya luar biasa menawan. Jangankan harta, nyawa pun akan dipertaruhkan.

Ditulis oleh:

Mustafa Afif
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, Madura. Aktif di Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Loading...
loading...
loading...