3 Langkah Mengatasi Rasa Malas




Bertambahnya usia kadang tak secara otomatis membuat seseorang terbebas dari hadirnya kemalasan dalam diri. Berbagai alasan, seringkali menjadi pembenaran atas kemalasan yang diacuhkan.

Namun, mengindahkan kemalasan sejatinya adalah bentuk kepandiran diri yang tentu harus selalu dijauhi.

Hebatnya, Islam telah memberikan panduan bagaimana kita bisa langgas dari sifat malas yang memang bisa mengancam siapa saja yang bernama manusia.

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas” (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian langkah pertama untukuk bisa luput dari sifat malas adalah berdoa.

Malas itu sangat mematikan. Ilustrasinya bisa dilihat dari manusia yang tidak mau bergerak, beraktivitas atau bekerja. Maka akal, hati dan fisiknya tidak akan berfungsi secara maksimal, sehingga mudah terserang penyakit, baik pada fisik, akal, mental bahkan hatinya.

Sementara itu, malas bisa datang kapan dan dimana saja kepada siapa saja. Oleh karena itu, berdoa adalah senjata ampuh untukuk terbebas dari sifat yang Rasulullah sangat jauhi ini.

Kedua, hilangkan kata ‘menunda’ dalam kamus diri. Seringkali untukuk kebaikan, manusia punya banyak alasan untukuk mentolerir diri, sehingga memilih untukuk menunda dalam melakukannya. Beberapa di antaranya, berani menunda meski telah menjadi komitmen hidupnya.

Pernah suatu ketika, seorang ayah merasa dirinya telah banyak melewati waktu tanpa menambah ilmu. Dalam pikirannya pun muncul rasa bersalah. Kemudian, ia pun berkomitmen untukuk bisa membaca buku setiap hari.

Apa yang terjadi, sehari dua hari, komitmen itu masih tertanam kuat dalam dirinya. Namun, hari ketiga dan selanjutnya, ayah yang bersemangat tadi kembali pada keadaan semula, melewati hari tanpa membaca buku. Ini mungkin juga sering dialami oleh pribadi lainnya.

Mengapa hal seperti itu jamak terjadi? Karena menunda belum dihapuskan dalam kamus diri, sehingga selalu ada pembenaran untukuk tidak bersegera.

Mengatasi hal semacam ini, kita hanya perlu segera bangkit kala diri hendak memilih penundaan, terutama terhadap apa yang telah kita wajibkan terhadap diri sendiri sebagai upaya meningkatkan kualitas diri.

Dalam konteks membaca setiap hari misalnya, jika ada waktu luang 10 menit, maka segerakan membaca dalam waktu 10 menit itu. Jangan tunda, apalagi berpikir 10 menit terlalu sedikit.

Sebab, tidak sedikit orang menunggu waktu sejam bahkan sehari untukuk membaca, kemudian kala waktu itu tiba, membaca pun tak pernah ia lakukan.

Di sini hebatnya Islam, memerintahkan kita untukuk bersegera dalam mendirikan sholat. Andai saja sholat sudah bisa tidak ditunda, insya Allah amalan positif lainnya akan mudah untukuk kita segerakan.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang sholeh lagi produktif. Sebagai makhluk sosial, setiap insan butuh teman dan lebih jauh lingkungan untukuk merdeka dari kemalasan.

Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Dawud).

Kawan karib di zaman sekarang bisa banyak bentuknya, tak hanya manusia. Televisi misalnya, ketika seseorang banyak menghabiskan waktu bersama televisi, malas pasti tak akan pernah mampu ia lawan. Demikian pula jika teman karibnya adalah orang yang kegemarannya hanya hura-hura dan foya-foya.

Tetapi, kala teman karibnya adalah orang yang sholeh lagi produktif, insya Allah akan tertular, termotivasi untukuk selanjutnya berinisiasi membebaskan diri dari kemalasan dengan kesadaran dirinya sendiri.

Bayangkan, orang yang malas makan saja bisa terserang penyakit, mulai dari penyakit yang sederhana sampai penyakit yang kompleks. Bagaimana kalau kita malas dalam amal sholeh, kebaikan dan pengingkatan kualitas diri?

Sumber: hidayatullah.com




Loading...
loading...
loading...